Saya menikah muda di umur 21 dan istri saya saat itu baru saja menginjak umur 19 tahun. Emang edyyyan tenan. Bahkan sampai sekarang, kalau saya ditanya, kenapa memutuskan menikah muda, saya tidak akan bisa menjawab dengan pasti. Entah karena lupa atau karena memang saat itu kami sekadar berbuat tanpa pikir panjang. Kamu single dan aku single, ayo kita menikah.
Saat itu saya masih baru lulus kuliah dan kerja jadi guru honorer. Istri saya juga masih kuliah di semester 3. Kemungkinan besar keputusan kami menikah muda karena kesambet. Nah apa lagi penjelasannya? Karena perbuatan itu terlalu nekat. Ada yang mengira kami menikah karena hamil di luar anggaran. Enggak kok, dipastikan tidak ada janin yang terlibat di situ.
Jadi keputusan menikah di usia muda bagi kami saat itu sebenarnya adalah gambling berisiko tinggi. Saya sendiri lagi capek-capeknya putus cinta dan ditolak sana-sini. Sedangkan calon istri saya juga melihat bahwa menikah bukan keputusan yang buruk-buruk amat asal suaminya bisa menanfkahi (ya walaupun dengan standar minimal).
Timelinenya seperti ini. Saya kenal istri saya bulan Agustus 2006. TTM-an beberapa bulan sampai bulan November. Bagi yang tidak tahu apa yang dimaksud dengan TTM, silakan Google saja. Kemudian kami pacaran mulai bulan Desember 2006. Omong kosong soal pernikahan bulan Februari 2007. Maret kemudian mendadak serius dan mulai mencari tahu tentang administrasi pernikahan. April minta restu orang tua. Dan tanggal 22 April 2007 kami menikah dengan resepsi ala kadarnya dan mengundang penghulu. Dan SAHHHHH. Jadi prosesnya sendiri tidak ribet.
Soal biaya sepertinya saya hanya mengeluarkan sekitar 2,5 juta dan Bapak saya juga keluar sekitar jumlah yang sama. Itu semua sudah all in. Nyatanya ya sah-sah saja dan tidak ada kendala yang berarti. Palingan ya kami tidak merasakan proses pilih-pilih dekor apalagi foto-foto prewed. Yang pasti kami masih punya rekaman video amatiran pernikahan kami. Bagi yang penasaran muka jadul kami silakan email, akan saya beri linknya. (Pasti Indira marah besar kalau tahu saya masih punya video jadul itu hehehe)
Jadi apa masalahnya dengan nikah muda? Ya berarti bukan masalah pesta pernikahannya karena bisa dibuat simpel dan murah meriah tanpa kendala. Masalahnya ada di tahun-tahun pertama pernikahan.
Keuangan belum stabil. Istri saya masih kuliah dan harus bayar SPP. Saya masih ngajar honorer dan kalian tahu sendiri lah gaji guru honorer berapa. Sekarang aja masih ngenes apalagi dulu. Saya sudah backup mati-matian dengan jadi guru les sana-sini tapi masih saja kurang. Ada biaya bayar kos, makan, biaya tak terduga, transport, dll, dll, dll yang dulunya sudah saya hitung sebelum menikah, tapi tetap saja boncos.
Kami sering bertengkar masalah ekonomi. Padahal sepele. Istri beli sepatu agak mahal, padahal pakai uang dia sendiri, saya marah. Karena saya pikir harusnya bisa untuk belanja yang lain yang lebih pokok. Bahkan ada masanya, kami harus nyari receh-receh yang tersisip di kantong cucian untuk sekadar makan sehari-hari. Luar biasa nekatnya, kok bisa-bisanya nikah muda dengan ekonomi demikian. Tentu sampai sekarang saya juga masih geleng-geleng.
Kalau anak saya (kebetulan cowok) nanti akan minta nikah umur 21, tidak akan saya izinkan. Gile lu Ndro. Jadi sampai sekarang saya menganggap bahwa keputusan nikah muda sangatlah tidak rasional. Tapi kenapa dulu saya lakukan? Ya karena manusia sering mengambil keputusan berdasarkan emosinya bukan logikanya. Apalagi ketika masih muda dan menggebu-gebu.
Masalah yang selanjutnya adalah masalah kematangan mental dan psikologis. Banyak masalah psikologis yang kami belum familiar misalnya bagaimana mengatasi cemburu yang berlebihan. Bagaimana cara mendengar secara aktif? Bagaimana cara mengalah? Bagaimana cara minta maaf? Mungkin terdengar sederhana tapi ternyata basic skills dalam hubungan interpersonal begini tidak bisa diburu-buru belajarnya.
Jadi bagaimana simpulannya? Apakah saya pernah menyesal karena menikah muda? Ya pernah. Tapi dulu. Karena sekarang malah saya sangat bersyukur karena bisa bertahah sejauh ini. Kami sudah menikah selama 16 tahun dan kami mensyukuri di setiap yang kami lalui. Semua hiruk pikuk yang pernah kami alami di awal pernikahan ya kami anggap sebagai pelatihan wajib pendewasaan diri.
Terus apa bedanya antara menikah muda dengan menikah di usia lanjut? Ya menurut saya bedanya cuman satu. Kalau menikah muda, hiruk pikuknya dilakukan setelah menikah dan dan langsung diuji saat itu juga. Kalau lolos ya langgeng dan kalau tidak lolos ya jadi duda dan janda di usia muda. Kalau tidak menikah muda, teman-teman bisa melatih pendewasaan diri ketika sebelum menikah, dan semoga (semoga ya) saat menikah, konflik-konflik basic sudah tidak perlu terjadi.
Demikian renungan random saya di hampir tengah malam.
Semoga masih ada yang baca.
Salam, Dr. HP.

Tinggalkan komentar