Entah berapa puluh kali saya melihat meme ini “Hidup tidak seindah bac*t motivator” Saya juga melihat kalimat senada dilontarkan di komen-komen netizen dan status Facebook atau Whatsapp. Tentu saja, saya tidak bisa tidak berkedip saat membaca komen atau meme seperti ini. Kan jelas, akun tiktok saya saja bernama @hendi.motivasi dan status instagram saya tertulis Coach Transformasi Pendidikan atau oleh orang awam biasa dikenal sebagai motivator pendidikan.
Saya merasa miris setiap melihat meme tersebut bukan karena profesi saya dikatakan sebagai tukang bac*t. Saya tidak tersinggung, karena secara teknis, memang tugas dan pekerjaan saya adalah berbicara. Saya dibayar untuk berbicara dan audiens saya juga mengharapkan saya untuk berbicara. Maka saya tidak akan komplain jika dikatakan sebagai tukang bac*t.
Yang menjadikan saya miris adalah, orang-orang yang membuat meme atau menulis komen seperti ini berarti tidak memiliki konsep yang kuat dalam memandang dan menjalani kehidupan. Konsep runyam yang pertama adalah mereka menganggap bahwa hidup harus selalu “indah” untuk dijalani. Ini namanya pemaksaan konsep.
Dengan atau tanpa adanya motivator, hidup semua orang di dunia ini selalu naik turun. Kadang menyenangkan dan kadang menyedihkan. Tidak ada satupun manusia di dunia yang bisa merasa bahagia terus-terusan tanpa ada kesedihan. Desain otak dan genetik manusia tidak seperti itu. Jadi jika ada kejadian menyedihkan dalam hidup, jelas bukan salahnya motivator atau salah siapapun. Hanya kejadian wajar saja dalam hidup, bahwa kadang-kadang kita diharuskan sedih.
Konsep semrawut yang kedua adalah, mereka mengira bahwa motivator hanya mengajarkan hal-hal yang indah dan manis saja tentang kehidupan. Dikiranya, motivator itu adalah penjual kebahagiaan? Bukan, sama sekali bukan. Pandangan ini perlu diluruskan. Kami-kami ini yang bekerja menjadi coach atau motivator tugasnya adalah memaksimalkan potensi klien kami. Ada yang mau ikut lomba dan ingin menang. Ada yang ingin bangun bisnis, dan ingin bisnisnya profitable dan sustainable. Ada yang ingin kehidupan romantisnya meningkat. Ada yang ingin penjualannya melejit. Nah itu, tugas kami dalam menjadi coach, trainer atau motivator.
Saat membantu klien, kami tidak hanya menggunakan kata-kata indah. Dalam pelatihan dan sesi motivasi kadang kami menggunakan sindiran dan tamparan dengan kata-kata keras. Untuk melecut dan menyadarkan. Jadi tidak hanya kata-kata manis saja. Kebetulan, yang sering viral adalah kata-kata manis dari kami. Yang pedas-pedas, biasanya hanya disaksikan oleh klien-klien terdekat kami yang memiliki keyakinan penuh pada kami.
Tugas kami tidak hanya jualan kata-kata indah saja. Kemi menyediakan platform, metode, latihan, dan teori untuk mempercepat kesuksesan yang diinginkan oleh klien. Salah satunya ya dengan membuat kalimat-kalimat afirmasi dan penyemangat. Tapi kalimat-kalimat itu hanya 5% dari keseluruhan pekerjaan kami. Kami harus membuat kurikulum pengajaran, membaca puluhan bahkan ratusan buku dan jurnal, mengikuti pelatihan dan sertifikasi, melakukan follow up pada kemajuan klien dan juga harus melakukan marketing bagi bisnis kami sendiri.
Masalahnya, netizen kan paling suka mengutip-ngutip kalimat afirmasi yang kami buat. Itulah yang menyebabkan seakan-akan tugas kami hanya jualan kalimat manis nan indah. Itupun tidak kami sesali. Karena nyatanya, tidak semua orang mampu membuat rangkaian kata yang layak untuk dikutip. Tapi lagi-lagi saya ingatkan, bahwa tugas motivator tidak hanya itu.
Banyak orang yang masih menganggap bahwa dampak dari pekerjaan motivator tidak dapat dilihat dan diukur. Intinya, masih banyak orang yang menganggap bahwa motivator dan seminar motivasi tidak ada gunanya. Untuk orang-orang yang demikian, saya tidak akan menyalahkan atau menghakimi. Biarkan saja. Nyatanya saya sendiri sudah merasakan besarnya pengaruh coach dan mentor di kehidupan saya.
Dalam kehidupan saya ada coach yang mengajari saya bagaimana membangun bisnis di bidang pendidikan, ada coach yang mengajari kepemimpinan, ada coach yang mengajari saya menang berbagai lomba, ada coach yang mengajari saya membangun jejaring, dll. Dan karena mereka, saya bisa mencapai target saya lebih cepat dan efektif. Belajar dari mereka juga, saya ingin membantu klien dan audiens saya untuk mengoptimalkan kapasitas mereka.
Jadi apakah hidup memang seindah bac*t motivator? Untuk menjawab ini, silakan ikuti sesi motivasi saya atau undang saya sebagai pembicara untuk lebih memastikannya.

Tinggalkan komentar