Bandara sore itu dipenuhi aktivitas, seperti aliran arus yang tak pernah putus. Di kursi tunggu, tak jauh dari tempat saya duduk, dua wanita bercakap-cakap dengan ekspresi santai. Salah satunya, berambut hitam sebahu, tertawa pelan—duduk sedikit miring dengan sikap yang tampak akrab. Wanita di sebelahnya, lebih tenang, mendengarkan sambil sesekali mengangguk, senyumnya sesekali muncul. Wajah mereka terbuka, penuh kehangatan. Saya memperhatikan mereka sejenak, merasa ada sesuatu yang nyaman dalam percakapan mereka, seperti aroma kopi hangat di tengah keramaian.
“Kenapa nggak mencoba menyapa mereka?” Batin saya mulai bergejolak. Jiwa ekstrover saya seakan menyala. Mungkin, bisa dapat teman baru? Tidak ada salahnya mencoba, bukan?
Dengan hati-hati, saya mendekati mereka, menyela percakapan mereka tanpa terlalu memotongnya.
“Mbak, mau terbang ke mana nih?” tanyaku, dengan nada seakrab mungkin.
Salah satu dari mereka—yang tadi tertawa—memandang sebentar sebelum menjawab, “Jakarta.”
“Oh, Jakarta ya? Saya kira ke Semarang, tadi logatnya kayak Jawa banget.”
“Enggak, ke Jakarta,” jawabnya singkat, senyumnya pudar.
Saya menahan diri, mencoba menjaga obrolan tetap hidup. “Oh, di sini kerja atau liburan, Mbak?”
“Kerja,” jawabnya lagi. Suaranya terdengar datar, tanpa banyak variasi. Tidak ada tanya balik, tidak ada ekspresi lebih.
Percakapan kami perlahan merosot seperti balon yang kehilangan angin. Saya berusaha keras mencari celah, tetapi setiap kata yang keluar terasa seperti menyentuh dinding tak terlihat. Dalam hati, saya mulai bertanya-tanya, apa yang salah?
Mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting, dan kehadiran saya terasa seperti gangguan yang tidak mereka minta. Atau, mungkin cara pendekatan saya terlalu tiba-tiba, atau pertanyaannya kurang tepat? Atau… mungkin saya bau?
Berbagai spekulasi berlompatan di kepala, mengalahkan rasa percaya diri saya yang tadinya menggebu. Saya akhirnya menarik napas panjang dan memutuskan untuk pamit dengan sopan, tersenyum canggung, lalu kembali ke tempat duduk saya. Dalam diam, saya meresapi momen itu.
Biasanya, memulai percakapan dengan orang asing bukanlah masalah besar bagi saya. Kadang, percakapan semacam ini membawa pertemanan baru; kadang hanya sekadar “small talk” untuk membunuh waktu. Tapi hari ini terasa berbeda, ada sesuatu yang berubah.
Mungkin kita sekarang lebih selektif dalam berkomunikasi, hanya mau membuka diri ketika ada urusan atau transaksi yang jelas. Jika tidak ada manfaat langsung, apakah kita otomatis menutup diri? Saya mulai bertanya-tanya, apakah ini yang disebut “makhluk sosial pragmatis”? Semoga saya salah, karena di lubuk hati saya masih percaya bahwa manusia diciptakan untuk saling terkoneksi—entah dengan transaksi atau tanpa transaksi.
Dan kamu, pernahkah kamu merasakan hal yang sama? Mungkin kita perlu melihat lebih dalam, apakah kita benar-benar hanya berbicara dengan orang lain karena ada untung ruginya?
Sampai saat ini, saya masih belum punya jawabannya. Tapi mungkin, kita semua perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah manusia masih menjadi makhluk sosial, atau sekarang kita hanya makhluk sosial yang pragmatis?
Wallahualam


Tinggalkan komentar