Sudah banyak yang tahu kalau dulu saya menikah pada usia yang relatif muda. Saya menikah umur 21 tahun dan istri saya kala itu berumur 19 tahun. Saya waktu itu baru saja lulus S1 dengan gelar S.Pd. dan bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMK Negeri di Semarang. Istri saya saat itu masih menjalani studinya di semester 3.
Bagaimana kami bertemu?
Saya dulu adalah aktivis debat kampus. Saya ketua UKM debat dan kemudian menjadi pelatih debat bagi adik-adik kelas saya. Ketika saya baru saja lulus, adik-adik kelas mengadakan pelatihan debat tahunan. Pelatihan itu memiliki beberapa tujuan: merekrut anggota baru, menambah kas dan memperkenalkan UKM debat kampus saya kepada publik. Sesuai dengan tujuan ketiga, maka peserta dari luar kampus juga diundang. Kebetulan saat itu saya diminta adik-adik untuk menjadi narasumber.
Singkat cerita, saya sudah mulai berbicara di depan untuk menjelaskan tentang keuntungan mengikuti debat. Di presentasi saya disebutkan bahwa belajar debat bisa membawa kita mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri. Saat saya menyebut kata luar negeri, tampak salah satu peserta perempuan yang tampak sangat excited. Saya langsung tertarik karena memang penampilannya cukup berbeda. Cukup cantik menurut saya. Ya, apa boleh buat. Saya kan juga hanya laki-laki biasa yang melihat lawan jenis dari penampilannya pertama-tama.
Setelah selesai acara, ada acara bagi-bagi nasi boks. Saya melihat peserta itu di luar gedung dan saya memutuskan untuk makan nasi boks di dekat dia. Kemudian saya lihat dia membawa hand sanitizer. Aneh banget. Ini 13 tahun sebelum pandemi. Saya pura-pura pinjam hand sanitizer untuk berkenalan dan akhirnya kami bertukar nomor telpon.
Bagaimana kami memutuskan menikah?
Bagian ini yang agak aneh. Seminggu setelah acara pelatihan itu kami memutuskan untuk bertemu pertama kalinya. Kami kemudian nongkrong, makan siang bersama dan tampak bahwa sebenarnya kami sudah cukup flirting-flirting satu sama lain. Tapi saat itu saya masih egois, saya masih mengusahakan pacaran dengan perempuan lain (yang saat itu saya anggap levelnya lebih tinggi dari dia). OIeh karena itu saya berpesan pada dia “jangan terlalu berharap banyak dari hubungan ini”
Tanpa terasa, saya nyaman main sama dia. Curhat sama dia. Termasuk curhat tentang perempuan lain yang saya gandrungi. Dia juga punya pacar saat itu tapi LDR. Nah masalahnya, lama-lama dia sebel donk saya memperlakukan dia gak jelas gitu. Akhirnya dia bilang dia mau pulang ke Jakarta dan setelah dia pulang dari Jakarta nanti, kami tidak usah bertemu lagi. Saya panik. Saya tidak mau kehilangan karena sudah terlalu nyaman. Saya lari ke stasiun dan naik ke gerbong dia. Saya bilang “aku mau kamu jadi pacarku karena emang selama ini aku nyaman banget sama kamu” Dia pun mengangguk.
Loh itu kan pacaran, keputusan nikahnya gimana?
Sabar tho sabar. Jadi gini setelah memutuskan untuk pacaran beberapa kejadian terkait mengikuti. Istri saya selama ini kuliah di Semarang ternyata tidak ngekost. Dia ikut keluarga pamannya. Nah di sini terjadi sedikit kesalahpahaman maka dia pun terpaksa kost tanpa seizin mereka. Di satu sisi saya sendiri juga sedang merasa sangat kesepian. Bapak dan Ibu saya bercerai. Saya merasa sebatang kara. Teman saya curhat ya hanya dia. Dia sendiri juga merasa jauh dari keluarga, dan teman curhat dia ya hanya saya.
Muncullah pikiran random. Kalau udah cocok, kalau udah nyaman lha ngapain pacaran doank. Kenapa gak nikah sekalian. Bukannya orang-orang nikah pada nyari kenyamanan? Ya kan? Kalau udah nemu jodohnya lha ngapain ditunda-tunda. Saya kemudian mengusulkan ide ini ke dia. Saya buka keuangan saya: gaji honorer, gaji guru les, gaji MC sekali-sekali, gaji pelatihan kadang-kadang terus muncul angka 2,5 juta di tahun 2007. Bayangkan sendiri ya inflasi dll. hehehe. Terus tanpa disangka-sangka dia bilang “kayaknya masih masuk akal” kita bisa hidup dengan angka itu. Kami juga berasumsi bahwa dia kan masih semester 3 maka masih ada uang bulanan dari ortu. Kos di Semarang waktu itu berkisar 350 ribu udah bagus banget sih.
Dan akhirnya kita memutuskan untuk merealisasikan ide random itu. Saya melamar melalui telpon dan Ayahnya menyatakan boleh. Saya menyampaikan ide ini ke Bapak dan Ibu saya, katanya juga silakan aja. Usut punya usut, ternyata mereka semua bilang iya karena curiga “sudah ada bayi dalam kandungan”, tapi orang tua kami tidak berani tanya. Aneh banget. Padahal riilnya, belum ada tuh benih apapun di dalam kandungan. Orlando Gazel Pratama lahir 4 tahun kemudian. Hehehehe.
Lah kok random gitu, mana decision making system-nya?
Heiiii. Kalian berharap apa? Kami 15 tahun yang lalu ya pemuda pemudi yang pikirannya tidak complicated. Sudah belajar berhitung pemasukan dan pengeluaran saja udah cukup bagi kami. Terus saya juga sudah menyampaikan ke istri dan mertua bahwa saya sedang proses mendaftar beasiswa luar negeri. Walaupun belum diterima, saya yakin saya akan dapat kesempatan itu. Maka saya katakan kepada istri saya, jika kamu menikahiku maka kita akan ada kesempatan tinggal di luar negeri walapun hanya dua tahun. Kalau kalian masih ingat, istri saya itu sangat excited saat saya mengisi seminar dan menyebut kata luar negeri.
How did you know that she’s the one? How did she know that you’re the one?
Enggak. Kita enggak pernah tahu. Dan enggak pernah peduli. Dia the one atau gak the one. Bodo amat. Kenyataanya emang gak ada metode yang sahih untuk menentukan apakah dia the one atau tidak. Kita mainnya kriteria minimal aja sih.
Bagi dia, cowok yang layak jadi suaminya adalah: pinter, tinggi, lumayan cakep, bertanggung jawab, gak abusive dan enak diajak ngobrol. Bagi saya cewek yang bisa jadi istri saya: cantik, rambutnya bagus (hehehehe), pinter, enak diajak ngobrol, bisa diajak susah dan senang (imbang lah), dan bisa diajak bertumbuh bersama.
Kriteria lain bodo amat. Waktu itu dia belum bisa masak, peduli amat. Waktu itu saya belum punya rumah sendiri, dia juga bodo amat. Yang penting kriteria minimal terpenuhi. Kalau dilihat lagi kok gak ada kriteria agama? Lha ternyata kami cocok dalam hal ini, yang penting asal bisa salat lima waktu dan puasa ramadan dah cukup. Buat pasangan lain mungkin gak cukup. Tapi bagi kami cukup.
Keuntungan menikah muda
Keuntungan menikah muda, adalah kami jadi berpikir lebih dewasa daripada seharusnya. Ini berlaku untuk kami belum tentu berlaku untuk orang lain. Saya sendiri jadi fokus dalam mengubah kondisi keluarga menjadi baik. Saya memiliki usaha terstruktur untuk keluar dari kost-kostan dan pindah ke rumah sendiri (ya minimal rumah kontrak). Istri juga mulai mempelajari skill baru seperti make up dan memasak.
Saya pernah membayangkan jika saya tidak menikah muda. Mungkin saya akan gunakan menggunakan uang saya untuk beli motor sport atau party-party. Tapi karena punya tanggungan maka saya berpikir membeli tanah, rumah dan tabungan pendidikan. Tapi itu hanya bayangan liar saja tanpa ada teori yang melatarbelakangi. Bisa saja banyak orang single yang bijak memakai uang.
Kerugian menikah muda
Ini yang mungkin jarang saya sampaikan. Maka sebagai keadilan dan keseimbangan opini maka saya sampaikan di sini.
Kalau boleh jujur, menikah muda itu gambling tingkat tinggi. High risk low return. Saat pacaran dalam usia muda, kemungkinan kita masih belum tahu sifat asli pasangan kita. Bisa saja saya abusive, tapi istri saya belum tahu. Bisa saja, istri saya punya sifat psiko tersembunyi, tapi saya belum tahu. Dan berbagai kemungkinan lainnya. Bisa dibilang menikah muda itu seperti membeli kucing dalam karung. Kalau isinya kucing impor sih Alhamdulillah. Lha kalau isinya kobra, ya ucapkan selamat tinggal pada keindahan dunia.
Karena risiko dan keuntungannya tidak seimbang, maka saya sendiri tidak merekomendasikan nikah muda. Lebih baik menikah ketika siap. Kalau melihat pernikahan saya sendiri yang awet dan cocok sampai waktu yang lama, saya yakin itu pure luck. Jangan ditiru. Tapi kalau udah mantep, ya silakan ambil keputusan. Tapi jangan salahin saya ya. Nanti dikiranya saya affiliator nikah muda. Hehehe.
Bagi yang ada pertanyaan atau kesan, silakan tulis di kolom komen.
Salam, HP


Tinggalkan komentar