Dua Wajah Pernikahan

Pernikahan tuh bisa bawa kebaikan buat hidup kita. Kita jadi bisa lebih maju, baik secara psikologis maupun emosional. Tapi, kalau pernikahan kita buruk, bisa bikin kita terusik secara psikologis. Berbagai faktor memengaruhi kesuksesan pernikahan, dan sejarah pernikahan juga beda-beda di setiap negara dan agama.

Dari dulu, pernikahan di setiap negara dan agama punya keunikannya sendiri. Di negara-negara Barat, biasanya dua orang yang saling cinta yang nikah, sementara di beberapa negara Asia, pernikahan diatur sama keluarga dan bisa melibatkan lebih dari dua orang. Tapi, tujuannya sama aja di seluruh dunia: untuk bikin hubungan yang stabil dan saling dukung antara dua orang yang cinta.

Menurut penelitian, pernikahan yang bahagia bisa bikin kita lebih sehat secara mental. Orang yang menikah cenderung lebih bahagia dan kurang depresi daripada orang yang nggak nikah. Pasangan yang nikah juga cenderung kurang stres dan lebih puas sama hidup mereka.

Sebaliknya, kalau pernikahan kita jelek, bisa merusak kesehatan mental kita. Ada studi yang ngebuktikan kalo pasangan yang sering bertengkar punya tingkat depresi yang lebih tinggi daripada pasangan yang lebih harmonis. Selain itu, pasangan yang sering bertengkar juga lebih mungkin alamin masalah kesehatan fisik dan psikologis yang serius.

Pernikahan itu keputusan pribadi, tapi kadang faktor sosial dan agama juga bisa memengaruhi. Di beberapa agama, pernikahan dianggap sebagai kewajiban dan jadi bagian dari tradisi. Tapi, di beberapa negara, pernikahan juga dianggap sebagai bentuk penghormatan pada keluarga, jadi bisa bikin tekanan sosial buat menikah.

Menurut data dari World Population Review, jumlah pasangan yang nikah di seluruh dunia makin banyak aja. Pada 2021, perkiraannya ada sekitar 56 juta pasangan yang nikah. Tapi, di sisi lain, perceraian juga jadi masalah yang semakin umum. Data menunjukkan kalo trend perceraian terus meningkat di seluruh dunia, dengan tingkat perceraian di Amerika Serikat mencapai sekitar 39 persen pada tahun 2021.

Jadi, kesimpulannya, pernikahan yang bagus bisa bikin kita maju dan pernikahan yang jelek bisa bikin kita terusik secara psikologis. Sejarah pernikahan punya keunikannya sendiri di setiap negara dan agama. Tapi, pada akhirnya, keputusan buat nikah itu tetep jadi hak pribadi kita, meskipun faktor sosial dan agama juga bisa memengaruhi.

Tinggalkan komentar