Kupinang Kau dengan Bismillah

Saya seorang dosen dan dulu pernah menjadi guru honorer dengan gaji 400 ribu per bulan. Saat itu, saya bertemu dengan seorang wanita yang sangat memenuhi standar saya sebagai calon istri. Hanya dua bulan setelah kami berkenalan, saya memutuskan untuk melamarnya meskipun dia baru berusia 19 tahun dan masih semester tiga. Entah bagaimana, dia juga setuju dengan lamaran tersebut.

Kami memutuskan menikah dengan beberapa pertimbangan:
-Meski gaji saya sebagai guru hanya 400 ribu, pendapatan dari les privat saya bisa mencapai 2-3 juta per bulan.
-Kami mendapatkan kos yang cukup bagus dengan harga 350 ribu.
-Saya sedang mengajukan beasiswa untuk studi S2.
-Ada perumahan di sekitar yang kami impikan, dengan cicilan hanya 500 ribu per bulan pada tahun 2007.
-Kami berdua sama-sama merasa kesepian pada waktu itu.
-Biaya hidupnya (kayaknya) masih didukung oleh orang tuanya.
-Kami berdua memiliki motor masing-masing (Honda Supra dan Suzuki Shogun).

Akhirnya, kami memutuskan untuk menikah di Kantor Urusan Agama dan mengadakan pesta kecil di rumah dengan hanya makan nasi ayam bersama keluarga. Sekarang, sudah 17 tahun berlalu. Sungguh, saya meminangnya dengan penuh doa dan keberanian.

Setelah menikah, ternyata orang tua istri saya tidak lagi menanggung biaya hidupnya, termasuk uang kuliah tunggal (UKT) atau SPP. Situasi ini membuat saya semakin giat bekerja. Tujuh bulan kemudian, saya mendapat proyek mengajar privat di sebuah perusahaan, yang membawa pemasukan yang cukup signifikan. Lima belas bulan setelah itu, saya berhasil mendapatkan beasiswa S2 di Australia. Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah ke Australia bersama-sama. Kisah kami masih akan berlanjut.

Tinggalkan komentar