Kalau teringat kisah ini, istri saya pasti selalu gondok. Cerita ini juga menjadi salah satu cerita favorit dia untuk dia ceritakan ke teman-temannya. “Kalian tahu nggak, si Hendi dulu sebelum nikah malah nginterogasi aku.” Sambil bersungut-sungut dia melanjutkan cerita, ada soal matematika dan ada soal tentang cita-cita. Aneh banget sumpah.
Kalau saya pikir-pikir lagi, emang aneh sih dulu kok bisa begitu. Yang lebih aneh algi, dia sebel banget tapi masih mau nikah sama saya. Alhamdulillah. Walaupun pertanyaan-pertanyaan itu terkesan aneh, tapi saya punya alasan sendiri mengapa saya menanyakan hal tersebut pada dia.
Untuk masalah soal matematika, itu iseng saja sih. Karena saya mendengar bahwa kecerdasan anak saya nanti sangat didominasi oleh gen dari ibunya. Saya perlu garansi bahwa nanti anak saya gak bodo-bodo amat. Menurut versi diri saya 16 tahun yang lalu, hal ini sangat penting untuk saya tanyakan. Secara, saat itu saya terkenal sebagai Mapres, Duta Wisata dan Lulusan Terbaik. Hehehehe. Masa iya, nanti anak saya struggling di bidang akademik. Kan kasian. Intinya dari pertanyaan-pertanyaan saya seputar matematika dan sains, jawaban calon istri saya (cukup) memuaskan. Terbukti sekarang dia punya gelar berderet-deret dari bidang Sastra, Hukum dan Kenotariatan. Walaupun pertanyaan itu dulu memalukan, ternyata kan penting juga untuk masa depan pernikahan saya.
Terkait dengan pertanyaan tentang cita-cita. Saya memang sangat peduli dengan perkembangan diri seseorang. Baik diri saya maupun calon pasangan saya. Kebetulan saya waktu itu habis putus dan lepas dari sebuah hubungan yang menurut saya menghambat pengembangan diri saya di masa depan. Nah oleh karena itu, saya harus memastikan bahwa calon istri saya ini memiliki impian yang jelas, roadmap pertumbuhan yang realistis dan memiliki stamina mental yang cukup untuk berjuang bersama.
Jawaba istri saya saat itu sangat memuaskan sehingga saya memutuskan untuk mantap menikahi dia. Tapi tentu saja, ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dia sempat ngambek. Mungkin dalam hatinya dia menggerutu, “lah elu siapa, kok nanyanya gitu amat” Hehehehe. Intinya walaupun menggerutu, dia pun sadar bahwa saya tidak punya maksud jahat ketika menanyakan itu. Dan akhirnya, dia pun teryakinkan untuk menikahi saya.
Inti dari tulisan saya ini adalah: jika memang ada hal penting yang harus dibahas sebelum menikah, ya bahaslah. Baik itu masalah visi misi masa depan. Atau masalah finansial. Atau masalah pendidikan. Atau masalah keluarga. Bicarakan dan bahas sampai tuntas. Karena prioritas orang itu berbeda-beda dan hidup bersama orang yang prioritasnya sangat berbeda dengan kita dalam sebuah pernikahan akan membuat pernikahan sangat tidak bisa dinikmati. Padahal, pernikahan itu lama lho. Seumur hidup.
Oh ya. Mungkin ada yang belum tahu. Saat itu dia berumur 19 tahun. 🙂


Tinggalkan komentar