Kita selalu diajarkan untuk berpikir out of the box. Artinya, kita sering diminta untuk berpikir kreatif dan inovatif agar bisa menjadi orang yang sukses sebagai individu maupun sebagai team. Tapi untuk bisa berpikir out of the box maka kita juga harus tahu bagaimana status box kita. Secara sederhana, untuk bisa berpikir secara out of the box kita juga tahu caranya berpikir inside of the box.
Jika kita ingin menjadi pengajar yang hebat dan inovatif, maka kita juga harus tahu dulu dasar-dasar mengajar yang konvensional. Bagaimana kita tahu caranya jadi pengajar inovatif kalau kita sendiri tidak mengerti pengajaran konvensional. Pengajaran konvensional, seberapapun kunonya, pasti memiliki kelebihan tersendiri karena sudah bertahan selama ratusan tahun. Jika ingin menjadi pencipta konten yang inovatif, kita juga harus tahu bagaimana caranya menjadi pencipta konten yang “standard”. Paling tidak kita harus tahu cara menyusun story board, editing audio dan visual, dan membuat ajakan call to action. Setelah itu baru kita menggebrak penciptaan konten dengan daya cipta yang menggelegar dan membuat orang menganga-nganga.
Kita ibaratkan kita membeli sebuah smartphone yang memiliki apps yang inovatif dan out of the box. Kita ingin punya aplikasi yang mampu menggambar denah di tanah kosong yang ada di depan mata kita. Dengan apps itu kita tinggal memfoto tanah atau bangunan tua di depan mata, kemudian diubah menjadi denah yang bisa diedit, Luar biasa bukan? Dan kenyataannya memang dengan HP yang memiliki LIDAR, apps yang demikian sudah tersedia di lapangan. Tapi lagi-lagi kita harus back to basic. Sebelum kita bisa menginstall aplikasi sekeren itu, kita harus punya HP dengan settingan bawaan pabrik. Tanpa ada OS (operatin system) bawaan pabrik, aplikasi seinovatif apapun tidak akan bisa digunakan.
Jadi saya sedang mengkritisi orang-orang yang terburu-buru membuat inovasi out of the box tapi sering lupa menguatkan kemampuan inside of the box nya. Basic skill nya masih belepotan. Logika dasarnya masih empot-empotan. Tapi terburu nafsu untuk membuat gebrakan. Banyak orang seperti itu di luar sana, termasuk saya sendiri. Jadi artikel ini sekaligus menjadi auto-kritik bagi saya sendiri.
Intinya saya hendak menyampaikan bahwa memang berpikir out of the box itu penting tapi kita tidak bisa meninggalkan basic skill yang perlu dikuasai sebagai prasyarat. Banyak orang yang menghardik sistem hafalan di kelas, dan mengagungkan HOTS (High Order Thinking Skills). Tapi perlu diingat bahwa HOTS dan LOTS merupakan sebuah susunan piramid. HOTS tidak bisa berdiri sendiri tanpa LOTS. Jika sebuah piramid dibangun puncaknya saja dan tidak pernah dibangun alasnya, maka yang ada adalah piramid mini yang sama sekali tidak memukau.
So think out of the box and do not forget to think inside of the box too. Jika artikel ini memberikan sudut pandang baru untuk anda silakan klik ikuti, atau masukkan email anda, serta tinggalkan komen. Komen anda, walaupun singkat sangat berarti bagi semangat saya menulis konten.
Salam
Hendi Pratama

Tinggalkan komentar