Kesantunan Sepihak antara Dosen dan Mahasiswa

Saya sering membaca komen berikut di media sosial saya. “Pak kenapa mahasiswa wajib sopan ke dosen tapi dosen kok tidak ada kesantunan sama sekali ke mahasiswa” Saya sering tertawa membaca komentar tersebut. Karena saya sendiri adalah seorang peneliti pragmatik yang menyadari bahwa ada kuasa yang timpang di setiap interaksi. Sebenarnya, tidak hanya antara dosen dan mahasiswa. Dosen senior dan junior pun memiliki kuasa yang timpang. Maka kendala yang sama juga muncul. Tapi bagaimana saya harus menjelaskan fenomena ketimpangan kuasa ini kepada mahasiswa.

Mahasiswa kita memiliki generational gap yang begitu jomplang dengan para dosennya. Nilai kesantunan yang dijunjung juga berbeda. Mahasiswa hidup di dunia teknologi digital yang serba instan. Ingin makan ya tinggal makan. Jika tidak ada makanan ya tinggal buka aplikasi ojek online. Mahasiswa zaman sekarang kebanyakan dimanja oleh orang tuanya. Orang tua yang menggampar atau berbicara kasar pada anaknya, bisa saja dilaporkan polisi oleh anaknya sendiri. Di sisi lain, dosen-dosen berasal dari dunia yang berbeda. Dosen-dosen pun tidak seragam. Ada dosen yang berasal dari zaman yang membolehkan tamparan pada anak yang tidak sopan. Ada dosen yang berasal dari zaman yang tidak membolehkan mereka makan sebelum semua orang tua makan. Ada dosen yang berasal dari era Nilai A adalah untuk Tuhan, B untuk Dosen dan C baru cocok untuk mahasiswa.

Kalau mahasiswa dan dosennya tidak mau bertemu di tengah, maka standar kesantunan mereka yang terlalu berbeda itu, akan menjadi bencana bagi mereka. Mahasiswa menjadi frustrasi karena mereka merasa tidak diperhatikan oleh dosen mereka. Dosen di mata mahasiswa terkesan cuek dan dingin karena jarang membalas WA dan jikapun membalas paling hanya 1 atau 2 kata. Dosen juga merasa frustasi karena mahasiswa seperti memaksakan kehendak dan menghubungi tanpa tahu etika.

Saya kira ini sudah saat ada kesadaran dari dua belah pihak untuk saling mengalah. Mahasiswa harus mau proaktif mencari tahu “bahasa dan etika yang sopan” dalam menghubungi dosen. Di pihak lain, dosen juga harus tahu bahwa zaman sudah berubah. Dosen harus memahami bahwa di dalam bahasa ugal-ugalan mahasiswa itu sebenarnya mereka sudah berusaha sopan. Jika dosen berkenan mengabaikan kejanggalan itu, maka jawab saja pertanyaan mahasiswa sesuai relevansinya. Jika dosen tidak berkenan dengan ketidaksopanan, maka ajari mahasiswa kesopanan yang diharapkan oleh dosennya. Intinya adalah komunikasi dan saling mengalah.

Tinggalkan komentar