Mungkin kalimat di atas susah untuk dipahami ataupun dicerna. Saya juga berpikir begitu. Tapi saya jadi paham kalimat ini dari penjelasan salah satu orang terpandai di dunia yaitu Prof. Jordan Peterson. Tokoh ini adalah tokoh liberal klasik yang seharusnya tidak cocok dengan aliran saya yang liberal progresif. Tapi karena emang Prof. Peterson ini pembawaannya asik, alur pikirnya jernih, bicaranya terarah dan terukur, pakaiannya selalu rapi, bukunya best-seller dan sering muncul di TV maka saya jadi ngefans sama beliau.
Kembali pada kalimat “Jangan jadikan kebahagiaan sebagai tujuan tapi jadikanlah sebagai alat”, kita harus paham bahwa banyak film Hollywood, Bollywood, dan Drakor yang mengajak kita untuk melakukan pengejaran kebahagiaan atau pursuit of happiness. Kalau di Amerika, frasa pursuit of happiness malah termaktub dalam Undang-Undang mereka. Masalahnya gini, kata Prof Peterson, menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup malah menjadikan manusia selalu kecewa. Kehidupan ini berat dan cobaan besar sering datang. Harapan yang tidak realistis malah akan memperberat perjalanan hidup itu sendiri.
Kebahagiaan itu adalah emosi yang muncul di otak kita ketika tidak ada masalah yang mengancam. Kebahagiaan juga muncul di otak ketika kita mendapat stimulus positif seperti seks, belanja, menang lomba, main game, nonton film atau hal-hal lain yang berbau keberlimpahan. Ketika jiwa atau raga kita terancam kita akan merasakan ketakutan. Kalau kita terancam secara status sosial maka kita akan merasa malu. Kalau kita melihat milik kita diambil orang lain makan akan ada rasa cemburu. kalau kita melihat orang lain terlalu berlimpah dan kita merasa kekurangan maka kita akan merasa iri.
Jadi bisa kita simpulkan bahwa rasa bahagia, sedih, iri, takut, marah, cemburu dll. adalah sensor-sensor di otak kita untuk memaknai keadaan di sekitar kita. Jadi kebahagiaan itu alat, bukan tujuan. Bagi orang-orang yang ingin meraih mimpinya, maka mereka akan menggunakan kebahagiaan sebagai bahan bakar untuk meraih mimpi itu. Dengan kondisi kebahagiaan yang stabil maka kita menjadi memiliki energi untuk meraih mimpi-mimpi kita.
Kalau kita tidak menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan kita, terus apa donk yang jadi tujuan hidup kita sebagai manusia. Prof. Peterson memberikan alternatif berupa target kemuliaan. Para ahli lain memberikan alternatif berupa mendengarkan panggilan hidup kalian. Intinya, tujuan hidup kalian ditentukan oleh kalian sendiri. Ada buku Simon Sinek yang berjudul “Start with Why” dan Evan Charmichael “Built to Serve” yang khusus membahas tentang bagaimana merumuskan panggilan hidup. Kalau kalian lagi senggang atau kurang kerjaan, saya sarankan segera membaca kedua buku tersebut. Kalau malas baca, silakan tonton video-video Prof Jordan Peterson. Pasti pikiran kita bakalan lebih cerah.
Itulah tadi corat-coret saya tentang interpretasi “kebahagiaan itu alat bukan tujuan”. Menurut kalian gimana celoteh saya kali ini? Kalau ada masukan atau saran boleh tulis di komen.

Tinggalkan komentar