Kalau ada pesan masuk dari istri saya, yang bunyinya “Yayank aku minta pizza”. Tentu saja sangat mudah solusinya. Pasti akan saya jawab, minta yang ukuran apa? Family? Atau yang ukuran Limo sekalian? Pengen variant apa? Sekalian garlic bread gak? Itu kan sekarang. Tapi pesan yang sama masuk ke HP saya 16 tahun yang lalu. Ketika kami baru saja menikah. Pekerjaan utama saya adalah guru honorer, dan pekerjaan sambilan saya adalah guru les. Sungguh dua-duanya bukan pekerjaan yang berlimpah uang.
Saat pesan itu masuk, saya masih dalam posisi jadi guru les Bahasa Inggris di malam hari. Intinya istri saya titip, kalau nanti pulang bisa gak mampir ke Pizza Hut untuk beliin Pizza. Kalau dipikir-pikir lagi, memang sejak menikah, saya belum pernah membelikan dia makanan yang enak ataupun mahal. Jadi mungkin dia lagi kepikiran, ini kok tiap hari makan di warteg melulu. Apa gak ada variasi?
Ya bukannya saya pelit. Tapi emang kondisinya saat itu lagi nggak ada. Saat itu usia saya 22 tahun dan kemampuan saya menghasilkan Rupiah masih sangat terbatas. Guru honorer menghasilkan 450 ribu per bulan, dan kos kita saat itu bertarif 350 ribu per bulan. Untuk penghasilan guru les, saat itu saya menerima 50 ribu per kali pertemuan (tentu beda dengan tarif saya sekarang ya hehehe). Solusi saya saat itu sangat simple, untuk mengatasi masalah ekonomi saya. Perbanyak murid les-lesan. Demikianlah solusi saya yang kurang efektif itu. Saya kerja dari pagi sampai sore di sekolah, lanjut jadi guru les privat dari sore sampai malam. Setiap harinya.
Dalam istilah sekarang, apa yang saya lakukan saat itu ya “Kerja, Kerja, Kerja, Tipes”. Jadi kerjaannya banyak, tapi penghasilan ya segitu-gitu aja. Ketika ada pesan masuk ke HP saya “Yayank. Minta Pizza” Aduh, saya stress. Jujur saat itu saya langsung stress. Saya belum pernah ke Pizza Hut sama sekali (saat itu) karena memang price range nya di luar kemampuan saya. Prinsip saya saat itu simple, kalau tidak mampu ya tidak usah dibeli. Makan yang lain juga bisa, lebih murah dan lebih enak.
Tapi ini yang minta kan belahan jiwa saya. Orang yang saya minta secara sadar dari orang tuanya untuk menjadi pendamping saya. Masa saya harus mengecewakan dia hanya karena permintaan “sederhana” ini. Saya yakin istri saya tidak ada maksud sama sekali untuk memberatkan saya. Wong sekadar pizza, pikir dia.
Oke dengan niat membahagiakan istri, saya bertekad meluncur ke PH terdekat dengan motor butut saya. Supra fit yang sudah tidak terlalu fit karena sering telat ganti oli. Saat sampai di gerai PH, terpampang produk dan harganya. Dan benar. Memang di luar nalar saya waktu itu. Waduh, di kantong hanya ada uang 50 Ribu.
“Mbak, saya pesan Pizza yang paling kecil, yang ukuran personal mbak”. Tentu saja, mbak-mbak petugas pizza dengan teknik “suggestive selling” menawarkan banyak tambahan opsional yang selalu saya jawab, enggak mbak. Sudah cukup itu saja mbak, langsung bungkus. Setelah selesai bungkus, saya langsung cabut karena memang ada perasaan yang kurang nyaman. Masuk ke tempat yang tidak sesuai dengan “kasta”. Itu pikiran saya waktu itu. Entah kenapa, biasa hidup di keluarga pas-pasan, bikin saya kurang pede berada di tempat yang di luar comfort zone saya.
Sampai di kos, saya langsung ketok-ketok pintu dengan semangat. Istri saya juga membukakan pintu dengan semangat yang sama. Yang saya kurang antisipasi adalah, ternyata yang dibayangkan istri saya adalah pizza satu loyang seperti iklan di TV. Dan ketika saya taruh bungkusan pizza di meja, istri saya nyeletuk, “Lho lho lho. Pizzanya mana?” Ya terus saya jawab, lah itu di bungkusan di meja.
Saya heran. Lho kok muka istri saya bingung. Bukannya happy. Dan kita pun membuka bungkusan itu. Muncul sesosok makanan yang mirip pizza tapi ukurannya setara donat. Sambil tertawa bersama, kami memakan pizza itu dalam 3 kunyahan.
Cerita ini menjadi kenangan yang sangat indah dan lucu. Bagaimana perjuangan kami di awal pernikahan. Cerita ini selalu kami ungkit-ungkit ketika kami makan pizza di masa-masa selanjutnya. Suatu hari, kami pernah mengunjungi kota Milan di Italia dan kami mencoba salah satu gerai pizza di kota itu. Dan kami seperti sepakat nyeletuk, “masih enak pizza di kos-kosan dulu ya hehehehe”

Tinggalkan komentar