Kemarin saya sempat mengunggah video cerita singkat tentang pertemuan pertama saya dan istri saya di sebuah seminar. Pertemuan itu terjadi 15 tahun yang lalu. Di video itu saya bercerita bahwa saat itu saya berkenalan dengan salah satu peserta seminar dengan cara pura-pura meminjam hand sanitizer. Trik itu berhasil dan saya mendapatkan nomor telpon si dia. Lima bulan setelah kejadian itu kami menikah. Sampai sekarang.
Kemudian salah satu netizen berpendapat di kolom komentar, “Enak ya, kan Bapak udah dosen S3 jadi pede deketin cewek” Nah, menurut saya komentar ini terlalu menggelitik karena pada kenyataannya saat itu saya masih menjadi guru honorer bergaji 450 ribu. Gelar saya masih S.Pd. dan belum memiliki pekerjaan yang mapan. Tapi kemudian beratus-ratus komentar di video itu menggiring opini bahwa ada beberapa “kejanggalan”. Saya di sini bermaksud untuk mengklarifikasi tiga kejanggalan utama.
Kejanggalan 1: Kalau memang jadi guru honorer gaji 450 ribu, kenapa berani ngelamar anak orang?
Sebenarnya gaji guru honorer itu kan memang segitu. Tapi ketika jam kosong saya juga nyambi ngajar di SMP Swasta. Setelah jam sekolah saya juga memberikan les privat bahasa Inggris dari jam 3 sore sampai jam 9 malam. Intinya kerja keras bagai kuda. Jadi walaupun gaji saya 450 ribu, ternyata pemasukan total saya lebih dari itu. Jadi kalau sekadar membayar biaya kos, makan dan uang bensin masih bisa lah, pikir saya waktu itu.
Kejanggalan 2: Bagaimana guru honorer bisa menjadi dosen?
Kalau ini ceritanya cukup panjang lah ya. Tahun 2006 akhir saya lulus S1 dengan gelar S.Pd. Saya langsung daftar guru honorer di sekolah saya sendiri SMK N 7 Semarang plus saya menjadi guru les dan hampir setiap hari ada job. Bulan April 2007 saya menikah dan ngekos bersama istri. Bulan Agustus 2007 saya mulai ngelesin Bahasa Inggris di perusahaan-perusahaan BUMN dan Swasta. Kehidupan agak membaik. Saya mulai mengumpulkan uang untuk test IELTS dan mendaftar beasiswa S2 di luar negeri. Antara Agustus 2007 sampai Juli 2008 pemasukan saya mencapai belasan juta per bulan, karena ngelesin perusahaan-perusahaan tadi. Saya juga merekrut beberapa teman untuk bantuin saya ngajar dan kami bagi hasil.
Pemasukan saya yang belasan juta itu saya gunakan untuk mencicil rumah kecil dan saya beranikan untuk mencicil mobil tua untuk transportasi. Selain mengajar saya juga kerja penerjemah dan MC bahasa Inggris. Selama 2007 dan 2008 saya ditolak 7 kali oleh penyedia beasiswa. Saya terus berjuang dan hampir putus asa. Namun akhirnya dapat beasiswa S2 ke Australia dari Dirjen Dikti Kemdikbud. Pada Agustus 2008 saya berangkat ke Australia. Pada Desember 2008, istri menyelesaikan D3 nya dan menyusul ke Australia. Dia membeli tiket dengan cara menjual mobil tua kami tadi. Rumah tetap dipertahankan dengan membayar cicilan dari jarak jauh. Desember 2009 saya menyelesaikan pendidikan S2. Awal 2010 belum ada lowongan dosen, saya membuka kursusan IELTS di salah satu ruko di Semarang dengan modal tabungan dolar yang didapat di Australia. Agustus 2010 ada lowongan dosen PNS dan saya diterima. Tidak ada yang ajaib, begitulah awal saya menjadi dosen. Bisnis kursusan saya tinggal karena manajemen waktunya sulit.
Kejanggalan 3: Kenapa istri mau dinikahi di usia 19 tahun, dan calon yang melamar berstatus guru honorer?
Kalau ini yang bisa menjawab istri saya ya. Waktu itu saya ingat dia berkata begini “Saya bisa memilih orang yang udah sukses atau memilih orang yang berpotensi sukses, nah kamu kayaknya berpotensi sukses” Dia juga pernah bilang begini “Di antara cowok yang kaya, pintar dan good looking, saya lebih mengutamakan kepintaran” Dia melanjutkan “Cowok pinter kalau bener-bener pinter bakalan bisa mikirin caranya jadi kaya dan glow up”
Atau mungkin statement-statement itu hanya omong kosong belaka. Siapa tahu kami saling jatuh cinta dan kami nekat saja melaju ke jenjang pernikahan. Saat itu, kami juga tidak terlalu banyak pilihan. Namanya orang tidak punya banyak pilihan, ya ambil saja apa yang ada di depan mata.
Nah begitu ceritanya guys. Tidak ada yang aneh kan dengan transisi dari guru honorer ke pria menikah; kemudian dari pria menikah ke proses menjadi dosen. Semoga klarifikasi ini bisa meringankan kegundahan para netizen yang mengira saya menceritakan kisah fiktif.

Tinggalkan komentar