Menjadi Coach Bagi Istri dan Anak Sendiri

Saya ini termasuk coach yang tidak pandang bulu dalam melatih orang. Dulu saya ketika kuliah dikenal sebagai coach yang “galak” di organisasi debat. Tapi hasilnya lumayan banget. Jadi walaupun saya dianggap galak dan tegas, bahkan meminta para anggota latihan sampai jam 3 pagi setiap harinya, tapi mereka tahu bahwa cara saya melatih sangat efektif. Prestasi mereka cukup menggembirakan. Saya juga cukup tegas saat melatih semua asisten dosen saya. Hasilnya, 90% jebolan asisten dosen saya dapat beasiswa LN untuk kuliah lanjut.

Yang aneh, saya juga cukup ketat menjadi self coach. Alias, saya sangat disiplin mengecoach diri saya sendiri. Maka saya selalu push diri saya untuk mengikuti banyak lomba dan kegiatan. Misal duta wisata Mas Jawa Tengah. Lomba Pidato. Lomba Debat. Lomba Reality Show The Scholar Metro TV, Pertukaran Pemuda Australia, Pertukaran Dosen, dll. dll. dll. Bahkan sekarang ini saya sedang mendaftar program pertukaran aktivis muslim, di usia saya yang mendekati kepala 4 ini. Saya tegas dan galak dengan para mentee saya, tapi saya juga tegas dan galak pada diri saya sendiri. Wkwkwk.

Ketika dulu pernikahan saya menikah usia 3 bulan, saya “memaksa” istri saya ikut lomba speech contest. Saya latih dia dengan begitu semangat. Kadang dia nangis sendiri karena saya “agak galak”. Saya bilang ke dia, mode saya ngecoach dan menjadi kekasih memang amat berbeda. Sebagai coach saya sangat peduli dengan proses dan hasil. Harus ada perfomansi yang meningkat. Alhamdulillah istri saya jadi juara 2 di lomba tersebut. Not bad lah.

Kemaren giliran anak saya di kelas 5 SD yang saya “paksa” ikut lomba speech contest. Nangisnya lebih keras daripada istri saya dulu. Habis nangis, ketawa lagi. Latihan lagi. Begitu berulang-ulang selama beberapa minggu. Kakinya bergetar karena nervous, hampir saja batal lomba. Saya bilang, “don’t quit, don’t you ever quit”. Anak saya juga berkomentar, papa jadi coach kok galak amat. Padahal kalau jadi papa, penyayang banget. Saya bilang, progress itu penting dan kadang untuk mencapai progress harus painful. So bear with it. Hasilnya anak saya jadi juara harapan 1. Not bad lah, untuk peserta debutan.

Nah, Minggu kemaren anak saya dan istri saya menyindir saya terang-terangan saat makan malam bareng. Mereka menanyakan kenapa saya niat banget melatih mereka. Bahkan ketika mereka tidak mau dicoach, kenapa saya masih maksa.

Saya jawab dengan santai, “Kalian Itu Iklan Berjalan bagi Saya. Kalau Kalian gak Perform, mana ada yang percaya sama Coach Hendi Pratama”

Saya lanjut makan. Mereka cengingisan.

Tinggalkan komentar