Salah satu hal yang saya sadari sebagai seorang pengajar adalah ternyata saya tidak akan bisa membuat murid atau mahasiswa menjadi pandai. Pada kenyataannya, kita hanya bisa membantu mereka belajar. Kita juga bisa menginspirasi mereka untuk belajar. Kita bisa membantu mereka untuk menyukai belajar. Tapi jangan sampai sekalipun, kita berpikir bahwa kita bisa membuat mereka pintar.
Hanya karena kita sering berceramah di depan kelas atau karena kita sering berbicara paling lama di Zoom atau Google Meet, jangan sampai kita berkesimpulan bahwa mereka pandai karena kita. Kita hanya bisa menjadi salah satu sumber informasi bagi mereka. Kita juga bisa mencontohkan metode belajar yang sesauai. Kita juga bisa mempraktikkan hal-hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tapi jangan sekali-sekali kita berpikir bahwa kita telah berhasil membuat mereka mahir.
Keinginan pengajar untuk diakui jasanya merupakan suatu fenomena yang wajar. Tapi pengakuan jasa ini hanya kita inginkan saat peserta didik berhasil berprestasi atau mencapai penguasaan materi tertentu. Ketika peserta didik mengalami kegagalan, maka kita sebagai pengajar seringnya malah cuci tangan dan berbalik menyalahkan murid itu.
Aneh kan? Jika siswa berhasil mencapai keberhasilan, maka pengajar turut berbangga dan mengatakan bahwa itu adalah hasil didikan dia. Tapi jiika siswa gagal, maka pengajar mengatakan bahwa itu adalah salah murid yang bebal dan tidak memperhatikan instruksi.
Maka sebaiknya kita akui saja bahwa sebenarnya berhasil dan gagalnya seorang siswa itu adalah kontribusi pengajar seluruhnya atau kesalahan murid saja. Janganlah tidak adil dan mengakui separuh-separuh. Mengakui jasa atas keberhasilan tapi lari dari tanggung jawab kegagalan siswa.
Agar kita bisa lebih adil terhadap diri kita sebagai pengajar dan adil kepada siswa kita, maka berlakukan kondisi-kondisi berikut pada sikap mental kita.
- Guru adalah sumber pengetahuan, tapi bukan satu-satunya.
- Guru menghadirkan kesempatan terbaik untuk siswa belajar, tapi tidak selamanya kesempatan itu menghasilkan luaran yang terbaik.
- Guru boleh salah, sehingga tidak boleh kejam terhadap siswa yang salah.
- Guru adalah manusia, siswa juga manusia.
- Guru punya masalah, sehingga wajib mengerti bahwa siswa juga memiliki masalah.
- Guru memiliki kurikulum yang seragam dan terstandar, tapi sadarilah setiap siswa memiliki keunikan individual.
Semoga dengan memahami 6 kondisi tersebut, kita bisa menjadi pengajar yang bijak. Kita hanyalah alat untuk siswa memaksimalkan potensinya. Kita, para pengajar, tidak menjadikan pintar. Kita hanya menyediakan kesempatan untuk mereka jadi pintar.

Tinggalkan komentar