Setiap kali ada seminar tentang cara menjadi sukses, maka banyak orang mengerenyitkan dahinya karena ragu atau muak dengan kata sukses. Seringnya sih ragu ya, bukan muak. Tapi ada juga yang muak.
Atau kadang jika dalam konten video saya atau salah satu pelatihan yang saya menjadi narasumber, dan saya “keceplosan” menyebutkan kata sukses atau kesuksesan maka langsung ada peserta yang nyamber, “emang arti sukses itu apa Pak?” atau “emang ukuran sukses itu apa?” dan mungkin puluhan versi lain dari pertanyaan itu.
Jika tidak diselamatkan segera, maka kata kesuksesan akan segera mengalami peyorasi total seperti kata pencitraan yang dulunya netral-netral saja; sekarang jadi negatif gara-gara overuse di dunia politik. Saya yakin sesungguhnya kata kesuksesan memiliki makna yang netral dan cenderung positif. Lihat saja pada terjemahan kata success di kamus Oxford.
Success (noun): The accomplishment of an aim or purpose.
Sukses adalah pencapaian sebuah tujuan, menurut Kamus Oxford. Jadi tidak tampak adanya gejala bahwa kata kesuksesan ini adalah kata yang negatif. Tapi mengapa sekarang malah “kesuksesan” terancam memiliki makna yang ambigu dan negatif? Mari kita bahas, paling tidak ada tiga permasalahan dalam memaknai kesuksesan.
Pertama: Ketiadaan atau ketidakjelasan tujuan
Banyak orang yang memandang negatif atas kesuksesan disebabkan karena ketiadaan tujuan yang terdefinisikan secara jelas di dalam kehidupannya. Keinginannya masih berupa konsep abstrak yang belum bisa diverbalkan dengan baik. Karena sukses adalah” keberhasilan mencapai tujuan” dan ternyata tujuannya belum ada: maka, orang tersebut tidak akan pernah merasa sukses. Itulah yang menjadikan kesuksesan memiliki konotasi negatif di mata orang-orang tertentu.
Misal ada seseorang yang tujuan hidupnya adalah bermanfaat bagi orang banyak: tapi tidak spesifik bagaimana indikator kebermanfaatannya. Ternyata suatu hari dia sadar bahwa dia sangat bermanfaat bagi orang karena dirinya adalah bahan cemoohan yang paling universal di lingkungannya. Karena dia bahan cemoohan yang sangat asyik, maka orang di sekitarnya merasa bahagia karena terhibur oleh dia. Itu salah satu contoh ekstrim bahwa kesuksesan yang tujuannya tidak terdefinisikan dengan jelas akan membawa kemalangan.
Kedua: Sukses bersifat personal.
Karena sukses bersifat personal, maka besar kemungkinan bahwa sukses bagi satu orang berbeda dengan definisi sukses orang lain. Di sini terjadi kecenderungan bahwa banyak orang terlalu memuji standar sukses bagi dirinya sendiri dan menganggap rendah kesuksesan bagi orang lain.
Saya teringat bahwa salah satu paman saya sangat mendambakan menantu tentara atau polisi. Dia sangat bangga pada akhirnya, dia mendapatkan menantu yang polisi. Dan dia mengatakan pada saya bahwa pekerjaan apapun tidak ada yang “sesukses” polisi. Di sisi lain, ibu saya berpikir lain. Ibu saya sangat membanggakan saya karena diterima PNS. Inilah yang menyebabkan paman dan ibu saya kadang masih saling menyindir. Bagi teman-teman saya yang pengusaha besar, saya dan sepupu saya sama-sama kurang sukses karena tidak memiliki freedom yang mereka miliki.
Ketiga: Standar sukses kita sendiri berubah
Bagi saya, dulu bisa makan di “restoran” yang ada AC nya dan menggunakan buku menu, itu merupakan salah satu tanda sukses yang sesungguhnya. Beberapa belas tahun berlalu, sekarang saya merasa “restoran” bukan lagi kemewahan atau kesuksesan. Demikian juga dulu ketika awal menikah, ketika tabungan saya mencapai 5 juta rupiah maka saya bergembira luar biasa. Sekarang ini, jika tabungan saya “tinggal” 5 juta, maka saya mulai panik dan memikirkan opsi-opsi recovery.
Tentunya kita adalah makhluk pelupa. Kita bertanya-tanya, kenapa kita tidak sukses-sukses? Padahal sesungguhnya, kita sudah sukses atas target yang pernah kita buat di masa lalu. Dan mungkin, bukannya kita tidak sukses, tapi kita sudah berubah target yang baru.
Terus kapan kita benar-benar merasakan sukses?
Sukses itu sebenarnya proses dan bukan hasil. Sukses itu lebih tepatnya berupa lifestyle dan mindset. Maka bagi orang yang berharap bahwa sukses itu garis finish, kesuksesan akan bermakna negatif selamanya.
Bagaimana sukses kita bisa rasakan? Tinggal putar balik 3 masalah di atas: (1) Tentukan tujuan yang jelas, (2) pedulikan target suksesmu, jangan pakai standar orang lain, dan jangan emosi ketika dikatain tidak sukses oleh orang lain, dan (3) jangan salahkan dirimu jika standar suksesmu sekarang berbeda dengan standar suksesmu dahulu. Karena success is a journey, not a finish line.


Tinggalkan komentar