Bapak Saya Rela Berhutang untuk Menguliahkan Saya

Saya ingat betul bahwa keluarga saya termasuk keluarga yang tidak miskin. Tapi juga tidak kaya. Suatu situasi klasik di tahun 90-an, di sebuah kampung yang agak jauh dari pusat Kabupaten Semarang. Uang di keluarga kami hanya cukup untuk makan dan kebutuhan primer lainnya. Tidak ada yang namanya acara makan di luar rumah atau liburan keluarga terjadwal. Tampaknya uang terasa pas saja untuk kebutuhan primer. Jika saya berulangtahun, ibu saya akan memasak nasi kuning dan abon, atau Bapak saya mengajak makan sate, itupun setahun sekali. Semua kebutuhan dipress sampai ke tingkat yang efisien baik itu untuk gaya hidup maupun gadget. Alhamdulillah, saya masih sempat dibelikan Super Nintendo saat itu, tapi pada saat Play Station sudah keluar.

Secara umum, saya dan adik saya melihat sosok Bapak saya sebagai tokoh yang “pelit” dan “super ekonomis”. Hehehehe.

Tapi prinsip itu tidak dipakai beliau untuk urusan PENDIDIKAN. Untuk urusan PENDIDIKAN beliau tidak pernah pelit.

Saya mengetahui hal itu pertama kali saat saya berkeinginan untuk sekolah di pusat Kota Semarang, berjarak 40 Km dari rumah saya. Saya tinggal di kabupaten, dan untuk sekolah di sana ada kemungkinan saya harus naik Bus harian dan mungkin juga harus kos di Kota. Bapak saya bilang, oke. Kata beliau, demi masa depan saya yang lebih baik. Supaya tidak jadi “buruh” kayak beliau.

Saya kaget. Kok langsung OKE???

Keluar dari mulut seseorang yang sering berdebat dengan tukang parkir gara-gara kembaliannya kurang.

Dan saya pun dituruti untuk sekolah di luar kota.

Wow Banget. (Ya tentunya dengan uang saku yang sangat muepetttttt, tapi tak apalah)

Di kelas 11, saya mulai mengembangkan ketertarikan pada bidang bahasa Inggris. Seperti panggilan jiwa dan saya mulai ikut lomba bahasa Inggris ke sana kemari. Tapi kalah. Kalah. dan Kalah.

Saya bilang ke Bapak saya, “Pak saya perlu kursus di LIA Semarang, biaya per paketnya Rp. xxx.xxx”

Bapak saya bilang “OKE”

Whatttttt? Mind blowing banget. Ini beneran Bapak Gw? Wkwkwkwk.

Dan saya pun mendapatkan kesempatan kursus yang reguler 2 kali seminggu sampai saya lulus dari program Advanced 4 di LIA Tendean saat itu. Satu paket itu 3 bulan, dan saya perlu 7 paket sampai lulus tuntas semua level. Keren juga Bapak gw…. wkwkwk.

Tapi ya gitu, kursus sampai sore bahkan sampai malem ya tidak ada uang saku tambahan untuk saya. Kata beliau, cari sendiri ya. Untung saat itu saya sudah mulai magang dengan gaji Rp. 5000 per hari. Lumayan lah bisa beli nasi rames saat itu.

Dan hari yang mendebarkan pun tiba.

Hari kelulusan dari SMK pun tiba. Saya sudah disiapkan untuk bekerja di bidang elektro, oleh Bapak saya dan oleh kurikulum SMK. Tapi saya mencoba peruntungan saya.

Saya bilang ke Bapak saya “Pak, boleh nggak saya kuliah? Tapi jangan elektro, saya takut setrum. Saya pengen kuliah Bahasa Inggris Pak”.

Bapak saya bilang “OKE, tapi tunggu kabar seminggu lagi”

Bagian pertama dari jawaban beliau melegakan. Bagian yang kedua, agak meresahkan. Seminggu? Untuk apa?

Ternyata beliau perlu seminggu untuk mencari pinjaman, untuk uang sumbangan kuliah dan UKT.

Beliau tidak berpikir apakah, investasi beliau tepat? Sampai sekarang, saya juga tidak pernah tahu apakah hutang itu sudah lunas atau belum. Tapi beliau seperti memiliki dimensi tersendiri tentang pentingnya PENDIDIKAN.

Dan itu suatu dimensi yang tidak akan pernah saya lupakan.

Bahwa sebagai seorang Bapak beliau tidak pernah bertanya:

-Kuliah itu penting atau tidak?

-Nanti kuliahmu bisa menjamin pekerjaan atau tidak?

-Nanti kuliahmu bakalan menjamin kamu jadi sukses atau tidak?

Beliau hanya mengatakan “OKE, dan berikan waktu saya seminggu” Dan beliau menepati janjinya. Beliau mengantar saya menggunakan motor bututnya, untuk daftar ulang dan melunasi uang bangunan serta UKT yang dibutuhkan. Saya juga yakin beliau masih harus gali lobang dan tutup lobang untuk memastikan saya lulus dan menyandang gelar sarjana.

Flash forward di hari ini.

Ada empat tagihan yang masuk ke whatsapp saya di hari yang berurutan. Biaya masuk SMP Bilingual, SPP untuk satu bulan pertama, tagihan buku paket semester 1&2, serta tagihan seragam sekolah. Pesannya cukup menggetarkan, (emang kebetulan HP nya mode getar)

Dan saya mengingat apa yang dikatakan Bapak saya saat itu. “Apapun yang saya lakukan untuk kamu sekarang. Kamu harus berikan yang sama pada anakmu.”

Dan sekarang saya OTW transfer untuk membayar semua tagihan itu dengan pesan yang sangat kuat bahwa, tidak ada yang terlalu mahal untuk pendidikan anak saya.

HP saya bergetar lagi. Oh, ada whatsapp dari istri saya.

“Yank. Laptop anakmu tidak bisa dipakai di sekolah yang baru. Harus beli baru. Bisa?”

Saya mulai mengetik “OKE, tapi beri saya waktu seminggu….” dan belum saya send.

Tinggalkan komentar