Media Sosial dan Kurangnya Sensitivitas pada Penderitaan Sesama

Hai, pernahkah anda merasa bahwa ketika berada di media sosial, anda jadi lebih cuek atau kurang peka pada penderitaan orang lain? Saya juga merasakannya. Sebagai pengguna media sosial yang aktif, saya menyadari bahwa adanya media sosial memengaruhi cara kita dalam berinteraksi dengan dunia di sekitar kita.

Pertama-tama, media sosial memperlihatkan kita gambaran yang sangat sempit tentang dunia. Kita hanya melihat apa yang kita inginkan dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama dengan kita. Hal ini dapat membuat kita lupa tentang keberadaan orang-orang di luar lingkaran kita. Kita tidak lagi peduli dengan mereka yang berada di luar dunia kita, atau bahkan tidak menyadari ada penderitaan di sekitar kita.

Kedua, adanya media sosial mempercepat informasi dan membanjiri kita dengan berita-berita yang kurang baik. Setiap hari, kita disuguhi berita tentang bencana alam, kekerasan, dan penderitaan lainnya. Kita menjadi terlalu terbiasa melihat berita-berita tersebut hingga kita kehilangan rasa empati dan merasa bahwa penderitaan itu sudah menjadi sesuatu yang biasa.

Contoh nyata dari pengaruh media sosial pada kurangnya sensitivitas pada penderitaan orang lain adalah ketika terjadi gempa bumi di Lombok pada tahun 2018. Walaupun banyak orang terdampak gempa bumi tersebut, tapi banyak juga orang yang tidak peduli dan cuek. Banyak orang hanya berkomentar singkat atau menyebarkan berita di media sosial tanpa memberikan bantuan yang nyata.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini? Pertama-tama, kita harus selalu ingat untuk terhubung dengan dunia di luar media sosial. Kita harus mencari tahu tentang isu-isu di luar lingkaran kita dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Kita harus melihat dunia secara lebih luas dan mencoba untuk memahami perspektif orang lain.

Kedua, kita harus memfilter berita-berita yang kita terima di media sosial. Kita harus selektif dalam memilih berita yang kita baca dan memastikan bahwa sumber berita tersebut terpercaya. Kita juga harus belajar untuk tidak terlalu terbiasa dengan penderitaan yang ada di sekitar kita.

Di era digital dan media sosial yang semakin berkembang pesat, kita sebagai pengguna media sosial harus berhati-hati dan tidak terjebak dalam dunia sempit yang diciptakan oleh media sosial. Kita harus terus ingat untuk terhubung dengan dunia di luar media sosial, memfilter berita-berita yang kita terima, dan menjadi lebih peka dan peduli pada penderitaan orang lain.

Sebagai manusia, kita harus terus memperkuat empati dan peduli pada sesama. Kita harus tetap menjadi sosok yang peka dan tanggap terhadap penderitaan orang lain. Dengan begitu, kita bisa membangun dunia yang lebih baik dan lebih manusiawi. Seperti yang dikatakan oleh Dalai Lama, “Ketika kita membantu orang lain, kita mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik.” Mari bersama-sama berusaha menjadi sosok yang membantu dan berkontribusi bagi dunia di sekitar kita.

Tinggalkan komentar