Hubungan Fisik: Investasi Menurut Wanita dan Gratifikasi Menurut Pria

Memang sudah menjadi kebiasaan saya, jika ada pemikiran yang menarik, langsung saya jadikan poster sederhana di Instagram. Karena keisengan seperti ini ternyata sering dilihat ratusan ribu orang dan bahkan jutaan orang. Beberapa waktu yang lalu, saya posting poster sederhana di Instagram saya yang seperti berikut.

Untuk statement yang pertama sepertinya tidak ada masalah ya. Banyak orang yang sudah menyadari dan mengalami, sehingga banyak netizens yang oke-oke saja. Tapi untuk statemen kedua sepertinya, cukup menjadikan polemik.

Statemen saya berbunyi: Cowok menganggap hubungan fisik adalah gratifikasi dan cewek menganggap hubungan fisik adalah investasi. Hah, kok bisa?

Bagaimana saya mempertanggungjawabkan statemen saya ini? Yang pertama adalah melalui fenomena sosial yang saya amati selama ini. Laki-laki melihat hubungan fisik sebagai hadiah atau bonus. Oleh karena itu saya menyebutnya sebagai gratifikasi. Laki-laki menganggap hubungan fisik adalah kejadian satu kali dan berlaku saat itu saja. Maka laki-laki tidak terlalu memikirkan apa konsekuensi dari apa yang terjadi setelah itu.

Sedangkan bagi wanita, hubungan fisik dikaitkan dengan masa depan yang terjadi antara mereka berdua. Apa yang terjadi dalam hubungan setelah hubungan fisik berlangsung, merupakan pertimbangan utama dari wanita. Itulah alasan mengapa wanita menganggap hubungan fisik sebagai portfolio sebuah hubungan. Bahkan, dalam skala sosial, wanita diperkenankan untuk meminta “tanggung jawab”. Inilah yang saya persepsikan sebagai investasi.

Melalui sudut pandang lain, laki-laki menganggap hubungan fisik sebagai sebuah aset yang jumlahnya tidak terbatas. Laki-laki tidak memiliki penyesalan terhadap apa yang pernah dilakukan dan tidak berpengaruh pada apa yang dilakukan lagi di masa depan. Karena tidak ada masalah dengan berapa jumlah sentuhan yang diproduksi pria, maka saya sebut sebagai gratifikasi.

Ini berbanding terbalik dengan pandangan wanita. Wanita secara umum, tidak ingin berhubungan fisik dengan terlalu banyak pria. Oleh karena itu, hubungan fisik adalah aset yang terbatas bagi wanita. Ada kuota yang terbatas bagi wanita. Wajar, saya menyebutnya investasi, karena wanita sangat hati-hati atas siapa yang menyentuhnya dan siapa yang bisa dia sentuh.

Mengapa menimbulkan konflik?

Perbedaan gratifikasi dan investasi ini bisa menimbulkan konflik yang berlarut-larut. Bagi laki-laki misalnya, pada pertemuan pertama terjadi gandengan tangan yang “tidak disengaja”. Bagi laki-laki, ini belum bermakna apa-apa. Si laki-laki juga masih bisa bergandengan tangan dengan wanita lainnya. Memang si laki-laki merasakan kesenangan dari sentuhan itu, tapi itu kan gratifikasi. Ya sudah dinikmati saja.

Di pihak lain, wanita menganggap gandengan tangan ini adalah pertanda sesuatu. Ada tahap yang berbeda, antara sebelum terjadinya gandengan tangan dan sesudah gandengan. Bahkan, wanita dengan kesadarannya sendiri merasa bahwa dirinya sudah tidak boleh lagi gandengan tangan dengan pria yang lainnya. Sampai kapan? Sampai urusan ini beres. Apakah selesai di sini atau lanjut.

Analisis ini tentu tidak bisa 100 persen benar. Karena bisa saja ada wanita yang menganggap hubungan fisik adalah gratifikasi belaka. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Dalam kasus ini, laki-laki bisa dibuat baper oleh wanita-wanita seperti ini. Laki-laki yang sempat kegeeran bahwa wanita itu sudah jatuh dalam pelukannya, eh ternyata bagi wanita yang demikian, sentuhan fisik adalah hal yang biasa saja.

Atau sebaliknya, ada pria yang sangat halus perasaannya. Yang menganggap hubungan atau sentuhan fisik adalah sesuatu yang sangat sakral, sehingga dia sangat berinvestasi pada hubungan yang belum tentu ada masa depannya. Pada posisi ini, wanita juga belum tentu siap menghadapi pria yang seperti ini. Karena biasanya pria yang semacam ini terlalu posesif, dan wanita malah menjauh.

Solusi?

Tidak ada solusi yang nyata untuk masalah ini karena pria memang secara biologis memiliki kecenderungan menyebarkan benih tanpa batasan waktu atau wilayah. Sebaliknya, wanita memiliki hambatan waktu seperti menstruasi, kehamilan dan menyusui. Wanita juga memiliki hambatan ruang dan sosial seperti batasan-batasan yang diberlakukan bagi seorang wanita agar dianggap baik.

Satu-satunya cara yang perlu diperhatikan untuk mengurangi efek samping dari gratifikasi vs. investasi adalah mengelola ekspektasi yang berlebihan dari sebuah hubungan. Jangan sampai terlalu berharap dan terlalu putus asa. Chill and enjoy the relationship pada batas yang wajar.

Tanggapan

  1. Sri wahyuni Avatar

    OMG
    this is a real incident of my life.

    Suka

    1. Hendi Pratama Avatar

      So sad to hear that

      Suka

Tinggalkan komentar