Bolehkah akademisi menggunakan Chat GPT untuk menulis paper?

Saya mencoba merenungkan hal ini dalam beberapa minggu terakhir ini. Semakin banyak mahasiswa saya yang “terindikasi” menulis paper dan tugas akhir menggunakan chatGPT. Demikian saya sebagai reviewer jurnal, juga mulai menemui banyak submission yang “diduga” ditulis menggunakan chatGPT.

Saya mulai galau. Sebagai seorang pribadi, pendidik ataupun sebagai ilmuwan pendapat saya terpecah belah.

Sebagai pribadi, saya selalu pro terhadap penggunaan teknologi. Kalau ada teknologi baru, lebih baik dipakai. Toh dari dulu, banyak orang yang ngeyel tidak mau pakai smartphone, akhirnya ya kalah juga. Saya sempat berpikir, ChatGPT juga memiliki efek yang sama. Orang yang tidak pakai ChatGPT (atau sejenisnya) pasti akan kalah juga dan akan “terpaksa” memakainya untuk meningkatkan produktivitasnya. Maka untuk orang pada umumnya, saya merasa ChatGPT itu sangat membantu pekerjaan mereka.

Pandangan saya sebagai pendidik beda lagi karena concern saya adalah fokus pada proses pembelajaran. Kemarin saya sempat menguji mahasiswa yang karyanya terindikasi menggunakan ChatGPT. Banyak sekali konsep di dalam karyanya sendiri yang dia tidak paham. Banyak kalimat-kalimat yang terlalu generik di dalam karyanya. Pada akhirnya, saya berkesimpulan, dia tidak mendapatkan pembelajaran dari proses menulisnya. Dia hanya mampu mengcompile tapi tidak mampu menganalisis, mensintesis dan mengeluasi teori dan fenomena yang dia pelajari. Sayang sekali.

Pandangan saya sebagai ilmuwan agak ekstrim. Saya merasa penggunaan ChatGPT bisa membahayakan umat manusia dan bahkan membahayakan ChatGPT itu sendiri. Setahu saya, ChatGPT dan AI lain dilatih menggunaan jutaan database dari paper dan website yang (dulunya) ditulis oleh manusia. Artinya, ChatGPT hanya “mendaur ulang” keilmuan yang sudah ada. Nantinya kalau semua ilmuwan menulis menggunakan bantuan ChatGPT, saya sangat khawatir tidak akan ada lagi ilmu baru, kalimat baru, retorika baru dan style-style kreatif khas manusia. Akhirnya, internet dan paper ilmiah hanya dipenuhi karya-karya daur ulang. Menurut saya ini sangat berbahaya.

Kesimpulan sementara saya (biasa disebut dengan hipotesis), ChatGPT sangat membantu produktivitas manusia secara umumnya, tapi masih problematik jika digunakan secara massive oleh ilmuwan dan penulis kreatif. Ada yang punya pendapat lain? Dipersilakan.

Tinggalkan komentar