Dr. Hendi Hampir Tidak Lulus Kuliah

Banyak yang tidak tahu kalau sebenarnya saya dulu hampir tidak lulus kuliah. Mengingat saya sekarang adalah seorang dosen dan coach transformasi pendidikan, tentu tidak akan ada yang menduga bahwa ada masanya di mana saya sendiri meragukan diri saya untuk bisa mendapatkan gelar sarjana. Tidak berlebihan kiranya, salah satu nikmat Allah Swt. yang paling saya syukuri adalah nikmat menjadi Sarjana alias lulus kuliah. Ada beberapa titik sejarah saya yang membuat saya “hampir saja” tidak pernah menjadi Sarjana.

Menjadi Siswa SMK

Sejarah paling awal yang menyebabkan saya tidak yakin untuk kuliah adalah kenyataan bahwa saya adalah anak SMK. Dulu saya mendaftar SMK dengan jurusan Elektronika Komunikasi dengan harapan bisa langsung kerja setelah SMK. Kebetulan saat itu saya belajar di SMK yang lama belajarnya adalah 4 tahun, sehingga lulusannya sering disetarakan dengan tingkat D1.

Pada tahun-tahun itu, anak yang sekolah ke SMK, tujuannya hanya satu. Untuk siap kerja setelah lulus dan sebisa mungkin tidak merepotkan orang tua. Dan benar, 90% dari teman saya yang lulus SMK bersama saya tidak melanjutkan kuliah. Saya pun sebenarnya sudah siap untuk tidak kuliah, tapi takdir berkata lain.

Bapak saya tiba-tiba memanggil saya ketika saya hampir wisuda SMK. Beliau berkata: Nak, kamu kuliah saja, saya ada sedikit uang. Saya langsung berteriak kegirangan, Asyikkkk. Membocorkan bahwa saya sesungguhnya memang lebih memilih kuliah daripada kerja. Kalaupun saya tidak dikuliahkan oleh orang tua saya, saya akan bekerja sambil kuliah. Itu sudah menjadi tekad saya.

Bapak saya buru-buru menyambung: jangan bilang asyik dulu. Syaratnya ada tiga: (1) harus negeri, (2) jangan ambil jurusan yang mahal dan (3) tidak boleh jauh-jauh. Dengan ketiga syarat itu akhirnya saya mendaftar S1 pendidikan bahasa Inggris di Universitas Negeri Semarang dan akhirnya diterima melalui jalur SBMPTN (atau apapun namanya sekarang, intinya tes tulis tingkat nasional). Bayangin aja, SMK Elektro malah daftar kuliah bahasa Inggris. Aneh-aneh saja.

Ikut Pertukaran Pelajar

Pada semester ke tujuh, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pemuda ke Australia. Programnya cukup panjang sehingga saya harus mengosongkan saya untuk ikut program ini. Saya sangat bahagia mengikuti program ini karena memang sangat mengesankan. Saya bertemu orang baru dan budaya baru. Saya bisa magang di sekolah yang ada di Australia. Saya pertama kalinya memiliki passport dan pertama kalinya naik pesawat ke luar negeri. Dan semuanya gratis dibiayai oleh Negara.

Tapi masalahnya, ketika saya pulang ke Indonesia, studi saya jadi carut marut. Teman-teman saya seangkatan sudah melaksanakan KKN dan PPL (magang mengajar), sedangkan saya belum. Teman-teman juga sudah mulai mengerjakan skripsi, saya juga belum apa-apa. Kabar buruknya, kalau saya ingin KKN dan PPL maka saya harus menunggu tahun depan, karena makul tersebut hanya ditawarkan di semester ganjil.

Hati saya mengatakan “Wassalam”. Karena orang tua saya jelas tidak mampu membiayai semester tambahan. Saya tidak pernah menduga ternyata kuliah yang sudah saya perjuangkan seperti ini hanya akan berakhir DO saja. Kala itu saya ingat saya Salat Tahajud sambil menangis. Dan di situ saya mendapatkan jalan keluar yang tidak diduga-duga.

Muncul ide saya untuk mengajukan penyetaraan. Saat itu belum ada program Merdeka Belajar. Jadi konsep yang saya ajukan itu tidak umum dan belum pernah dilakukan. Saya memohon kepada satgas KKN untuk mengakui pengabdian saya selama program pertukaran dan dikonversi menjadi nilai KKN. Dan disetujui. Saya juga memohon kepada Kepala PPL untuk menilai magang saya di Australia sebagai pengganti nilai KKN. Itu juga disetujui.

Hore, tidak jadi DO. Saya akhirnya bisa lulus di semester 8 dengan gelar lulusan terbaik Fakultas dan juga lulusan terbaik Universitas.

Masalah “Lain-lain”

Di saat saya kuliah, keluarga saya juga sedang sangat terguncang. Bapak saya menikah lagi dengan wanita orang lain dan Ibu saya juga meminta berpisah. Kondisi keluarga sedang tidak baik-baik saja. Keluarga diwarnai pertengkaran. Tetangga sekitar juga bergunjing. Ekonomi keluarga juga semrawut. Bukan kondisi ideal untuk bisa menyelesaikan perkuliahan.

Karena kejadian-kejadian di atas, saya merasa bahwa menjadi Sarjana adalah suatu berkah yang layak saya syukuri berkali-kali. Tanpa ada gelar itu mana mungkin saya kemudian bisa mendapat beasiswa S2 ke luar negeri dan bahkan menjadi Doktor seperti sekarang ini.

Boleh saja bagi saya, Sarjana adalah cerminan dari salah satu lagu SO7 yang berjudul Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Jadi untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk lulus, berusahalah yang terbaik. Seberat apapun tantangan, harus ditaklukkan. Yang tampak IMPOSSIBLE perlu diubah menjadi I’M POSSIBLE.

XOXO. Coach Hendi.

P.S. Jangan lupa subscribe blog edutrans.id agar selalu mendapat update dari saya. Karena saya menulis di waktu-waktu yang cukup random, jadi kalau tidak subscribe, akan ketinggalan.

Tinggalkan komentar