Kerja Dulu? Atau Kuliah Dulu?

Pertanyaan tentang kerja dulu atau kuliah dulu merupakan pertanyaan yang sangat familiar di benak saya. Paling tidak ada dua alasan kenapa pertanyaan tersebut sangat familiar bagi saya. Yang pertama, karena pertanyaan ini sering muncul di DM dan komen-komen akun Instagram dan Tiktok saya. Yang kedua, pertanyaan ini juga menghantui saya ketika saya dulu lulus SMK dan lulus kuliah. Jadi menurut saya, ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa pertanyaan kerja dulu atau kuliah dulu merupakan overthinking yang wajib dimiliki semua orang di suatu masa dalam hidupnya.

Saya akan membedakan dua kondisi tentang pilihan kerja dulu atau kuliah dulu, pada dua tahap dalam hidup. Yaitu tahap ketika kita lulus SMA/SMK dan yang kedua ketika kita lulus S1. Walaupun pertanyaannya sama yaitu “kerja dulu atau kuliah dulu”, dua momen di atas memiliki situasi yang berbeda dalam kehidupan kita dan oleh karena itu memiliki konsekuensi yang berbeda pula.

Ketika Lulus SMK/SMA

Ketika lulus SMK/SMA kita akan dihadapkan pertanyaan mau kuliah dulu atau kerja dulu. Pertanyaan ini biasanya muncul di keluarga menengah ke bawah, termasuk saya saat itu. Orang tua dengan ekonomi menengah ke bawah, seperti orang tua saya, telah bersusah payah mendorong saya untuk lulus SMK. Mungkin saja, mereka sudah hutang sana-sini saat harus membayar SPP saya di kala itu. Jika dilihat lebih lanjut, pilihan untuk mengambil SMK adalah sebuah fail safe yang memang dipersiapkan oleh orang tua saya jika 90% kemungkinan saya tidak bisa mengenyam kuliah.

Bapak saya cukup terbuka pada saya saat itu sejak kelas 1 SMK (atau kelas 10 kalau menggunakan jargon sekarang). Bapak saya meminta saya untuk sekolah di SMK agar: jika bapak saya tidak mampu menguliahkan saya, maka saya sudah siap untuk bekerja. Bekerja apapun tidak apa-apa asal halal, kata beliay. Tapi sejak awal juga beliau juga mengingatkan bahwa kalaupun saya langsung bekerja dan tidak kuliah, maka harus rajin menabung nantinya agar bisa berkuliah. Bapak saya berujar bahwa kuliah adalah impiannya yang dulu kandas. Menurut beliau, saya harus kuliah bagaimanapun caranya. Entah langsung kuliah setelah lulus SMK atau bekerja dulu baru kuliah.

Ketika saya menyelesaikan studi SMK, beruntungnya saya sudah pernah berpacaran dua kali. Ini out of topic. Saya mau pamer aja hehehehe. Oke kita lanjutkan. Ketika sata menyelesaikan SMK, saya langsung overthink. Mau kerja dulu atau kuliah dulu? Kalau misalnya kerja, kayaknya pasti dapat kerjaan manual dan tidak mungkin kerja kantoran. Waktu itu, saya hanya tahu kalau kerjaan kantoran itu keren. Tidak ada informasi lain saat itu.

Namun jika saya ngotot kuliah, apakah orang tua saya mampu untuk membayari kuliah sampai selesai? Mungkin saja hanya kuat di awal, tapi sehabis itu keok di tengah. Overthink yang seperti ini tidak bisa saya selesaikan sendiri. Saya berdiskusi dengan orang tua tentang kegalauan saya. Untungnya mood orang tua saat itu sedang baik, jadi diambilah keputusan sebagai berikut:

  1. Saya boleh kuliah asal negeri.
  2. Jurusan bebas, asal bayarnya murah.
  3. Jangan jauh-jauh, nanti mahal di ongkos.

Keputusan ini sangat membantu saya untuk melangkah. Sayangnya, syaratnya tidak mudah. Karena harus negeri maka saya harus ikut ujian tulis tingkat nasional, saat itu namanya UMPTN. Jalur rapot sedang tidak dibuka tahun itu. Ujian mandiri hanya berlaku untuk kelas ekstensi, yang lebih mahal. Kemudian saya kerja keras belajar untuk ujian tulis, dan akhirnya diterima di UNNES. Kenapa UNNES? karena waktu itu UNNES terkenal murah dan UNDIP masih dianggap mahal oleh orang tua saya.

Untuk masalah jurusan, saya sangat ingin mengambil jurusan komputer, tapi saat itu di UNNES belum ada. Maka saya ambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, karena saat di SMK saya sempat menang beberapa kali juara pidato dan baca berita bahasa Inggris. Hanya seperti itu saja pertimbangan saya.

Jika anda lulus SMA/SMK dan anda bingung dengan keputusan mau kuliah dulu atau kerja dulu, maka perhatikan beberapa variabel berikut:

  1. Apakah orang tua anda mampu atau tidak? Kalau mampu lanjut aja kalau tidak mampu lanjutkan pada pertanyaan dua.
  2. Apakah orang tua masih membuka kesempatan untuk memberi solusi? Misal boleh lanjut asal jual motor atau jual sapi? Nanti anda diminta untuk mencicil. Atau anda diminta cari beasiswa. Eksplore kemungkinan-kemungkinan itu.
  3. Kalau memang sudah benar-benar mentok, kerja aja dulu. Siapa tahu dengan kerja anda akan bisa menabung untuk kuliah kelas karyawan nantinya.

Sebagai data pendukung, hanya 10% dari teman SMK seangkatan saya dulu yang langsung kuliah setelah selesai studi. Kebanyakan dari mereka kerja atau berwirausaha setelah SMK. Tapi saat reuni ke-10 kemarin, sekitar 90% dari mereka sudah menyelesaikan S1. Hanya 1 orang yang menyelesaikan doktor. Siapa ya kira-kira. Hehehehehe.

Ketika Lulus Kuliah S1

Setelah lulus S1, saya juga mengalami overthinking yang sama. Tapi situasinya sudah berbeda. Melanjutkan kuliah ke jenjang S2 itu tidak wajib dan tidak urgent. Hehehehe. Sehingga overthinkingnya tidak perlu berlebihan.

Secara umum ijazah S1, sudah sangat cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang anda inginkan. Ya walaupun memang masih harus berjuang mati-matian bersaing dengan sesama jenjang S1 (atau dengan orang dalam), tapi memang syarat untuk bersaing di dunia profesional memang cukup S1 saja. Adapun, gelar S2 hanya bonus belaka. Tidak akan tiba-tiba mengubah peruntungan anda dalam pencarian kerja.

Gelar S2 atau spesialis memang berlaku untuk beberapa jenis pekerjaan tertentu seperti dosen atau psikolog, tapi sesungguhnya 95% pekerjaan lain tidak membutuhkan gelar S2. Oleh karena itu, ketika anda bingung apakah harus kerja dulu atau kuliah dulu, setelah lulus S1 maka jawabannya sangat mudah. Kerja dulu, kemudian sambil kerja mulai memikirkan apakah pekerjaan anda membutuhkan S2 atau tidak. Kemudian anda mulai bertanya, apakah anda sendiri akan merasa lebih bahagia saat kuliah S2 atau tidak?

Setelah kuliah S1, anda bisa langsung S2 jika:

  1. Mendapat pembiayaan dari orang tua dan orang tua bilang, udah santai aja gak usah mikirin duit.
  2. Mendapat pembiayaan dari beasiswa atau lainnya.
  3. Anda punya uang sendiri untuk pembiayaan S2 (hasil menabung atau lainnya)
  4. Tidak ada kehidupan yang terganggu gara-gara anda kuliah (misalnya jangan sampai adik anda putus sekolah, gara-gara anda kuliah S2)

Setelah anda kuliah S1 dan anda langsung kerja, maka mulai pikirkan tentang kuliah S2 jika:

  1. Anda merasa tertantang secara akademis. Anda memang suka sekolah.
  2. Anda merasa karir anda akan melesat jika menyelesaikan S2.
  3. Anda mendapat pembiayaan dari beasiswa atau dari kantor
  4. Anda ingin refreshing dan memperluas network dengan cara elegan
  5. Sama seperti sebelumnya, jangan sampai kuliah S2 anda mengambil hak orang lain atau mengganggu hidup orang lain.

Berkaca dari pengalaman saya, saya sendiri bekerja dulu sebelum kuliah S2. Saya bekerja sebagai guru honorer, guru privat dan pengajar bahasa Inggris di perusahaan. Bahkan saya sempat menikah dulu dan baru kuliah S2. Saya lulus S1 tahun 2006, menikah tahun 2007 dan kuliah S2 di tahun 2008 karena mendapatkan pembiayaan dari pemerintah.

Jadi menurut anda, kuliah dulu atau kerja dulu?

Tinggalkan komentar