Melamar Calon Istri Lewat Telepon

Saya memberanikan diri untuk menelpon ayahnya yang tinggal di Jakarta, “Bapak, mohon izin jika diperbolehkan, saya akan menikahi anak Bapak, dua minggu dari sekarang”. Ayahnya menanyakan dengan tegas “Apakah kamu serius menikah sekali dalam seumur hidupumu? Apakah kamu sudah bisa menafkahi? Apakah kamu sudah bisa memimpin istrimu dalam agamamu?” Saya jawab iya untuk ketiga pertanyaan tersebut. Dan beliaupun mengatakan, silakan nikahi putri saya.

Mungkin anda bertanya-tanya, kok bisa melamar calon istri melalui telpon? Apakah tidak ada keluarga yang mengantar? Apakah tidak disiapkan bingkisan-bingkisan yang layak untuk menghormati keluarga calon istri? Ya normalnya begitu. Saya pengennya juga begitu. Tapi kondisi saat itu tidak memungkinkan, sedangkan niat saya untuk menikah sudah bulat. Calon istri juga sudah mengizinkan bahwa kami menikah dengan cara sederhana saja sehingga lamaranya sederhana juga tidak mengapa.

Apa permasalahan utama kami saat itu? Permasalahan kami saat itu ya, biaya. Istri saya kan masih semester 3 di perkuliahan. Saya sendiri baru keterima jadi guru honorer 3 bulan sebelumnya. Jika kami memutuskan untuk menikah dengan fasilitas yang maksimal tentu tidak realistis. Maka keputusan kami adalah, mengadakan pernikahan dengan persyaratan seminimal mungkin agar halal di mata Allah dan juga legal di mata negara.

Kami urus persyaratan administrasinya, kami siapkan penghulunya, kami siapkan tempat sesederhana mungkin di rumah Bapak saya. Ketika bapak saya mendengar rencana ini, Bapak saya juga terkesan baik-baik saja. Saya kurang tahu dengan perasaan di dalam hatinya, tapi di permukaan, beliau setuju-setuju saja. Ibu saya sempat kaget dengan rencana ini, tapi kemudian beliau seperti biasa selalu mendukung keputusan saya asalkan saya sudah yakin bahwa keputusan itu benar.

Maka terjadilah pernikahan kami layaknya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sama sekali tidak mewah dan semuanya standar minimal saja. Masih ingat kan, Pak Karno dan Pak Hatta mendeklarasikan kemerdekaan negara sebesar ini di halaman rumah biasa. Cincin kawin kami bukan cincin emas, tapi kami beli perak yang murah saja. Dan hanya bisa dipakai sebentar oleh istri saya, karena saya baru tahu ternyata istri saya alergi perhiasan yang bukan emas. Kalau dipaksakan dipakai maka kulitnya melepuh. Semua berjalan dengan khidmat dan Hari-H berjalan dengan lancar. Tidak ada EO, WO atau dekorasi apapun. Hanya ada satu tenda terpal di samping rumah. “Biar agak pantes,” kata Bapak saya.

Dua juta lima ratus Rupiah biaya yang saya keluarkan saat itu untuk mengurus administrasi dll. Dan jumlah yang sama dikeluarkan oleh Bapak saya untuk menyediakan makanan yang ala kadarnya untuk para tamu. Bagaimana hasilnya? Ya, Sah. Karena memang syarat sahnya nikah itu bukan di resepsi yang mewah atau mobil limo dengan plat nomor “JUST MARRIED”. Pada tanggal 22 April 2023 yang lalu, saya dan istri saya merayakan anniversary kami yang ke-16. Artinya memang, tidak ada korelasi antara kemewahan pesta pernikahan dengan langgengnya perkawinan.

Sungguh tidak ada maksud saya untuk merendahkan pesta pernikahan yang mewah. Tentu kalau ada rezekinya, anda harus merayakan pesta perkawinan yang layak sesuai kemampuan. Seandainya saat itu saya punya rezeki lebih, maka saya akan rayakan dengan lebih baik lagi. Saya sangat ingin menghormati dan memuliakan istri saya, keluarganya dan keluarga saya. Sebagai kenangan sekali dalam seumur hidup. Tapi apa daya, kemampuan saya ya hanya segitunya. Jadi saya mengambil keputusan yang paling bisa saya raih saat itu.

Kenapa tidak menunda pernikahan saja kalau belum mampu? Saat itu saya berpikir, “ditunggu berapa tahun pun belum tentu mampu”. Hehehehe. Saat itu saya juga agak pesimis juga dengan masa depan saya. Lulusan S.Pd, dengan pekerjaan guru honorer, menurut pengalaman dan pengamatan saya waktu itu tidak akan mengalami perubahan signifikan dalam waktu 10-15 tahun ke depan. Jadi saya ambil saja kesempatan selagi bisa dan selagi ada yang mau.

Setelah selesai “pesta pernikahan” kami kembali ke kehidupan nyata. Saya menyewa kamar indekos untuk kami. Biayanya 350 ribu per bulan. Posisinya di lantai 2. Kami punya balkon sendiri dan kamar mandi sendiri. Sudah cukup nyaman menurut kami, mengingat gaji saya sebulan di sekolah adalah 450 ribu per bulan. Kok cukup gaji segitu untuk hidup? Cukup, karena saya punya banyak murid les. Jadi sejak dulu, kerjaan sampingan sering sekali menyelamatkan hidup saya.

Tiga bulan kemudian, ayah dan mama mertua saya mengunjungi kami di kos kami. Menanyakan apakah kami baik-baik saja. Tentu semua baik-baik saja, batin kami. Kemudian mama mertua memperjelas pertanyaannya “Lho kok perutnya belum keliatan membuncit?, sehat kan bayinya?” Saya dan istri sama-sama bingung. Bayi apa ya? Waduh, ada yang aneh nih.

Setelah ayah dan mama mertua pulang ke Jakarta, saya dan istri berdiskusi kecil. Diskusi kami merujuk pada kesimpulan yang sama, “Owalah, kita diizinkan nikah karena dikira sudah ada kecelakaan.” Saya dan istri tertawa bersama. Ternyata tidak selamanya, suudzon itu jelek. Nyatanya, gara-gara mertua saya suudzon, kami diizinkan nikah dengan segera. Kalau dalam situasi normal, pastinya dilarang tuh istri saya umur 19 tahun diajak menikah.

Alhamdulillah, kesalahpahaman membawa nikmat.

Tinggalkan komentar