Tetaplah Bodoh Jangan Pintar: Ala Tere Liye

Alhamdulillah, di libur lebaran ini saya bisa menyelesaikan satu novel dengan lancar dan menyenangkan. Maklum, selama ini kesibukan mengajar dan mengisi training sedang “ramai-ramainya” maka saya sering membaca buku dengan skimming, scanning dan terputus-putus. Kali ini tidak, novel karya Tere Liye ini saya lahap dalam waktu satu kali duduk dan selesai dengan perasaan yang campur aduk luar biasa. Novel ini tidak biasa. Bahkan saya sangat serius berharap, penulis novel ini tidak tertimpa “musibah” gara-gara menulis novel yang sangat berani.

Maaf Bukan Novel Cinta-Cintaan

Bagi para pencinta novel horor atau cinta-cintaan, bacaan ini bukan untuk anda. Novel ini lebih cocok untuk para pencinta cerita konspirasi, elit global dan peliknya perpolitikan dan bisnis tingkat tinggi. Bukannya Tere Liye tidak bisa menulis tentang percintaan, tentunya sangat bisa, tapi di novel lain bukan di sini. Novel ini full tentang kritik sosial, politik, berbangsa dan bernegara. Dengan plot twist, yang hanya dia dan Allah Swt yang bisa menebak. Kita para pembaca hanya bisa ternganga-nganga di setiap 20 halaman. Karena plot twist nya emang gila-gilaan: TIDAK TERTEBAK.

Tokoh Fiksi yang Terlalu Mirip dengan Tokoh Nyata

Keberanian Tere Liye dalam menulis novel ini terletak pada keberaniannya untuk “menyindir” tokoh-tokoh besar dan kuat di dunia nyata. Walaupun nama mereka sudah disamarkan. Walaupun di halaman depan novel ini ada tulisan: kisah ini fiktif belaka. Namun jiwa pembaca, dengan kuat bisa menebak, bahwa tokoh-tokoh itu sangat tersedia di dunia nyata. Itulah yang membuat saya deg-degan. Keselamatan Tere Liye bisa terancam karena tokoh-tokoh itu bisa saja tersinggung dan kemudian melakukan sesuatu yang buruk kepadanya. Tentunya, saya jangan terlalu khawatir karena para tokoh yang dia sindir mungkin terlalu kaya, terlalu powerful dan terlalu sibuk sehingga MANA MUNGKIN MEREKA SEMPAT BACA NOVEL. Tapi kan, bisa saja ada pembaca novel yang tukang mengadu dan tukang provokasi, bisa saja tokoh-tokoh itu diberitahu oleh para pembisik. Semoga jangan.

Tetaplah Bodoh Jangan Pintar?

Yang menjadikan saya penasaran adalah judul dari novel ini. Tetaplah bodoh jangan pintar!!!! Saya bermain tebak-tebakan dengan diri saya sendiri. Apakah ucapan ini terlontar dari orang pintar ke orang bodoh? Ataukah dari orang bodoh kepada orang pintar? Dan ternyata jawabannya, ada di tengah-tengah novel ini, di sekitar halaman 200-an. Kalau anda pengen tahu, silakan baca sendiri. Saya tidak mau jadi tukang spoiler. Saya punya keyakinan bahwa tukang spoiler akan masuk neraka dan disiksa secara khusus oleh malaikat anti spoiler. Jadi jangan memancing-mancing saya untuk jadi terhukum di neraka spoiler.

Novel ini Bacaan Berat.

Novel ini bukan untuk para pencari bacaan ringan pengisi waktu luang. Novel ini adalah untuk anda para pencari “kebenaran” dan tentunya novel yang berat. Kalau selama ini anda membaca novel lain dan kemudian terasa bahwa novel-novel itu terlalu lite, maka segeralah mencolek novel ini. Saya sendiri harus membaca dan menggoogling ulang beberapa konsep di novel ini yang tidak bisa saya pahami secara langsung saat membaca. Saya sangat suka ketika ada penulis menantang kecerdasan pembacanya. Saya bosan dengan novel yang terlalu mudah dipahami dan miskin plot twist, tanpa kejutan dan fakir teka-teki. Saya suka membaca novel yang membuat saya sedikit pening, deg-degan dan kemudian bertanya-tanya bahkan semua ini nyata terjadi? Kalau saya emang begitu seleranya, bagaimana dengan anda?

Tinggalkan komentar