Mengapa Menemukan Cinta Sulitnya Setengah M*dar?

Hampir setengah jam saya menunggu di terminal bus dekat sekolah saya. Kala itu, itulah tempat yang biasa dijadikan sebagai titik kumpul jika ada seseorang menunggu gebetannya. Saat itu saya masih kelas tiga SMP, dan hari itu adalah hari ulang tahun saya. Seminggu sebelumnya, saya berbisik pada salah satu teman perempuan saya kala itu.

Saya bilang, saya suka kamu, dan saya pengen makan sama kamu di hari ulang tahunku. Dia menjawab, “okay, tunggu aku di terminal bus jam sepuluh pagi, di hari ulang tahunmu”. Tentu girangnya bukan kepalang. Seperti melihat Indonesia lolos kualifikasi piala dunia.

Tiba di hari H, saya berangkat dengan gegap semangat. Berapi-api. Pukul sepuluh kurang lima belas saya sudah sampai di tempat yang dimaksud. Ada fakta yang terabaikan: hari itu ada lima teman saya yang datang ke rumah untuk merayakan ulang tahun saya. Dan semuanya hanya saya salami, dan saya pamit pada mereka. Mohon maaf, ada urusan yang lebih penting. Yaitu urusan cinta-cintaan.

Oh ya, lupa cerita. Saya belum pernah pacaran sebelumnya, jadi sesungguhnya saya tidak tahu apa-apa soal cinta. Yang pasti, meninggalkan lima teman yang sudah pasti baik dan membawakan hadiah ulang tahun, demi gebetan yang belum jelas juntrungannya. Itulah tanda-tanda penyakit bodoh yang disebabkan oleh cinta. Entah, cinta itu apa? Tapi ciri-ciri ketololannya cukup merata di semesta raya.

Jadi apakah dia akhirnya datang di terminal Bus durjana?

Sudah barang tentu dia tidak datang. Itulah kenapa kata durjana digunakan dalam konteks ini. Setelah satu jam setengah menunggu, tidak ada kabar dan tidak ada tanda cuaca, maka jelas dia tidak mungkin datang. Maklum, kala itu belum ada ponsel dan sejenisnya. Maksimalnya adalah mesin pager (red- semacam alat sms doank tapi satu arah), yang mekanismenya rumit blibet dan tidak semua orang mampu membelinya. Saya tidak punya alat atau mekanisme apapun untuk bisa menanyakan kepastian darinya.

Saya …. menangis. Seriusan. Menangis sesenggukan. Di terminal bus. Usia saya genap 13 di hari itu. Masih terlalu kecil dan terlalu muda untuk berjalan gontai karena patah hati. Umur saya terlalu ingusan gara-gara program fasttrack di bidang akademis, tapi slow track di bidang asmara. Pastinya, sesenggukan karena patah hati. Tapi juga sesenggukan karena telah mengabaikan lima sahabat yang main ke rumah dan saya abaikan keberadaannya.

Kesialan cinta pertama kalinya, tapi bukan terakhir kalinya.

Jungkir balik mampus gara-gara cinta itu terjadi berulang dan seperti tidak ada kapoknya. Beranjak ke SMK kelas 10, saya mulai naksir seorang teman wanita. Tapi karena trauma dengan kisah sebelumnya, saya tidak pernah berani mengutara. Hasilnya? Dia jadian dengan orang lain yang lebih pemberani dan tangguh. Padahal sudah berminggu-minggu saya selalu naik satu angkot dengan dia. Tapi gak pernah kesampaian proses ngomongnya. Suatu hari, gadis itu mengaku sempat suka dengan saya. Tapi bosen nunggunya, jadi mending jadian dan jalan dengan pria lainnya.

Kelas 11 tidak ada kejadian apa-apa. Masih tidak ada keberanian untuk mengutarakan pada siapa-siapa. Ternyata trauma cinta lama juga ya. Kelas 12 masih menyibukkan diri dengan lomba dan akademia. Maklum, karena di tahun-tahun sebelumnya saya dapat ranking belasan. Di tahun ketiga SMK, saya pengen fokus memperbaiki nilai. Akhirnya saya masuk rangking sepuluh besar tapi masalah cinta masih nol besar.

Uniknya, SMK saya menerapkan kelas 13. Yes agak aneh memang. Tapi kami mengaplikasikan tahun keempat SMK untuk magang. Nah di sinilah saya mulai berani bereksperimen kembali dengan cinta. Magang kan ada gajinya. Sehingga menraktir makan hingga nonton, sudah kelihatan ada modalnya. Saya coba menguji keberuntungan dengan adik kelas yang merupakan bunga desa di sekolah. Wait… what? Cinta saya diterima.

Kok bisa? Ternyata, dia lagi bosen sama pacarnya yang sekarang. Jadi lebih baik jadian sama saya. Wow wow wow. Ini berkah luar biasa. Puji Tuhan. Tapi ya gitu. Easy come ya easy go. Baru berjalan tiga bulan, si dia sudah minta putus. Ketika saya tanya alasannya ke dia. Jawabannya sangat simpel dan logis. Katanya, dia sudah bosan dengan saya, dan sudah menemukan yang baru. Walah .. walah .. walah. Saya truly broken heart again and again.

Masih belum kapok, uji coba peruntungan.

Berapa bulan kemudian, masih di tahun yang sama. Saya melirik salah satu teman kursus bahasa Inggris di LIA. Saya sudah gabung di LIA sejak dua tahun sebelumnya, tapi tidak pernah muncul keberanian untuk menggaet cewek SMA. Ada perasaan tidak percaya diri, karena saya anak SMK, dan kebanyakan cewek yang kursus di LIA saat itu adalah anak SMA. Tapi kemudian di tahun keeempat saya SMK, saya memberanikan diri untuk mengajak ngedate salah satu teman saya dari SMA 1.

Kondisi SMA 1 dan SMK saya seperti bumi dan langit. SMA 1 terkenal dengan siswanya yang tajir dan beberapa ada yang melintir. Parkiran mobil di sekolah itu penuh dengan mobil berbagai jenama. Sedangkan di SMK saya, tidak ada yang namanya parkir mobil. Yang ada hanya parkir motor dan parkir sepeda. Di SMK kami, jika ada siswa yang berangkat naik kawasaki ninja bekas 10 tahun yang lalu, sudah kami juluki konglomerat. Kebetulan waktu itu belum ada istilah Sultan.

Makanya, ketika teman les saya dari SMA 1 ini mau diajak ngedate oleh saya, maka saya merasa overproud. Terlalu overproud malah. Saya pamerkan dia ke teman-teman saya di SMK. Saya ajak dia nonton pensi ke mana-mana. Saya pengen kenalkan ke orang tua saya, tapi dianya belum mau. Saking overproudnya, dia jadi merasa tidak nyaman. Dan juga dalam durasi 3 bulan, dia pun minta putus. Waduh. Udah kayak lagunya Mahalini ya, Sial.

Mencari cinta di masa kuliah

Keinginan untuk mencari cinta yang serius, semakin menjadi-jadi. Apakah 3 bulan pacaran kemudian putus adalah sebuah kutukan? Tanya dalam hati saya. Amit-amit, jangan sampai jadi kutukan. Harus diusahakan dengan semangat dan akal sehat. Saya meyakinkan diri bahwa yang dulu-dulu itu kebetulan.

Tahun pertama kuliah, langsung gas pol. Saya mahasiswa Bahasa Inggris, naksir dengan mahasiswi Bahasa Indonesia di kala OSPEK. Langsung ngebut tanya nomor HP dan lain sebagainya. Tiba-tiba didatangi kakak kelas yang mengaku bahwa dia adalah pacar cewek itu. Saya digertak oleh dia, dan saya kabur. Dasar pengecut, kata orang-orang. Tapi menurut saya, memang nyawa saya itu lebih penting daripada cinta. Kalau beneran diajak tarung, udah pasti saya kalah. Udah mending main aman aja, cari yang lain.

Akhirnya saya beralih pada salah satu mahasiswi Sastra Perancis yang menurut saya ideal jika menjadi pacar saya. Oke gas. Mari kita tembak di kantin kebanggaan Fakultas. Dan tadaaaaa. Diterima guys. Jadi resmilah kita pacaran. Antar jemput udah pasti. Makan siang selalu bersama. Lha dalah. Belum ada 3 bulan, si dia udah minta putus. Dia bilang “tidak ada kecocokan visi misi hidup”. Ih apaan sih? Pacaran apa nyaleg dah?

Oke, di titik ini sakit sih tetap sakit. Tapi hati sudah mulai kebal dengan penolakan dan pemutusan hubungan. Harus lanjut nih, batin saya. Kutukan tiga bulan belum terpatahkan. Harus ada inovasi baru.

AHAAAAA. Ada ide. Ada ilham.

Selama ini kan saya yang mengejar-ngejar cewek. Sepertinya, saya yang selalu cinta atau naksir duluan. Makanya, cewek-cewek itu merasa arogan dan merasa punya power atas diri saya. Teringatlah saya pada satu pepatah, “lebih baik dicintai daripada mencintai”. Bagaimana kalau kita uji hipotesis itu? Hayuk kita uji.

Kebetulan nih. Ada temen dari fakultas lain yang suka curi-curi pandang kalau saya lewat di depan kantinnya. Menurut info ordal, katanya sih dia naksir sama saya. Oke langsung saja saya dekati dan responnya baik. Kita jalan bareng. Makan bareng. Nonton bareng. Dan belum ada status apapun. Tapi, saya sangat menikmati. Masalahnya, dia tidak sebegitunya. Dia resah tentang status itu. Maka diapun bertanya “kita ini sebenarnya apa? pacar atau bukan?” Saya menjawab dengan enteng “pacar donk”.

Saya sempat berpikir. Beneran nih enak begini. Saya gak usah ngejar-ngejar. Cewek yang mendesak-desak tentang status. Tidak usah di SMS duluan, dia udah sms di pagi buta. Gak usah diingetin makan, malah dia yang ngingetin makan. Bahkan malah membawakan makan ke kos. Gilak gak tuh? Sempurna. Mungkin inilah saatnya kutukan 3 bulan terpecahkan.

Emang bisa ya? Benar sekaligus salah. Memang benar, dicintai itu enak. Tapi lama-lama ya bosen juga. Tidak ada tantangan. Bahkan di titik tertentu, diposesifin juga bikin sebel. Kemana-mana ditanyain. Apapun yang saya lakukan harus dilaporkan ke dia. Itu semua atas nama cinta. Dan akhirnya, belum ada tiga bulan hubungan kami. Saya yang minta putus. Hedeh. Piye tho. Gak jelas blas.

Ternyata dicintai dan mencintai itu harus berimbang. Tidak bisa salah satunya saja. Perjalanan saya mencari cinta dan mematahkan kutukan 3 bulan, akan saya lanjutkan di tulisan selanjutnya. Mohon maaf nih, mata udah mulai merah, dan mulut sudah menganga-nganga tanda kantuk melanda. Pesan moralnya masih sama “ternyata susah ya mencari cinta”. Dan bagaimanakah solusinya? Tunggu lanjutan dari artikel ini.

Tinggalkan komentar