Kamu tidak bisa fokus? Bukan salahmu.

Saya baru saja menyelesaikan satu buku yang baru saya beli. Judulnya adalah Hyperfocus dan ditulis oleh Chris Bailey, seorang ahli produktivitas. Saya tertarik membaca buku ini karena akhir-akhir ini saya merasa kurang produktif dan kurang fokus. Banyak waktu yang cukup luang tapi belum termanfaatkan secara baik. Saat saya melihat cover buku ini di bandara saya langsung membeli tanpa berpikir dua kali. Ternyata memang, tidak mengecewakan.

Langsung saja pada inti dari buku ini ya. Tapi sebelum saya menceritakan inti dari buku ini, perlu diingat bahwa ringkasan seperti ini tidak akan memberikan pencerahan layaknya kalian baca sendiri buku tersebut. Artinya jangan suka berpuas diri saat membaca resensi atau sinopsis buku. Pengalaman membaca buku lebih seperti pengalaman menonton film. Walaupun sudah melihat trailer, ringkasan atau review film, tetap saja kita harus menonton sendiri film tersebut. Berlaku juga untuk sebuah buku.

Dalam buku Hyperfocus, Chris menceritakan bahwa sesungguhnya banyak orang menyalahkan keterbatasan waktu dalam hidup mereka. Mereka merasa menjadi tidak produktif karena mereka tidak punya waktu. Tapi kan nyatanya semua orang punya 24 jam yang sama. Jadi jika ada orang yang produktif dan tidak produktif tentu bukan karena waktunya yang beda. Chris kemudian memberikan hipotesis bahwa sesungguhnya orang yang lebih produktif adalah orang yang bisa fokus terhadap suatu pekerjaan lebih lama dari pada orang lain. Kita juga diingatkan bahwa orang yang kelihatannya sibuk, di depan komputer atau rapat berjam-jam, bisa dikatakan produktif. Karena jika dalam jam-jam tersebut pikiran mereka kemana-mana dan teralihkan maka tidak akan ada karya atau output yang dihasilkan.

Mengurangi atau menghindari distraksi

Otak selalu mencari stimulus atau rekreasi. Ini adalah reaksi alami otak. Tapi masalahnya banyak pekerjaan produktivitas yang bersifat “agak” monoton. Menulis skripsi kalah menarik dengan membuka instagram. Menyelesaikan report di kantor kalah dengan scrolling TikTok. Sekuat apapun kita mencoba, otak kita pasti kalah. Maka pada mode produktif, Chris menyarankan untuk menjauhkan diri kita dari HP saat bekerja. Atau minimal kita nyalakan mode pesawat. Saat kita bekerja menggunakan laptop, matikan internet. Agak ekstrim memang, tapi sebenarnya masuk akal. Chris menunjukkan data bahwa saat internet menyala dan notifikasi ada di mana-mana, maka 90% waktu kita akan kita gunakan untuk memeriksa notofikasi tersebut.

Kita hanya bisa fokus selama 40 detik

Otak manusia ternyata memang tidak didesain untuk fokus terlalu lama. Setelah 40 detik melakukan suatu hal yang “monoton” maka otak otomatis akan mencari alternatif kegiatan lain. Untuk melatih otak agar mampu fokus lebih dari 40 detik perlu ada latihan khusus. Kita harus mengeset timer. Misal mengetik 5 menit dan break 5 menit. Kita perlu alarm khusus. Kemudian kita tambah waktunya, mengetik 10 menit dan break 5 menit. Kita harus disiplin dalam durasi fokus kita. Jadi jangan salahkan diri anda ketika baru mengetik 40 detik tiba-tiba otak memikirkan tentang rencana nongkrong bersama teman-teman kemudian tanpa alasan yang jelas mulai membuka video Youtube kucing main piano. Untuk keluar dari lingkaran setan itu, anda perlu latihan keras.

Energi untuk fokus terbatas setiap harinya

Otak kita ternyata boros bahan bakar. Jika digunakan untuk fokus dan berpikir keras akan mudah lelah dan letih. Jadi di pagi hari saat bangun tidur, kita hanya dibekali satu ember energi untuk fokus. Jika sebelum makan siang, kita sudah diminta untuk berpikir yang berat-berat. Atau mungkin, kita memikirkan hal-hal ringan tapi dalam waktu yang bersamaan maka energi ini akan habis sebelum sore. Saat malam hari kita tinggal letihnya saja. Chris menawarkan dua cara untuk bisa memanfaatkan energi ini secara maksimal. Yang pertama adalah dengan memilih secara bijak, pekerjaan mana yang akan kita fokuskan hari itu atau jam itu. Cara yang kedua yaitu dengan menggunakan kafein secara strategis. Saya senang sekali dengan anjuran kedua, karena saya suka kopi. Kalian yang tidak suka kopi masih ada alternatif minum teh. Karena teh juga mengandung kafein.

Sebenarnya masih banyak tips and triks agar kita tetap bisa hiperfokus ala Chris Bailey. Tapi ya seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, saya tidak mungkin menyampaikan isi buku 200 halaman dalam satu artikel. Saya menulis artikel ini untuk mengingatkan teman-teman agar menyadari bahwa fokus pada suatu kegiatan tertentu bukan hal mudah. Untuk bisa fokus ternyata butuh effort. Jika teman-teman ingin tahu lebih lanjut maka saya sarankan membaca buku ini selengkapnya.

Salam transformasi pendidikan, Hendi Pratama.

Tinggalkan komentar