Keheranan saya selalu menjadi-jadi ketika saya mengajar di kampus saya sendiri dan kemudian saya live-kan di TikTok atau di Youtube. Sejumlah ratusan mahasiswa dari kampus lain menyerbu ke live saya dan menyimak dari awal sampai akhir.
Ada beberapa hal yang aneh dari fenomena ini:
- Mereka tidak berasal dari jurusan yang sama dengan saya. Saya mengajar utamanya mata kuliah yang berkaitan dengan bahasa Inggris dan linguistik sedangkan mahasiswa yang gabung ke live saya banyak yang berasal dari jurusan teknik, hukum, dll.
- Mereka sangat antusias dalam mengikuti kuliah tersebut dengan memberikan pertanyaan yang beragam di kolom komen.
- Banyak juga yang kirim-kirim salam pada beberapa mahasiswa saya yang mereka anggap “ikonik”.
- Yang agak parah, mereka sedang mengikuti kuliah di kampus mereka tapi malah ikut live di tempat saya. Untuk kasus yang ini, mereka saya minta kembali ke kelas mereka jika ketahuan oleh saya.
Saat saya tanya kepada mereka, mengapa mereka selalu getol mengunjungi live kuliah saya, mereka menjawab dengan variasi jawaban sebagai berikut: “kelas bapak beda”, “vibe bapak positif banget”, “kelas bapak inspiratif”, “saya belajar hal baru dari kelas bapak”, dan bahkan “Saya gabut Pak”. Apapun jawaban mereka, saya merasa tersanjung sekaligus miris.
Saya merasa tersanjung karena mereka datang dan menuntut ilmu di kelas saya dengan sukarela dan secara aktif mengikuti kelas tersebut padahal mereka berasal dari jurusan dan kampus lain. Sepertinya tanpa perlu dikoordinasikan, saya sudah melaksanakan Merdeka Belajar secara otomatis. Tapi di sisi lain saya merasa miris, ada indikasi bahwa mereka sudah kehilangan drive untuk belajar di kampus mereka masing-masing. Apa yang menyebabkan mereka harus mencari-cari “kelas yang beda” dari kelas mereka sehari-hari. Apa yang membuat kelas saya berbeda?
Setelah 16 tahun saya mengajar, tentu saya sudah melalui beberapa fase. Di dalam fase-fase tersebut saya mengalami evolusi dalam pembelajaran. Dulunya saya tentu mementingkan transfer of skill dan transfer of knowledge. Saya mentargetkan pengetahuan dan skill yang selalu saya tes ulang dan jika belum baik hasilnya akan saya ajarkan lagi dan tes kembali. Semua materi yang ada di kurikulum harus habis diajarkan. Kalau tidak habis maka akan saya adakan kelas tambahan.
Secara bertahap saya mulai menyadari bahwa metode itu sangat tidak inspiratif dan tidak memberikan dampak kepada mahasiswa saya. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengetahuan dan ketrampilan. Mereka ingin diberikan alasan dan ideologi. Mereka ingin dimotivasi. Mereka ingin dibantu mengambil keputusan dalam hidup. Mereka ingin kita menjadi coach mereka. Kalau hanya pengetahuan dan skill teknis, mereka bisa dapat di internet. Mereka ingin sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh internet. Mereka membutuhkan kemanusiaan yang diajarkan oleh manusia.
Mungkin itulah yang membuat kelas saya berbeda. Saya menerapkan teknik coaching dalam kelas saya. Teknik coaching membuat saya harus mendengarkan dahulu apa yang mereka inginkan dari kelas saya. Teknik coaching membuat saya harus menyiapkan action plan untuk pertumbuhan hidup mereka. Teknik coaching membuat saya memastikan bahwa mereka memiliki motivasi yang cukup kuat untuk melanjutkan pembelajaran.
Saya akan membahas secara detail bagaimana melakukan coaching dan mengimplementasikannya di dalam kelas. Selalu ikuti blog ini untuk mendapatkan insight terbaru dari saya. Untuk para siswa dan mahasiswa, kalian harus speak up kepada guru atau dosen kalian jika dirasa ada pembelajaran yang tidak efektif dan membosankan. Bicarakan dengan mereka solusinya. Untuk para pengajar, saya berpesan untuk selalu cek atensi siswa. Siapa tahu mereka malah ikut live saya. Hehehe. Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya.

Tinggalkan komentar