Ada beberapa orang yang langsung kecewa membaca judul artikel ini. Jauh di lubuk hari setiap orang, tentu ada perasaan ingin menemukan cinta sejati. Satu untuk selamanya. Satu yang tetap ada di hati. Satu yang mengisi seluruh kosongnya jiwa dan memantik kebahagiaan setiap harinya.
Tapi masalahnya konsep cinta sejati itu sendiri belum ada yang menyepakati. Apakah cinta sejati itu adalah orang yang akhirnya menikah dengan kita? Atau bagaimana? Kalau ada orang bercerai karena ditinggal meninggal, dan kemudian menikah lagi: siapakah cinta sejatinya, pasangan yang pertama atau yang kedua?
Jika ada orang menikah dan kemudian bertahan sampai dengan akhir hayat, tapi setiap harinya selalu bertengkar, apakah itu disebut dengan cinta sejati?
Dari variasi situasi dan definisinya, saya curiga ada ribuan skenario yang tidak akan pernah cocok dilabeli cinta sejati. Ini adalah awal kecurigaan saya bahwa cinta sejati itu memang tidak pernah ada. Yang ada adalah komitmen untuk menjadi orang yang baik bagi pasangan kita dan pasangan kita berkomitmen yang tidak kalah hebatnya.
Hipotesis saya: komitmen itu nyata dan cinta sejati itu belum tentu ada. yang bisa membuat orang bertahan itu bukan cinta tapi komitmen.
Kesadaran ini perlu ditanamkan sejak dini karena banyak pernikahan bubar karena harapan yang tidak realistis. Para pencinta berpikir bahwa saat mereka menemukan cinta sejatinya maka kehidupan percintaan mereka akan HOTTT selamanya. Jangankan selamanya, baru jalan 6 bulan saja, seks tidak akan terasa seperti saat awal-awalnya. Ini yang mungkin menjadikan kekecewaan di dua belah pihak. Kok gini ya? Cinta sejati kok luntur?
Komunikasi yang dulunya lancar-lancar saja kemudian di tahun kedua ketiga mulai tersendat-sendat. Ada kecurigaan. Ada ambiguitas. Ada pertikaian yang tidak jelas asal mulanya dan juga tidak jelas juga solusinya. Lho, cinta sejati kok miskomunikasi? Aneh banget.
Maka pernikahan yang berbasis cinta (sejati) sungguh memiliki fondasi yang sangat lemah. Maka saya salut pada pasangan-pasangan yang realistis sejak awal berjumpa. Mereka sadar bahwa kemeriahan cinta yang mereka rasakan di awal perjumpaan adalah efek hormon yang meluap-luap. Luapan ini pada perjalanan waktu akan melemah dan melemah.
Orang-orang realistis semacam ini akan mempersiapkan fondasi pernikahan dengan beberapa aspek lain dalam hubungan itu. Komitmen menjadi salah satu yang terpenting. Komitmen untuk selalu bersama dalam suka dan duka. Komitmen untuk tidak tergiur walaupun di luar sana ada pria yang lebih kaya atau wanita yang lebih bohay bodinya. Komitmen untuk bertumbuh bersama, meningkatkan kompetensi bersama dan menua bersama. Orang-orang realistis ini saya duga adalah kelompok yang lebih tahan goncangan daripada orang-orang yang menikah berlandaskan mabuk cinta.
Saya bisa benar. Saya bisa salah. Ya namanya juga kecurigaan. Tentu tidak ada yang pasti. Bagaimana menurut pembaca?

Tinggalkan komentar