Sulitnya Memenuhi Deadline dari Diri Sendiri

Halo, orang-orang baik. Apa kabar?

Semakin dewasa, semakin banyak deadline yang berasal dari orang lain yang harus kita selesaikan. Misalnya, kewajiban membayar pajak, kewajiban menyelesaikan tugas kantor atau tugas kuliah, kewajiban menyelesaikan pesanan klien, dsb. Entah mengapa saya selalu melihat kecenderungan sebagai berikut. Kita sebagai manusia, selalu mampu menyelesaikan deadline yang diberikan oleh orang lain, daripada menyelesaikan deadline yang diberikan oleh diri kita sendiri. Jika pengamatan ini terdengar absurd, maka saya akan berikan beberapa ilustrasi.

Ketika kita mendapatkan tugas dari bos misalnya untuk menyelesaikan sebuah project proposal atau project report dan tenggatnya adalah minggu depan, maka biasanya kita bisa mengumpulkan tepat waktu. Jikapun telat, paling telatnya juga masih masuk akal. Misal kita mendapat tugas dari dosen untuk menyelesaikan tugas kuliah untuk dikumpulkan dua hari lagi, biasanya kita juga bisa menyelesaikan dengan tepat waktu. Lagi-lagi, jikapun telat paling telat beberapa jam. Itulah fenomena yang kerap saya amati dan bahkan saya alami sendiri.

Nah, sekarang coba bandingkan dengan tabiat kita ketika kita mendapatkan deadline yang kita berikan pada diri kita sendiri. Misal kita memberikan deadline untuk berangkat ke Gym 4 kali seminggu. Waduh, boro-boro 4 kali. Bisa berangkat sekali seminggu saja sudah termasuk rajin. Coba kita memberi deadline ke diri kita untuk kontrol ke dokter gigi karena salah satu gigi kita sudah nyut-nyutan. Mungkin ini bisa tertunda seminggu, sebulan bahkan satu tahun. Misal kita berniat untuk ikut kursus MC, mungkin kita ingin melakukannya bulan depan. Kenyataannya kita akan ikut kursus itu tahun depan atau bahkan lupa sama sekali dengan niatan kita itu.

Betapa mudahnya kita menuruti target dari orang lain dan betapa mudahnya kita mengabaikan deadline dari diri kita sendiri. Hal itu terus saja terjadi dan hingga pada akhirnya kita menyadari bahwa: kita selalu menguntungkan urusan orang lain tapi kita selalu menunda keuntungan bagi diri kita sendiri. Semakin lama menunda gym, semakin tidak fit tubuh kita. Semakin lama kita menunda ke dokter gigi, semakin besar lubang di gigi kita. Semakin lama kita menunda latihan MC, semakin banyak opportunity cost yang kita keluarkan karena potensi job yang kita lewatkan.

Ada beberapa saran dari saya agar kita tidak selalu melewatkan deadline dari diri kita sendiri.

  1. Buat calendar untuk rencana yang kita buat; seremeh apapun target itu.
  2. Buat game/challenge untuk diri kita sendiri. Semakin banyak checklist yang kita selesaikan dari jadwal kita, semakin banyak self-reward yang bisa kita berikan ke diri kita.
  3. Jika ada waktu luang tercipta sedikit saja, manfaatkan untuk target-target yang udah terlewat. Ada waktu 15 menit gunakan untuk push up. Ada waktu 30 menit, gunakan untuk mengetik.
  4. Nikmati segala bentuk kerja keras yang telah kita rancang untuk diri kita sendiri. Rasakan sensasi menjadi pahlawan dalam kehidupan kita sendiri.
  5. Adopsi kebiasaan apapun yang membuat diri kita semangat. Saya memiliki kebiasaan untuk memvisualisasikan hal yang menggembirakan yang akan capai di masa depan dengan bermodal kerja keras yang saya lakukan sekarang. Kalian bisa mendesain habit kalian sendiri. (Baca Buku: Atomic Habit)

Kita sering bisa jadi anak buah yang baik bagi orang lain. Kita juga sering bisa jadi bos yang baik bagi orang lain. Tapi paling sering, kita menjadi bos yang buruk bagi diri kita sendiri. Kita sering memberikan deadline untuk diri kita sendiri, dan akhirnya kita langgar atau kita lupakan sendiri. Tidak heran jika sukses kita selalu tertunda. Mari kita ubah kebiasaan ini menjadi kebiasaan yang lebih baik.

Oh iya, sebelum lupa. Ejaannya deadline ya, bukan dateline. Siapa tahu masih ada yang salah 🙂

Salam hangat, Hendi Pratama.

Tinggalkan komentar