Saya sebagai dosen bahasa Inggris akan selalu ingat bagaimana proses saya bisa bahasa Inggris seperti saat ini dan bisa mengajar Bahasa Inggris. Mengapa saya akan selalu ingat? Karena bahasa Inggris bukanlah bahasa Ibu saya. Bahasa Inggris adalah bahasa yang baru saya pelajari ketika saya berumur belasan, dan mungkin baru benar-benar saya kuasai pada umur dua puluhan.
Perjalanan saya mempelajari bahasa Inggris tergolong pembelajaran ala orang dewasa. Saya belajar melalui kursus, membaca buku, menghafal kata, mempelajari grammar dan kuliah di jurusan Bahasa Inggris. Semua saya lakukan dengan sadar dan setiap perjuangannya saya lalu dengan “cukup lambat” selama bertahun-tahun. Ini yang membuat saya selalu bingung ketika ditanya oleh murid, mahasiswa atau klien saya “Pak, bagaimana cara belajar bahasa Inggris dengan cepat?” Saya jawab. Secepat-cepatnya membutuhkan tahunan. Minimal untuk komunikasi membutuhkan satu tahun belajar intensif. Itu pun dengan kosakata, kelancaran dan fungsi sosial yang terbatas.
Beda saya, beda juga anak saya. Sebagai seorang dosen bahasa Inggris saya ingin anak saya bisa bahasa Inggris dari kecil. Saya memikirkan dua hal utama. Satu, masa depannya. Dua, masa depan saya. Berhubungan dengan masa depannya, saya sudah memiliki keyakinan bahwa bahasa Inggris bisa meningkatkan value dia di masa depan. Saat dia bisa bahasa Inggris dari kecil, tentu sekolah dan kuliah pasti akan lebih mudah. Jika harus membaca buku bahasa Inggris, dia tidak perlu lagi buka-buka kamus seperti saya dulu. Nanti juga kalau sudah masuk ke usia kerja atau usia produktif, bahasa Inggrisnya akan berguna bagi bisnis dan kariernya. Saya yakin itu.
Terus apa hubungannya dengan masa depan saya? Lho, lho, lho. Ada donk hubungannya. Saya sebagai dosen Bahasa Inggris perlu personal branding dan marketing yang kuat. Jika anak saya bisa bahasa Inggris dengan lancar dan canggih, maka profesi saya akan terangkat di mata publik. Tapi jika anak saya gagal menguasai bahasa Inggris, efek marketingnya akan sangat buruk. Mosok, anake dosen boso Inggris rak iso boso Inggris.
Dosen vs Anak Dosen
Maka sekarang di usia anak saya yang menjelang 12 tahun, dia sudah bisa menguasai bahasa Inggris dengan lancar. Sejak kecil saya dan ibunya, membiasakan dia untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Tontonan yang kami siapkan untuk dia juga dalam bahasa Inggris. Buku-buku yang dia baca juga bahasa Inggris. Tidak seperti saya dulu, dia tidak perlu mempelajari grammar dan vocabulary secara terpisah. Dia “tiba-tiba” bisa menguasai semuanya. Selama bertahun-tahun menggunakan bahasa itu sejak balita, grammar dan vocab terserap secara alamiah.
Saat saya tanya pada dia, “dalam otakmu, kamu berdialog dalam bahasa apa?”. Dia mengatakan bahwa, dia berdialog dengan dirinya di dalam otaknya menggunakan bahasa Inggris. Itu artinya, dia adalah seorang bilingual yang mendekati kemampuan “native speaker” Bahasa Inggris. Dia tidak memerlukan kursus bahasa Inggris. Bahkan saat ini dia lagi getol-getolnya ikut lomba speech contest di tingkat kelas 5 SD.
Artinya semuanya berjalan dengan lancar untuk anak dosen? Tidak juga.
Ada beberapa permasalahan yang aneh menimpa anak saya. Masalah yang pertama yaitu bahasa Indonesia yang dia kuasai sangat aneh baik struktur atau pengucapannya. Dia sering membuat kalimat seperti “Saya membuat teman hari ini”. Aneh kan? Karena dia menerjemahkan dari kalimat bahasa Inggris “I made friend today, Dad”. Jadi bahasa Indonesianya terdengar seperti robot. Jika menulis bahasa Indonesia, anak saya nilainya tidak pernah sempurna karena keanehan tata bahasanya.
Yang lebih parah lagi, sebagai orang Semarang dia tidak bisa bahasa Jawa sama sekali. Walaupun ada muatan lokal bahasa Jawa di sekolah, rasa-rasanya tidak berimbas sama sekali. Saya dan istri saya sering menggosip tentang dia menggunakan bahasa Jawa, dan dia tidak paham sama sekali. Itu membuat saya khawatir karena dia orang Jawa: moso ora iso boso Jowo.
Bagus mana, bahasa Inggris Pak Dosen dan Anak Dosen?
Jawabannya jelas: bagus anaknya. Kelancaran menang dia. Kosakata sehari-hari menang dia. Slang dan idioms, dia menggunakan dengan santai dan tanpa mikir. Pronunciation, jelas menang dia. Bahkan dia bisa menirukan aksen British, Amerika dan India ketika bercanda. Satu-satunya kelebihan Bahasa Inggris saya adalah kemampuan saya menulis ilmiah dan berbicara formal dalam Bahasa Inggris. Selain itu, semuanya menang dia.
Jadi apakah saya menyesal karena semua itu? Enggak donk. Sudah saya sampaikan tadi, bahasa Inggris anak saya adalah iklan yang baik untuk menunjukkan bahwa saya adalah dosen Bahasa Inggris yang baik. Hehehehe.
Jangan lupa subscribe di blog ini untuk mendapatkan cerita dan tips menarik langsung dari saya.
XOXO. Coach Hendi

Tinggalkan komentar