Bisakah Anda Memaafkan Diri Sendiri?

Masalah maaf-memaafkan memang mungkin bukan keahlian utama manusia ya? Sepertinya kita selalu bermasalah saat harus memaafkan teman kita, saudara kita, orang tua kita, anak kita yang mungkin punya salah sama kita. Ternyata kesulitan yang sama, juga terjadi saat tiba giliran kita untuk memaafkan diri sendiri.

Sehebat apapun kita, pasti ada kejadian masa lalu yang kita sesali. Ada kejadian yang membuat hati kita sakit, lukanya dulu menganga, sekarang mungkin sudah sembuh, tapi sekali-sekali masih terasa melepuh. Ada kejadian yang memalukan, yang membuat muka kita hilang entah kemana. Rasanya kalau ada mesin waktu ingin kita ulangi dengan skenario yang lebih baik. Ada kegagalan dan kejatuhan yang begitu epik menimpa kita, hingga bekas jatuhnya masih sering terngiang-ngiang dalam mimpi ataupun terbayang pada masa bangun kita. Kadang kita tidak bisa memaafkan diri kita sendiri, kenapa kita tidak bisa mencegah hal itu terjadi kepada kita.

Setelah dipikir-pikir ulang, apakah kita sendiri tahu apa arti dari “memaafkan”? Jangan-jangan kita menemui kesulitan untuk “memaafkan”, karena kita sendiri tidak tahu arti dari konsep itu. Sama seperti bayi yang mengangis membahana, tanpa tahu apa yang membuat dirinya menangis. Bayi itu tidak bisa mengungkap keresahannya dan orang tua bayi itu hanya bisa menebak-nebak apa yang salah. Permasalahannya ada, tapi sumber masalahnya sulit diketahui.

Apa itu “memaafkan”?

Kata yang tepat untuk menjelaskan konsep memaafkan adalah “let go”. Saat kita mampu melepaskan masa lalu dan merelakan masa lalu, maka itulah yang disebut sebagai “memaafkan”. Misal dalam kasus pasangan kita yang melakukan kesalahan, misalnya perselingkuhan (kita cari yang paling berat dan paling umum aja ya), maka konsep “memaafkan” ini menjadi penting. Entah pada akhirnya kita memutuskan untuk berpisah dari dia ataupun bertahan dengan dia, kalau kita belum memaafkan, hidup kita tidak akan bisa damai. Jika kita memutuskan berpisah, tapi hati kita belum memaafkan, maka sisa hidup kita akan selalu getir. Saat dia sudah punya pasangan baru dan move on, kita selalu berpikir buruk padanya. Kita malah sibuk mengawasi hidup dia. Semua itu karena kita tidak mampu “memaafkan”. Demikian juga jika kita memutuskan untuk mempertahankan dia, maka kemampuan “memaafkan” menjadi lebih krusial. Kalau sampai kita belum “let go” kejadian masa lalu, kita akan selalu curiga dan menyalahkan dia atas apa yang terjadi dalam hubungan kita.

Kemampuan memaafkan menjadi inti dari “hidup yang damai dan mendamaikan”. Kalau kita tidak pandai dalam memaafkan maka hidup kita akan dirundung resah. Pasti sekarang anda lagi berpikir “Okay, memaafkan tuh let go sesuatu di masa lalu ya? Gampang sih teorinya. Tapi gimana caranya kita let go sesuatu yang begitu fatal, menyakitkan dan membekas?”. Itulah yang akan saya bahas selanjutnya.

Bagaimana cara untuk “memaafkan”?

Walaupun sebenarnya penting sekali memaafkan orang lain, ternyata lebih penting bagi kita untuk memaafkan diri sendiri. Banyak orang yang dari luarnya tampak damai, tampak ramah dan selalu memaafkan orang lain, tapi di dalam dirinya banyak menyimpan kegetiran dan penyesalan. Kenapa memaafkan diri sendiri lebih sulit daripada memaafkan orang lain? Karena memori tentang diri kita melekat lebih lekat di otak kita daripada memori yang dibuat orang lain. Kembali ke contoh pada pasangan yang selingkuh di atas, rasa marah kita ke orang yang kita sayangi tidak lebih besar dari pada rasa marah kita pada diri sendiri. Saat pasangan kita selingkuh, sesungguhnya kita lebih marah pada diri kita dengan mempertanyakan “Apa yang kurang dari diri kita? Apakah kita se-tidak berharga itu sampai dia selingkuh? Apakah kita tidak lebih baik dari selingkuhan dia?” Saat kemarahan kita pada orang lain sudah habis, rasa marah pada diri kita bisa bertahan lebih permanen.

Rasa getir, rasa marah dan rasa penyesalan pada diri kita sendiri seperti menyimpan petasan di lemari baju. Dalam jumlah sedikit mungkin masih tidak masalah, tapi jika bertumpuk dalam jumlah yang banyak akan berpotensi membahayakan dan meledak tak terarah. Oleh karena itu perbolehkan saya untuk menyampaikan beberapa langkah penting untuk memaafkan diri sendiri.

Sadari bahwa masa lalu tidak bisa diubah.

Anda bukan Dr. Strange yang punya batu hijau yang bisa memutar waktu. Tidak ada seorangpun yang memiliki kemampuan itu. Semua orang di dunia dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa “masa lalu tidak bisa diubah”. Terkait dengan konsep ini maka kata-kata seperti “seandainya” dan “jika saja” merupakan kata-kata yang harus dibuang jauh-jauh dari otak kita.

Misal anda sekarang terbelit hutang perusahaan yang anda dirikan bersama teman-teman kemudian otak anda terhanyut dalam lautan “seandainya” dan “jika saja”. Anda hanya menyiksa diri sendiri dengan cara yang tidak elegan. “Seandainya saya lebih hati-hati dalam berbisnis; Seandainya saya lebih hati-hati memilih teman bisnis; Jika saja saya tidak usah resign, dan tidak usah berbisnis; maka semua akan baik-baik saja”

Semua “seandainya” yang anda ciptakan di dalam otak anda itu semuanya sia-sia saja. Masa lalu tidak bisa diubah. Toh, jika benar-benar ada yang namanya alat pemutar waktu, siapa yang menjamin bahwa yang anda lakukan untuk mengubah takdir, malah menghasilkan output yang lebih buruk dari kejadian yang telah terjadi. Anda kembali ke masa lalu untuk tidak jadi resign dan tidak jadi bangun bisnis, ternyata anda malah dituduh korupsi uang perusahaan dan berakhir dipenjara. Kan malah lebih berabe outputnya.

Masa lalu tidak bisa diubah, tapi persepsi bisa

Masa lalu kita memang tidak bisa kita ubah, tapi persepsi kita terhadap kejadian tersebut bisa kita ubah. Pada artikel sebelumnya saya sempat mengulas tentang bubarnya pernikahan ayah dan ibu saya. Saya juga sempat menyalahkan diri saya atas kejadian itu. Saya juga pernah berandai-andai jika ayah dan ibu saya tidak pernah bercerai, maka kehidupan kami akan lebih bahagia. Itu persepsi saya dulu. Bahwa perceraian itu telah menghancurkan hidup saya dan menjadikan saya orang yang selalu bersedih.

Saat saya mulai membaca literatur, mengikuti pelatihan dan menjadi coach bagi banyak orang, saya mulai bisa mengubah pandangan saya terhadap kejadian itu. Saat ayah dan ibu saya bercerai saya mulai belajar cara hidup mandiri. Saya juga mulai memikirkan cara untuk menghidupi ibu saya dan adik saya. Dari pengalaman itu saya mulai belajar cara berbisnis, cara meningkatkan value saya, dan juga belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh. Kejadian perceraian masih tetap sama dan terjadi, tapi persepsi saya yang berubah. Hidup saya menjadi lebih baik hanya dengan mengubah persepsi; tidak mengubah realitas sama sekali.

Masa lalu dilepas saja, fokus pada masa kini dan masa depan.

Ya memang hanya gitu aja cara memaafkan dan merelakan. Kesadaran bahwa masa lalu tidak bisa diubah dan kemudian kita melatih kemampuan mengubah persepsi adalah dua langkah yang ampuh untuk memaafkan diri kita. Dengan demikian, kita bisa fokus pada masa kini dan masa depan. Masa kini ada di tangan kita dan dikontrol oleh kita. Sedangkan masa depan, kontrolnya juga ada di tangan kita tapi hasilnya tidak bisa diketahui sepenuhnya. Bagaimana cara menghadapi keresahan yang disebabkan oleh masa depan yang tidak menentu outcomenya? Itu bahasan di artikel selanjutnya. Selamat menikmati akhir pekan.

Salam,

Dr. Hendi Pratama
Motivator Transformasi Pendidikan

Tinggalkan komentar