Menjadi Dosen: Disukai atau Dibenci?

Menjadi dosen adalah profesi yang penuh dengan kontradiksi, dihormati dan dihargai oleh banyak orang, namun tak jarang juga menjadi sasaran keluhan dan cemoohan. Di satu sisi, dosen memiliki kekuatan besar dalam hal pengetahuan. Mereka adalah penjaga ilmu yang mampu membimbing dan menginspirasi generasi berikutnya. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat seorang mahasiswa berkembang berkat bimbingan mereka. Bayangkan, seorang mahasiswa yang dulu kebingungan membedakan mana yang harus dibubuhkan, “aku” atau “saya”, kini menjadi jurnalis handal berkat dosennya. Luar biasa, bukan?

Selain itu, dosen menikmati kebebasan akademik yang memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi bidang yang mereka cintai, melakukan penelitian, menulis, dan mengejar ketertarikan intelektual mereka tanpa batasan yang ketat. Interaksi dengan mahasiswa yang bersemangat dan penuh energi juga menjadi salah satu hal yang paling memuaskan. Diskusi dinamis dan ide-ide baru yang dihasilkan dari kelas memberikan dorongan intelektual yang luar biasa. Terkadang, ada saja mahasiswa yang mengajukan pertanyaan seperti, “Pak, kalau lubang hitam bisa menghisap segalanya, kenapa kita tidak pakai untuk menghisap utang negara?”

Namun, di balik layar, dosen sering dibebani dengan tugas administratif yang menumpuk. Dari mengisi laporan, merancang kurikulum, hingga menghadiri rapat-rapat yang tak ada habisnya. Beban ini bisa menguras energi dan mengalihkan fokus dari tugas utama mereka: mengajar dan meneliti. Sering kali, dosen harus bergulat dengan spreadsheet lebih sering daripada mereka bergulat dengan konsep-konsep teori yang rumit. Ekspektasi yang tinggi dari mahasiswa, orang tua, dan institusi juga menjadi tekanan tersendiri. Mahasiswa menginginkan nilai tinggi dan bimbingan pribadi, orang tua mengharapkan kesuksesan anak-anak mereka, sementara institusi menuntut penelitian unggul dan publikasi berkelanjutan. Tekanan ini bisa sangat membebani. Bahkan, ada mahasiswa yang berharap dosen bisa menjelaskan materi kompleks dalam satu menit, “Seperti TikTok, Pak, yang penting cepat dan kena di hati!”

Meskipun mereka memegang peran penting dalam pendidikan, dosen sering merasa kurang dihargai. Gaji yang tidak sebanding dengan usaha, kurangnya pengakuan atas kontribusi, dan kritik yang tidak adil dari mahasiswa dan kolega bisa membuat pekerjaan ini terasa pahit. Bayangkan, seorang dosen yang sudah begadang menyiapkan materi kuliah harus menghadapi ulasan seperti, “Pak, materinya sih bagus, tapi suaranya bikin ngantuk.”

Profesi dosen adalah salah satu dari sedikit pekerjaan yang bisa begitu dicintai dan dibenci pada saat yang sama. Kegembiraan melihat mahasiswa sukses dan tantangan intelektual yang ditawarkan oleh pekerjaan ini bisa menjadi sumber kebahagiaan yang luar biasa. Namun, beban administratif, tekanan ekspektasi, dan kurangnya penghargaan bisa membuatnya menjadi profesi yang sangat menantang. Jadi, apakah menjadi dosen itu lebih banyak sukanya atau dukanya? Itu tergantung pada perspektif masing-masing. Bagi mereka yang mencintai tantangan dan memiliki hasrat untuk mengajar, menjadi dosen adalah panggilan hidup. Namun, bagi yang tidak siap menghadapi tekanan dan beban administratif, profesi ini bisa menjadi mimpi buruk. Pada akhirnya, menjadi dosen adalah perjalanan penuh pasang surut yang menuntut dedikasi dan cinta yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan. Terlepas dari semua itu, mungkin kita harus berterima kasih pada dosen yang selalu punya jawaban untuk segala hal, bahkan untuk pertanyaan paling absurd sekalipun, “Bu, kalau gravitasi itu hilang, kita bakal ke mana ya?”

Tinggalkan komentar