Kenapa Bahasa Thailand terdengar “Lucu”?

Thailand lagi Thailand lagi. Mungkin teman-teman berpikir bahwa saya akan membahas tentang Timnas Thailand yang tidak suportif hingga melakukan perilaku agresif dan tidak terhormat seperti membuang medali. Tidak. Saya tidak akan membahas itu. Tapi saya akan membahas mengapa Bahasa Thailand dianggap lucu oleh orang Indonesia.

Sudah tidak terhitung ada berapa meme atau video pendek yang menertawakan bahasa Thailand. Pokoknya ada-ada saja guyonan yang melibatkan bahasa Thailand. Mulai dari tulisannya yang tidak menggunakan alfabet sehingga sering digunakan untuk meme seperti “Janganlah bersedih, ingat petuah Thailand yang berbunyi ปิดทองหลังพระ. Sampai pada video yang memperdengarkan ulama Thailand yang berbicara menggunakan bahasa Thailand dan captionnya berbunyi “Jika ingin selalu berbahagia, coba dengarkan ceramah ulama berikut ini … (ceramah bahasa Thailand”

Meme dan guyonan seperti ini tidak pernah gagal memancing tawa orang Indonesia. Dan kita seperti secara kolektif sepakat bahwa bahasa Thailand baik yang tulis maupun yang lisan: memang lucu. Apakah benar demikian? Apa yang membuat bahasa Thailand lucu di telinga kita atau di mata kita?

Mengapa Bahasa Thailand terdengar Lucu?

Alasan yang pertama: bahasa Thailand adalah bahasa yang mengandalkan nada atau tone. Jadi bahasa Thailand menggunakan nada naik, nada turun, nada tinggi dan nada rendah untuk membedakan arti. Dalam bahasa Indonesia, tinggi rendah nada tidak membedakan arti sehingga kita biasa mendengar ujaran yang intonasinya datar-datar saja. Ketika orang Thailand berbicara dengan nada yang naik turun dan ritmis, itu bukan karena mereka kemayu tapi karena memang kebutuhan dasar dari bahasanya adalah variasi nada. Demikian juga bahasa Arab yang kebutuhan dasarnya adalah panjang pendek vokal yang membedakan arti.

Alasan yang kedua: budaya pop Thailand yang identik dengan kelucuan. Contoh yang paling nyata dari budaya pop Thailand adalah iklan-iklan lucu dan panjang khas Thailand. Lagu-lagu Thailand juga banyak yang berisikan humor dan tercermin dari iringan musik yang kocak. Ketika kita mendengar bahasa Thailand, kita sering mengasosiasikan Bahasa Thailand dengan kelucuan-kelucuan tersebut.

Alasan yang ketiga: kita memiliki egosentrisme terhadap bahasa kita sendiri. Bahasa Inggris adalah bahasa terindah di telinga orang Inggris. Bahasa Indonesia adalah bahasa terindah bagi orang Indonesia. Bahasa Thailand juga bahasa yang terindah di telinga mereka. Alasan yang ketiga ini yang harus kita waspadai. Kita terlalu sering menganggap bahasa orang lain itu lucu dan dijadikan bahan olok-olok. Bahasa orang Malaysia sering kita olok-olok juga padahal masih satu rumpun. Jangankan orang asing, bangsa sendiri aja kadang kita olok-olok. Misal, bahasa Indonesia yang diucapkan oleh orang Tegal sering digunakan sebagai bahan olokan di acara TV.

Dari semua alasan tersebut sepertinya kita harus betul-betul mewaspadai alasan yang ketiga. Jangan sampai kita jadi bangsa yang arogan dan menyakiti hati bangsa lain. Jangan-jangan pada saat pertandingan final sepak bola Sea Games kemarin, pemain dan para official Thailand marah-marah bukan hanya karena kalah. Tapi juga karena diam-diam mereka tahu kalau kita sering mengolok-ngolok bahasa mereka. Hayo lhooo.

Tinggalkan komentar