Pernah suatu hari saya pulang dari luar kota untuk mengisi dari suatu acara universitas. Biasanya saya sangat happy dan bersemangat ketika pulang dari mengisi suatu acara. Apalagi jika pesertanya ratusan dan tampaknya memang hampir semua peserta telah mengenal saya atau mengharapkan kehadiran saya. Tapi kali ini agak lain ceritanya. Saya tampak bersungut-sungut setelah selesai acara. Saya merasa penampilan saya tidak maksimal seperti biasanya.
Saya mengukur keberhasilan suatu acara yang saya isi, biasanya dengan membaca respon penonton. Kalau penonton tampak aktif, riang gembira dan interaktif, saya menganggap acara tersebut sukses. Saya sebagai pembicara berarti tampil cukup maksimal karena respon penonton terlihat puas. Panitia juga biasanya mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Ketidak-idealan Pertama
Namun kali ini banyak hal terasa canggung. Dari awal penonton yang terdiri atas mahasiswa baru, tidak duduk rapi dan tidak baris rapi. Mereka malah keluar masuk ruangan. Suasana sudah tidak kondusif. Saya tanya kepada panitia, mengapa peserta keluar masuk ruangan. Panitia berkata bahwa hari itu sebenarnya proses kuliah sudah dimulai. Ada dosen yang mengizinkan mahasiswa ikut acara ini dan ada yang tidak.
Dari situ saya sudah ketar-ketir. Sebagai pembicara publik yang biasa mendapatkan perhatian penuh dari penonton, saya tidak bisa fokus karena peserta lalu lalang. Ada yang baru masuk dari pintu kemudian duduk. Ada yang sudah duduk, kemudian hilang satu persatu. Benak saya mengatakan “saya harus tetap profesional”. Saya lanjutkan dengan semangat tidak peduli ada berapa puluh peserta lagi yang keluar masuk ruangan.
Sound System Ruangan Turut Ngambek
Masalah yang kedua berasal dari sound system. Ruangan itu adalah ruang olah raga. Sound system yang dipasang tidak jernih dan bergaung. Saya saja kesulitan mendengar suara saya sendiri. Saya yakin penonton juga hanya mendengar 50 persen dari apa yang saya katakan. Saya sudah mainkan mic, saya jauhkan dan dekatkan ke mulut saya. Tidak ada perubahan. Akustik ruangan juga tidak mendukung. Saya selalu mengandalkan interaksi penonton dalam ruangan. Biasanya berupa suara tertawa, suara jawaban mereka terhadap pertanyaan retorik saya, atau sekadar tepuk tangan biasa. Karena ruangan terlalu luas, suara penonton tidak dapat saya evaluasi. Apakah mereka menikmati atau tidak menikmati acara ini? Saya tidak pernah tahu.
Ruangan Tanpa AC, Sauna Gratis
Masalah yang ketiga adalah cuaca panas dan ruangan yang tidak ber-AC. Kalau dulu, saat saya sekolah atau kuliah, AC adalah hal langka. Sekarang ruangan besar tanpa AC, bisa membuat orang jadi salah tingkah. Hampir semua orang memegang kertas untuk kipas-kipas. Bagaimana mereka bisa fokus pada materi saya? Saya tidak pernah tahu. Kemungkinan tidak fokus sama sekali, karena saya juga merasakan gerah yang sama.
Public Speaking tidak Selalu Ideal
Kejadian tersebut bisa terjadi di setiap 1 dari 10 penampilan saya. Artinya, itu adalah kejadian berulang dan kadang tidak bisa diantisipasi. Saya sudah meminta panitia untuk menertibkan peserta, tapi mereka kuwalahan. Saya minta sound system yang lebih baik, sudah tidak mungkin diadakan. Saya minta AC disediakan, tentu tidak akan bisa saat itu juga.
Jadi apa yang bisa saya lakukan? Saya tetap menjalankan tugas saya dari awal sampai akhir. Sebagai pembicara yang biasanya terkenal lucu dan interaktif, hari itu saya tampak seperti pembicara yang ngotot berbicara. Tidak tampak lucu dan tidak tampak interaktif. Penonton tidak mau merespon pertanyaan saya. “Di sini ada yang punya iPhone?” “Di sini ada yang LDR?” Tidak ada respon sama sekali.
Saya tetap selesaikan tugas saya. Saya juga menerima honor seperti biasa. Walaupun tampak bahwa panitia menyiratkan wajah “pembicara semahal ini kok tampilnya biasa saja” Mungkin mereka sempat mengira bahwa konten saya selama ini hanya efek kamera belaka. Ya sudahlah. Kadang-kadang situasi tidak selalu ideal. Kita hanya perlu melaksanakan tugas dengan profesional dan kemudian move on.
Saran saya kepada temen-temen: jangan terlalu menyalahkan diri ketika situasi tidak ideal. Tetap tampil profesional dan lalui hari itu dengan lantang. Siapkan diri ke tantangan selanjutnya. Jangan lupa follow instagram saya @hendipratama dan juga subscribe ke blog ini (www.edutrans.id) untuk tips penting dalam kehidupan profesional.


Tinggalkan komentar