Kita sering sekali terjebak pada konflik pada yang tidak perlu hanya karena kita mengasumsikan sesuatu yang salah tentang seseorang. Dan kebetulan di saat yang bersamaan, orang itu juga mengasumsikan hal yang salah tentang kita.
Hal sederhana saja yang sering kita lihat di supermarket. Jika ada orang yang tiba-tiba merebut antrian di depan kita, kita akan sangat marah dan mungkin kita akan langsung menegurnya. Padahal belum tentu kejadiannya seperti itu. Mungkin memang orang itu sudah mengantri dari tadi tapi kemudian ada permasalahan pembayaran atau item tertentu yang mewajibkan dia untuk keluar antrian sebentar. Keluarnya dia dari antrian itu juga atas sepersetujuan kasir. Tapi kita sudah terlanjur berasumsi dan juga mungkin kita sudah terlanjur marah.
ASUMSI atau anggapan sementara kita terhadap suatu fenomena merupakan interpretasi kita sendiri atas suatu kejadian berdasarkan analisis yang kita dapatkan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jika kita sering melihat mendung kemudian beberapa menit kemudian akan terjadi hujan maka di lain hari ketika kita melihat mendung: kita akan berasumsi bahwa akan segera turun hujan. Padahal belum tentu. Jika kita melihat perempuan yang perutnya menonjol cukup signifikan maka kita berasumsi bahwa dia hamil. Padahal belum tentu hamil: mungkin dia sedang latihan beban yang diikatkan di perut untuk latihan core. Mungkin itu adalah tren terbaru, tapi kita belum terupdate.
Asumsi sering salah? Tapi kenapa kita terus berasumsi?
Walaupun kita sering direpotkan gara-gara asumsi yang salah dan juga sering terlibat konflik yang disebabkan oleh melesetnya asumsi kita, ASUMSI tetap memiliki kegunaan yang penting pada kehidupan manusia. Secara singkat, punya asumsi yang salah itu merepotkan tapi tidak punya asumsi sama sekali jauh lebih merepotkan. Kok bisa?

Ya bisa. Kan saya yang tanya dan saya yang nulis. Hehehe. Cukup ya bercandanya. Seperti yang terlihat pada bagan sederhana di atas, ASUMSI sesungguhnya sebuah algoritma canggih yang mengumpulkan data dari pengalaman hidup. Setelah data yang diambil cukup kemudian terbentuk sebuah otomasi yang memprediksikan suatu peristiwa.
Misalnya, kita berkendara motor tanpa diajari siapapun. Ini contoh ekstrim, hanya sebagai gambaran saja. Karena tidak diajari siapapun maka kita langsung turun ke jalan raya untuk melihat kondisi sekitar. Kita melihat berkali-kali jika ada lampu lalu lintas menyala merah maka (hampir) semua orang berhenti serempak. Kemudian saat lampu hijau menyala, semua orang melaju serempak. Setelah berkali-kali melihat kejadian itu, asumsi yang cukup kuat terbentuk di otak kita dan kita bisa memprediksikan kejadian sesuai dengan pengalaman-pengalaman itu. Saatnya kita mencoba sendiri naik motor di depan lampu lalu lintas, dan kita memutuskan untuk berhenti dan melaku sesuai dengan asumsi yang terbentuk itu.
Bayangkan suatu hari anda sudah lancar naik motor di Indonesia dan kemudian diminta pindah ke Wakanda. Ternyata, di Wakanda lampu lalu lintasnya lain. Jika merah harus jalan, jika hijau harus berhenti. Karena anda berasumsi bahwa di seluruh dunia lalu lintasnya beroperasi dengan cara yang sama, maka kemungkinan besar hari pertama anda naik motor di Wakanda akan berakhir di rumah sakit dan dirawat oleh Shuri. Apa yang terjadi? Asumsi anda berujung pada pengambilan keputusan yang salah karena data yang terkumpul hanya berbasis data di Indonesia dan belum ada data dari Wakanda. Kemungkinan besar, setelah satu minggu anda tinggal di Wakanda, anda akan membentuk asumsi baru tentang peraturan lalu lintas dan anda tidak lagi masuk rumah sakit (kecuali apes: naik motor pas kebetulan ada Black Panther lagi duel sama Killmonger).
Terus gimana donk? Jadi bingung, Asumsi itu penting atau tidak?
Jawabannya jelas: ASUMSI itu penting untuk keberlanjutan hidup manusia. Tidak hanya itu, tanpa adanya asumsi, kehidupan manusia akan sangat tidak efisien. Masa iya, setiap kali mengambil keputusan harus menunggu data baru yang dikumpulkan dari nol?
Menimbang mekanisme yang digambarkan di bagan di atas dan juga ilustrasi tentang Wakanda di atas maka dapat disimpulkan bahwa orang dengan data yang banyak (pengalaman hidup yang lebih luas) akan membangun asumsi yang lebih akurat. Dibanding, orang yang memiliki data masa lalu yang terbatas dan “kurang gaul”. Asumsi yang menggiring kita ke arah konflik adalah asumsi yang didasari data yang sangat tipis.
Misal kita tiba-tiba ketemu dengan orang Israel di sebuah bandara dan kemudian kita timpukin batu karena kita berasumsi bahwa semua orang Israel jahat pada orang Palestina. Apesnya ternyata orang Israel yang kita timpukin itu adalah ketua asosiasi pemrotes kebijakan Zionis orang Israel. Bener sih dia orang Israel, tapi dia orang Israel yang tidak pro Zionist. Yang lebih malu lagi, ternyata yang kita timpuk adalah orang Israel yang beragama Islam. Karena kebetulan, ada 18% populasi muslim yang merupakan WNIs (Warga Negara Israel). Asumsi kita salah karena kita kurang baca, kurang pengalaman dan kurang gaul.
Kesimpulannya: asumsi bisa menjadi alat yang strategis bagi manusia asal pengalaman hidupnya mantap.

Tinggalkan komentar