Pada tahun 1906, seorang ahli statistik bernama Francis Galton menguji sebuah eksperimen yang sangat aneh. Dia memajang daging sapi besar yang telah disembelih dan digantung di tengah pasar malam. Berat asli dari daging sapi itu adalah 543 Kg. Francis menantang seluruh pengunjung untuk menebak berat sapi itu. Bagi yang tebakannya paling benar, akan mendapatkan hadiah dari Francis Galton. Tapi tebakan mereka semua salah kaprah. Bahkan ada yang menebak 1000 Kg. Ada yang menebak 100 Kg. Terlalu jauh dari berat aslinya.
Orang-orang mengeluh. Ini kan namanya curang dan tidak fair. Bagaimana kita bisa menebak dengan berat sapi yang digantung dan tidak disediakan timbangan yang memadai. Tebakan individual orang-orang tersebut sangat jauh dari kebenaran. Francis pun sudah menduga hasil tersebut.
Tapi ada hal ajaib yang muncul dari eksperimen ini. Ternyata setelah semua tebakan orang-orang di pasar malam itu didata dan dicatat. Kemudian median dari angka-angka tebakan tersebut dihitung maka ketemulah angka 547 Kg. Jadi secara ajaib, tebakan individu pengunjung pasar malam salah kaprah, tapi ketika digabungkan dan dicari nilai tengahnya maka tebakan mereka menjadi benar.
Eksperimen inilah yang memberikan dukungan kepada teori yang disebut sebagai Wisdom of the Crowds. Kecerdasan individu bisa saja terbatas, tapi kecerdasan gabungan dari orang-orang tersebut bisa menghasilkan pengetahuan yang akurat. Wisdom of the Crowds dapat disebut sebagai salah satu argumen terkuat pendukung demokrasi. Bahwasanya, keputusan yang diambil secara musyawarah jauh lebih berkualitas daripada keputusan individual.
Sayangnya, wisdom of the crowds ini juga memiliki keterbatasan. Pada contoh kasus di atas, para pengunjung menuliskan berat sapi tanpa paksaan siapapun, tanpa kepentingan apapun dan tanpa informasi eksternal apapun. Hasil tebakan mereka ya hasil dari analisis mereka sendiri berdasarkan asumsi, estimasi, logika dan kalkulasi mereka sendiri.
Di kenyataan demokrasi dan politik, banyak sekali faktor-faktor eksternal yang mengaburkan wisdom of the crowds. Ada pihak-pihak tertentu dengan power dan influence yang berlebih seperti media massa, pemerintah, atasan, dll yang merasa perlu untuk mempengaruhi keputusan individual. Tentu faktor ini membuat wisdom of the crowds menjadi condong ke arah tertentu.
Faktor yang lain yaitu pada keputusan-keputusan yang lain biasanya orang-orang mencari keseragaman supaya mendapat dukungan atau minimal mendapat kenyamanan. Pada kasus sapi di atas, orang menulis berat sapi dengan santai saja. Tidak perlu menanyakan ke teman-teman atau keluarganya. Tapi pada pemilihan presiden atau pemilihan tempat kuliah, biasanya orang-orang harus membandingkan “jawaban” mereka dengan jawaban orang lain.
Melalui penjelasan di atas kita bisa belajar dua hal. Pertama, bahwa demokrasi telah dirancang dengan baik dan memiliki dasar ilmiah yang kuat. Bahwasanya, kebijakan yang dibuat atas pertimbangan orang banyak memang memiliki potensi memproduksi hasil yang lebih baik. Kedua, proses yang baik itu hanya bisa terwujud jika individu-individu diberikan kebebasan memilih tanpa rasa takut, was-was dan harus dilakukan tanpa tekanan. Jika syarat itu tidak dipenuhi maka wisdom of the crowds akan berubah menjadi stupidity of the crowds.

Tinggalkan komentar