Mempelajari pengetahuan atau skill baru itu sangat menyebalkan. Kita dipaksa menjadi orang bodoh lagi. Kita kemudian merasa susah payah dalam memasukkan hal-hal asing ke dalam memori otak dan memori motorik kita. Kita yang sudah terbiasa dianggap ahli di bidang tertentu, kemudian terlihat bodoh dalam bidang baru yang sedang kita pelajari ini.
Mungkin itulah alasan kenapa saat kita beranjak semakin dewasa (menua), maka keahlian baru atau pengetahuan baru yang kita pelajari semakin sedikit. Dulu, ketika kita masih kecil atau menginjak remaja, kita tidak pernah memikirkan gengsi. Belajar ya belajar aja. Kelihatan bodoh adalah hal yang bisa kita tanggung. Tapi ketika semakin dewasa, kita semakin menghindari situasi-situasi yang berisiko untuk membuat kita malu.
Pemikiran semacam ini yang membuat kita tidak berkembang. Bapak saya yang berumur 60 tahun saja masih mau belajar komputer. Dulunya beliau tidak membutuhkan komputer tapi kemudian beliau bergabung di sebuah koperasi yang membutuhkan keahlian komputer. Beliau dengan semangat belajar komputer walaupun kelihatan jika beliau sangat kaku memegang mouse dan mengetik di keyboard. Toh, tetap saja beliau lakukan. Saya pun juga tidak lupa menggoda beliau, tapi beliau tidak gengsi tetap saja lanjut belajar. Akhirnya sekarang beliau sudah bisa membuat report sendiri (walaupun formatnya masih acak-acakan hehehehe).
Kadang kita yang masih lebih muda dari beliau, malah kadang batal mempelajari sesuatu hanyab gara-gara malu. Saya belajar tenis dari nol pada tahun 2017. Pada pertemuan pertama saya les tenis, teman saya lewat dan menggoda saya dengan guyonan sarkas. “Seperti nonton sejarah pertama kali tenis ditemukan manusia purba”. Saya langsung kena mental dan tidak melanjutkan les saya. Pada tahun 2019 saya kepikiran lagi. Masa iya, saya berhenti belajar hanya gara-gara ejekan orang. Lagipula yang mengejek kan hanya bercanda. Saya lanjutkan les tenis hampir setiap hari memukul 200 bola. Tahun 2020 saya sudah mulai ikut turnamen amatiran dan memenangkan beberapa tropi (walaupun yang lebih berjasa adalah pasangan main saya). Intinya, kalau saya tidak memutuskan untuk menghadapi rasa malu dan malas, maka saya tidak akan sampai di titik menguasai hal baru.
Saya harap rekan-rekan juga menyadari hal itu. Belajar hal baru memang menyebalkan. Tapi perlu. Belajar hal baru memang menyakitkan. Tapi penting.
Peningkatan keahlian biasanya berjalan sangat lambat. Misal kita belajar public speaking, kita tidak akan melihat perubahan apapun dalam waktu satu minggu pelatihan. Tapi jika kita pelatihan satu minggu, kemudian kita praktikkan ilmunya dalam waktu satu bulan. Kemudian kita pelatihan lagi di level selanjutnya selama tiga hari, kemudian dipraktikkan selama 2 bulan. Kemudian kita lakukan itu secara konsisten maka dalam 1 tahun akan terjadi perbedaan yang signifikan. Yang awalnya tangan gemeteran pegang microphone, pada satu tahun kemudian bisa melakukan interaksi komunikatif dengan audiense. Langkah yang sama dilakukan 2 tahun maka akan terjadi perubahan yang dramatis. Anda bisa membuat audiens tertawa terkekeh-kekeh atau menangis tersedu saat anda inginkan.
Belajar skill baru, menyebalkan di awal-awal proses tapi kemudian sangat memuaskan hasilnya jika kita mampu melaksanakannya secara konsisten. Selamat belajar hal baru kawan.

Tinggalkan komentar