Tidak dipungkiri, lagu ini memang sangat easy listening. Lagu “Ojo Dibandingke” yang diciptakan oleh Abah Lala telah dipopulerkan oleh berbagai artis papan atas seperti Denny Caknan dan Ndarboy Gank. Juga sudah tidak terhitung dipopulerkan oleh ratusan penyanyi di Youtube. Intinya, lagu ini sangat relate bagi banyak orang, yang merasa hidupnya selalu dibanding-bandingkan. Itulah salah satu syarat untuk sebuah karya menjadi sangat terkenal: relatable bagi kehidupan orang banyak.
Saya sendiri tahu bagaimana lelahnya jadi orang yang dibanding-bandingkan. Bapak saya termasuk orang yang sulit puas dengan prestasi anaknya. Jadi beliau (seperti kebanyakan orang tua) membandingkan kemampuan saya dengan kemampuan anak tetangga atau anak dari sanak saudara yang lain. Ketika saya mendapatkan ranking di kelas, Bapak saya mengatakan kenapa saya belum pernah dapat piala seperti anak sebelah rumah. Ketika saya menang lomba beregu, beliau membandingkan dengan keponakan yang menang individual. Ketika saya mulai menguasai bahasa Inggris, beliau membandingkan saya dengan anak temannya yang menguasai bahasa Korea dan Jerman.
Ada perasaan lelah. Ada perasaan malu. Ada perasaan tidak diapresiasi, ketika dibanding-bandingkan dengan orang lain yang lebih tinggi prestasinya. Dalam konteks yang ada pada lirik lagu ciptaan Abah Lala, seorang pria juga akan merasa lelah, malu dan tidak diapresiasi jika dibanding-bandingkan dengan pria lain yang lebih di segala hal. Kemudian muncullah perasaan tidak mampu mengejar sehingga keadaanpun semakin menyedihkan.
Membanding-bandingkan: konotasi negatif?
Secara umum, budaya kita menegaskan bahwa kebiasaan membanding-bandingkan sebagai sesuatu yang negatif. Orang tua kita juga selalu mengingatkan bahwa jangan membandingkan harta dan kenikmatan yang kita miliki dengan harta dan kenikmatan orang lain, agar kita mampu bersyukur. Terlalu sering membandingkan, dikhawatirkan akan membuat kita selalu merasa kurang dan ujungnya menjadi kufur nikmat.
Yang lebih haram lagi adalah, membanding-bandingkan fisik seseorang. Kalau yang ini, bisa jadi fatal. Misalnya anda atau saya, ketahuan membandingkan fisik seseorang maka kita akan menjadi bulan-bulanan massa dan tidak mustahil akan menjadi musuh masyarakat. Kadang terbersit dalam pikiran kita dalam mengomentari penampilan fisik orang di depan kita, tapi tidak akan mungkin kita ucapkan.
Jadi apakah membanding-bandingkan selalu bersifat negatif?
Walaupun dalam beberapa kasus, sifat membanding-bandingkan adalah hal negatif, namun ternyata tidak semua “perbandingan” itu bersifat negatif. Secara prinsip kita boleh membandingkan beberapa hal dan dilarang untuk membandingkan hal lain.
Hal-hal yang boleh diperbandingkan adalah sesuatu yang bisa diubah manusia melalui usahanya, misalnya: kompetensi, karakter, kepemimpinan, dll. Sedangkan hal-hal yang tidak boleh diperbandingkan adalah sesuatu yang tidak bisa diubah oleh manusia misalnya: bentuk tubuh atau DNA yang melekat pada diri seseorang.
Pada titik ini, menjadi dilema bagi kita untuk memaknai lagu dari Abah Lala. Karena sebagai seorang pria, kita kadang dinilai oleh masyarakat berdasarkan kompetensi kita, pengetahuan kita, pengalaman kita dan kesuksesan karir kita. Jika merujuk pada konsep di atas, maka sesungguhnya kompetensi dan kesuksesan adalah sesuatu yang bisa diubah dan diusahakan oleh manusia. Dengan demikian, boleh diperbandingkan.
Saat kita mengizinkan diri kita untuk diperbandingkan secara kompetensi, maka kita jadi tahu posisi kita di tengah para pesaing. Kita bisa melakukan perbaikan untuk menjadi lebih baik. Kita jadi tahu, skill apa saja yang dibutuhkan untuk berkembang. Hal ini tidak akan bisa tercapai kalau kita tidak mau diberi masukan atau feedback. Perlu diakui bahwa menerima input dan masukan bukanlah sesuatu yang nyaman. Kita cenderung merasa diremehkan dan bahkan merasa “diserang” ketika mendapatkan kritikan. Tapi proses ini adalah proses yang wajib kita lalui. Feedback memang membuat tidak nyaman, layaknya luka-luka di ujung jari kita saat pertama kali belajar memainkan gitar. Tapi luka itu penting untuk menumbuhkan lapisan kulit yang lebih keras, untuk kita bermain gitar lebih baik lagi.
Proses pendidikan dan karir yang ada di dunia profesional juga menggunakan prinsip dibanding-bandingkan. Kinerja kita akan selalu dibanding-bandingkan dengan pekerja atau pelajar lain dengan sistem yang disebut sebagai “benchmarking”. Seringnya, kita juga dibanding-bandingkan terhadap Key Performance Indicators (KPI) perusahaan atau lembaga tempat kita bernaung. Artinya kinerja kita, akan selalu dibanding-bandingkan dengan norma tertentu. Kita bisa naik gaji atau turun gaji karena proses “dibanding-bandingkan”.
Kesimpulannya?
Walaupun lagu Abah Lala sangat relatable bagi kehidupan kita semua. Tapi nyatanya, tidak selalu berlaku secara universal. Untuk pertumbuhan kehidupan personal dan profesional, kita harus selalu mau dibanding-bandingkan. Pada titik tertentu, proses ini sangat melelahkan. Sehingga sekali-sekali, kadang kita harus beristirahat untuk berkontemplasi, agar tidak terlalu tertekan. Tapi hal itu hanya bisa dilakukan kadang kala saja. Jika kita hidup di dunia nyata yang “normal”, maka memang sebagian besar proses hidup kita harus melalui sistem yang terus “membanding-bandingkan”. Seindah apapun lagu Abah Lala, ternyata lagu itu tidak akan cukup mampu untuk menghentikan kebiasaan dunia yang selalu membanding-bandingkan.
Salam dari saya Hendi Pratama. Coach transformasi pendidikan anda.
Jangan lupa subscribe halaman ini dengan memasukkan email di halaman awal blog ini, agar anda tidak tertinggal informasi-informasi terbaru dari saya.


Tinggalkan komentar