Tulisan kali ini agak serius dan agak panjang karena berhubungan dengan kondisi terkini bangsa kita. Saat artikel ini saya tulis, postingan saya tentang kekerasan telah dilihat oleh 4 Juta Akun, dilike oleh 44 Ribu orang, di save oleh 6 Ribu orang, dikomen oleh lebih dari 900 orang. Berikut adalah postingan yang saya maksud:

Premis utama dari postingan saya adalah mempertanyakan apa penyebab utama kekerasan yang semakin marak dijadikan sebagai solusi dalam berbagai permasalahan bangsa. Saya menyebut ada KDRT artis, Insiden Kanjuruhan, Penembakan Polisi dan Penembakan Istri TNI sebagai contoh. Tapi pengamatan saya pribadi, saya juga kaget dengan perilaku kita semua di jalan raya yang mudah sekali tersulut amarah gara-gara hal kecil. Saya juga melihat berita tentang maling yang digebuki warga sampai tidak bernyawa kemudian diguyur bensin dan dibakar. Seakan-akan barang yang dicuri memang setimpal dibayar dengan nyawa. Padahal agama pun tidak mengajarkan pembalasan yang demikian.
Melihat fenomena itu kemudian saya mengajukan dua pertanyaan tambahan:
- Apakah keramahan kita selama ini hanya kepalsuan?
- Apakah kita secara kolektif menyimpan kemarahan?
Untuk pertanyaan yang pertama, secara empirik saya bisa mengatakan bahwa keramahan kita sebagai sebuah bangsa yang beradab bukanlah kepalsuan. Secara umum kita menganut kesantunan positif dan kesantunan negatif secara maksimal (Brown & Levinson, 1987). Kita selalu ingin memuji orang lain dan tidak ingin merepotkan mereka. Serius. Ini ada di DNA kita. Di lubuk hati kita yang paling dalam. Kita kalau kedatangan tamu, selalu bahagia. Selalu ingin menyuguhi makanan dan minuman terbaik yang kita punya. Kita selalu suka acara kebersamaan, nongkrong bersama, kenduri bersama, tirakatan bersama dan makan bersama. Kita benar-benar suka ditemani orang lain.
Di sisi lain, jika ada hal yang kurang berkenan yang dilakukan orang lain kepada kita, kita mencoba untuk tidak mempermasalahkan. Ada orang melakukan body shaming kepada kita, ya kita jawab dengan bercanda. Ada orang mempertanyakan situasi keluarga dan kondisi ekonomi kita, kita tidak langsung marah tapi mencari pengalihan topik. Ada pejabat yang kita benci tapi mengunjungi desa kita, kita ya masih berusaha sebaik mungkin memberikan sambutan yang layak.
Maka clear ya. Untuk pertanyaan pertama, tidak ada keraguan bahwa sebenarnya keramahan kita tulus. Paling tidak, memang pada dasarnya kita ini 90% ramah dan baik. Tidak suka menyakiti perasaan orang dan kita cenderung memendam rasa kecewa kita. Rasa kecewa bukan untuk diekspresikan tapi untuk ditunggu agar reda seiring waktu.
Untuk pertanyaan kedua, saya tidak bisa seyakin itu. Karena sifat kita yang ramah dan baik serta suka memendam perasaan, tentu akan ada efek negatif yang menggunung. Kita tidak bisa mengekspresikan kekecewaan kita dan kemarahan kita karena kita ini masyarakat yang santun. Kita selalu diminta mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri. Dan ini terjadi sejak kita lahir sampai kita dewasa dan bahkan sampai kita tua.
Ibarat kita ini panci tekanan tinggi untuk membuat daging tulang lunak. Kita tidak punya keran untuk mengontrol buka tutup uap yang terkumpul. Panci ini lama-lama bom waktu. Dan akhirnya meledak di saat yang tidak tepat. Kita jadi mudah terprovokasi dan cenderung menjadi pribadi yang senggol bacok. Bukan karena kita jahat, tapi kita dalam kondisi kelelahan karena selalu diminta memendam perasaan sendiri dan mengutamakan kepentingan orang lain.
Manusia memiliki budi pekerti dan sifat hewani. Budi pekerti dikembangkan melalui agama dan pendidikan. Sifat hewani tertancap keras di DNA kita melalui kode genetik yang diturunkan dari nenek moyang kita ribuan dan bahkan jutaan tahun yang lalu. Kemarahan seperti halnya ketakutan adalah alat psikologis yang sangat bermanfaat digunakan oleh nenek moyang kita. Kemarahan membuat nenek moyang kita menjadi kuat melawan hewan-hewan pemangsa lain dan senjata yang efektif untuk menakut-nakuti musuh. Juga efektif untuk menakut-nakuti sesama. Ketakutan juga bawaan genetik. Karena ketakutan yang bersifat natural, kita tidak main-main dengan api atau dengan sengaja mendekati macan liar.
Sifat hewani tidak semuanya jelek. Ada sifat hewani yang membuat kita jadi menyayangi anak-anak kita. Seperti layaknya semua hewan yang menyayangi anaknya. Kita juga bisa merasakan belas kasihan dan keinginan bekerja sama seperti hewan-hewan lain yang ada di bumi. Layaknya semut yang berbagi makanan, berbagi rumah, dan berbagi pekerjaan.
Dengan pendidikan kita bisa menguatkan nafsu hewani kita yang baik dan mengurangi nafsu hewani kita yang merugikan. Dulu kemarahan bisa jadi senjata, sekarang menjadi tidak relevan di dunia modern. Dulu kita takut tempat yang gelap, sekarang ada teknologi listrik dan lampu. Tapi sifat hewani yang baik seperti kasih sayang, belas kasihan dang keinginan pribadi tidak perlu dihilangkan karena masih sangat relevan dunia modern.
Pendidikan akan memberi manfaat yang nyata jika pendidikan bisa dilaksanakan dengan asas terbuka dan critical thinking. Siswa dan mahasiswa diberi kesempatan berekspresi, diberikan kesempatan menyampaikan uneg-uneg dan berdebat semaunya dengan tuntunan pengajar. Ciptakan kelas yang “provokatif” dan “konfrontatif” secara pemikiran. Agar kemarahan dan kekecewaan tidak menumpuk di dalam jiwa manusia Indonesia. Di kelas mereka diperbolehkan mempertanyakan “mengapa saya terlahir miskin dan teman-teman kita di luar kok kaya-kaya?” mereka juga diperbolehkan membahas “mengapa Tuhan membiarkan manusia menderita karena bencana?” dsb. Jadikan kelas menjadi tempat diskusi yang terbuka dan seru. Niscaya, panci tekanan tinggi dapat memiliki keran buka tutup yang tercipta di kelas-kelas kita.
Dengan pendidikan yang lebih “terbuka” kita bisa mengubah kultur senggol bacok menjadi kultur diskusi dan perdebatan. Silakan adu bac*t tapi jangan adu jotos. Ini yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kemarahan kolosal yang kita alami. Kita marah melihat korupsi, kita marah melihat kenaikan harga, kita marah melihat ketidakadilan. Marika kita salurkan dengan perdebatan yang sengit tapi dapat dipertanggungjawabkan secara logika.
Salam transformasi pendidikan,
Dr. Hendi Pratama
Founder Education Transformation Indonesia (EDUTRANS.ID)

Tinggalkan komentar