A short story by H. Pratama
“Hari ini pokoknya aku harus ngegym,” kataku dalam hati. Kalimat yang sudah kuucapkan entah untuk keberapa kalinya minggu ini, dan seperti biasa, terus gagal kutepati. Kemarin alasannya kerjaan. Kemarinnya lagi pegal-pegal. Padahal alasannya jelas: pertama, di umur yang makin “dewasa” ini, aku harus menunda kematian semampuku, termasuk lewat olahraga. Kedua, aku sudah terlanjur bayar keanggotaan gym enam bulan. Aku benci rugi.
Dengan tekad setengah matang, kutekan tombol starter motor matic tuaku. Motor ini lebih tua setahun dari anakku yang sebentar lagi remaja. Dan ya, motor ini masih menyala. Kalian para pembaca tak perlu khawatir. Aku sudah punya mobil: dua malah, satu buatku dan satu buat istriku. Aku tahu, sebagian dari kalian mungkin khawatir aku termasuk kaum yang terlalu gengsi buat naik motor tapi terlalu boros buat ngegym. Santai saja. Aku pakai motor ini karena gym-nya dekat. Lagipula, memang begitulah nama motorku: motor minimarket.
Setengah jalan ke gym, aku mulai ragu. Cuaca mendung dan gerah. Rintik hujan mulai turun. Tapi, ya sudahlah, sudah kadung di jalan. Bablasin saja.
Sampailah aku di bagian muka gym. Resepsionis tanya basa-basi kepadaku. “Halo Kak. Udah lama gak keliatan ya?” Tampaknya mereka peduli padaku. Padahal menurut perhitunganku, mereka sangat bahagia jika ada member yang lebih rajin membayar daripada berangkat ngegym. Tapi aku belum seputus asa itu dalam memandang kehidupan. Aku paksakan untuk menganggap sapaan itu tulus dari hati mereka dan bukan sekadar SOP saja.
Apakah aku masih pantas dipanggil Kak? Itu urusan lain.
Aku melangkah ke ruang utama gym dan di situlah hatiku bergetar terserang kemalasan dan trauma. Apa aku harus mengulangi lagi mengangkat besi-besi itu dengan hitungan yang sudah ditentukan oleh apps gratis di HP-ku. Pegal dan bosan setengah mati melintas di benakku. Aku membatin, “Enak juga ya kalau punya PT. Pasti ada yang mengarahkan dan memotivasi.” Tapi dasar aku. Untuk memiliki seorang PT (Private Trainer), tentunya aku sendiri masih terlalu pelit. Anehnya adalah, aku sendiri adalah seorang corporate trainer, dan aku juga tidak suka kalau klienku “pelit”.
Mataku melirik ke arah threadmill. Inilah tempat di mana orang-orang seusiaku berada. Terlalu malas untuk angkat beban, tetapi terlalu malu untuk stay di rumah. Maka threadmill menjadi jawabannya. Aku pun selalu tersenyum sendiri setiap melihat threadmill di hadapanku. Sebuah trivia random, menyusup ke pikiranku bahwa dulunya threadmill diciptakan bukan untuk alat kesehatan tapi alat untuk menyiksa narapidana. Threadmill saat itu disambungkan ke penumbuk gandum atau alat penimba air. Itulah salah satu knowledge berharga yang aku dapatkan dari scrolling TikTok.
“Ah, Masa threadmill lagi. Threadmill lagi.” Hatiku berontak. Threadmill bagiku seperti orang yang berangkat ke gym tapi tidak tahu apa yang diinginkan. Threadmill ibaratnya jalan keluar bagi orang yang putus asa. Aku gak mau pakai threadmill. Tapi aku juga gak mau angkat beban. Harus ada solusi sekarang juga. Tapi apa?
Ohhhhhh…. Aku teringat bahwa keanggotaan gym ini juga meliputi kelas-kelas gratis. Aku melirik pengumuman jadwal kelas yang ditempel di dinding. Kalau aku beruntung aku akan menemukan kelas-kelas macho seperti Body Combat atau Muathay. Dua-duanya bukan kelas fighting yang serius. Kelas itu seperti simulasi perkelahian dalam bentuk Senam Kesegaran Jasmani. Atau bisa disebut juga Zumba yang dibumbui pukulan bayangan dan tendangan ala kadarnya. Uniknya, pada stage tertentu dari kelas ini, biasanya instruktur akan bilang “Coba bayangkan seseorang yang anda paling sebelin di dunia ini, kemudian lakukan ini….. kepadanya”. Yang dimaksud dengan “ini” adalah gerakan seakan-akan memukuli muka orang khayalan ini dengan tanpa henti. Mengikuti perkataan itu, muka instruktur mulai serius sembari memukuli wajah khayalannya. Peserta yang lain juga melakukan hal yang sama. Dan, Aku … juga. Aku tidak tahu siapa yang mereka bayangkan. Tapi aku punya wajah spesifik yang ingin aku pukuli. Kalian juga pasti punya wajah yang ingin kalian pukuli di pikiran kalian. You know whom.
Aku lihat lagi di pengumuman gym itu baik-baik. Yang jelas, tidak ada kelas “pukul-pukulan” hari ini. Yang tersedia hanyalah kelas Pilates. Okay … aku pernah dengar kelas ini tapi aku belum pernah ikut. Dalam bayanganku, Pilates adalah Yoga tapi bukan Yoga. Tentunya jika memang demikian, Pilates adalah olahraga melanggar prinsipku dalam mengikuti kelas kebugaran. Selama ini, aku hanya mau ikut kelas yang macho. Walaupun aku gak macho-macho amat, tapi aku juga tidak mau diidentikkan dengan gerakan gemulai.
Otakku mulai nge-glitch. Gak mau angkat beban. Gak mau threadmill. Tapi aku juga gak mau kelas yang gemulai. Karena sudah terlalu lama membiarkan pikiranku nge-hang, aku memberanikan diri bertanya ke resepsionis. “Maaf Mbak. Emangnya cowok boleh ikut kelas Pilates?”. Jawaban dari resepsionisnya tentu saja, “Boleh banget kak”. Ya walaupun aku sudah tahu jawabannya pasti boleh, tapi aku butuh dengar langsung dari dia untuk push keputusanku hari ini. Yak, aku mau ikut Pilates, daripada gabut.
Aku berlari dan hampir tersandung di depan studio gym karena sebentar lagi sesi segera dimulai. FYI, kalau aku telat lebih dari 5 menit, instruktur berhak mengusir aku dari kelas. Dan akibatnya, aku dianggap No Show. Kalau sudah booking kelas dan dianggap No Show, maka selanjutnya aku akan dibanned gak boleh ikut kelas selama seminggu. Sungguh gym ini lebih galak dari universitas tempat aku mengajar. Secara umum, aku kadang-kadang suka kedisiplinan ini. Makanya aku tidak komplain.
Okay. Aku udah masuk studio. Dan aku tidak telat. Tiga menit lagi kelas dimulai dan presensiku aman. Aku tengok kanan kiri. Siapa tahu ada satu atau dua cowok yang nyasar ke situ. Setidaknya kalau ada mereka, aku tidak merasa terlalu awkward. Aku sudah melakukan pengintaian 360 derajat dan hasilnya nihil. Aku satu-satunya pria di ruangan itu. Terlanjur basah, ya sudah mari main Water Boom.
Aku melihat wanita-wanita dengan berbagai rupa di situ. Ada yang tua ada yang muda. Ada yang fashionable dan ada yang tidak. Ada yang pakaiannya sangat tertutup dan ada yang agak terbuka. Ada hal yang membuat aku khawatir. Aku khawatir, mereka yang memakai pakaian agak menunjukkan kulit, menjadi galau. Karena biasanya tidak ada lelaki di kelas ini. Eh kali ini ada. Dan itu aku. Aku jadi penyebab ketidaknyamanan mereka. Aku bisa merasakan kecemasan itu di mata mereka ketika beberapa kali para wanita itu melirik kepadaku. Bukan lirikan yang positif. Tapi lirikan yang menggabungkan antara kecewa dan curiga. Aku seperti polisi cepek yang hadir di pertigaan jalan yang sepi: tidak ada gunanya dan cenderung meresahkan.
Lirikan mereka tidak tajam-tajam amat. Tapi sudah cukup untuk membuatku merasa tidak diinginkan. Dalam hatiku aku ingin berkata: jangan terlalu khawatir padaku. Di rumahku, istriku sudah biasa pakai lingerie, di mall dia biasa pakai tank top dan di Bali dia juga biasa pakai Bikini. Sudah delapan belas tahun aku terbiasa melihat kulit wanita yang mulus dan cantik di hadapanku. Aku jamin, pikiran priaku tidak seganas dan seliar Walid. Aku hanya ingin membakar 500 kalori hari ini. Tapi tentunya argumen ini hanya berkelebat di hatiku. Tidak mungkin aku sampaikan pada mereka.
Sejujurnya, aku ingin keluar saja dari studio itu tapi … Ada banyak alasan kenapa aku harus melanjutkan kelas ini. Yang pertama, aku sendiri adalah seorang trainer dan coach yang sudah melatih ribuan orang di kampus dan di perusahaan-perusahaan ternama. Aku selalu menekankan: don’t be a quitter. Kalau kamu sudah mulai sesuatu, maka tuntaskan. Jangan sampai DNA-mu mencatat dirimu sebagai si putus asa. Catatkan di hardware & software kamu bahwa kamu adalah pemenang yang bisa menuntaskan semua proyek hidupmu. Baik kecil, maupun besar. Termasuk proyek Pilates ini. Yang kedua, lagi-lagi aku harus mengingatkan diriku bahwa aku sudah bayar keanggotaan. Kelas ini adalah fasilitas untuk semua member. Aku tidak mau rugi.
Dengan pertimbangan itu, aku memutuskan untuk lanjut mengikuti instruksi. Tapi yang jelas ada kesalahan perhitungan yang telah aku buat. Aku pikir Pilates itu mirip Yoga. Dan aku pikir Yoga itu mudah, jadi Pilates itu pasti mudah. Dan silogisme yang aku yakini itu, ternyata salah kaprah dalam berbagai lapisan berpikir. Fakta yang pertama, pilates itu tidak mirip yoga. Fakta yang kedua, baik Yoga dan Pilates tidak ada yang mendekati konsep “mudah”. Pilates adalah peperangan jiwa dan raga.
Di menit ke sepuluh aku mulai merasakan napas yang engap-engapan. Di menit ke dua puluh aku mulai merasa punggung dan pinggangku sudah tidak mau lagi diperintah oleh otakku. Dan, di menit ke tiga puluh aku merasa kunang-kunang dan beberapa serangga fiktif mulai berkeliling di sekitar kepalaku.
Instruktur pilates mengumumkan, “Bagi yang sudah tidak kuat, boleh keluar sekarang. Presensi aman.” Pengumuman itu menohok harga diriku. Aku diperbolehkan keluar padahal kelas ini belum selesai.
Oh tidak bisa seperti itu … Lebih baik aku mati di sini menjadi martir daripada menyerah. Aku harus memikirkan lukisan besar dari situasi ini. Aku adalah perwakilan dari pria-pria di luar sana. Jika aku gagal menyelesaikan kelas ini, aku akan mencoreng harga diri pria sedunia. Dan ketika aku keluar dari studio ini, tanpa menuntaskan pilates itu, tidak bisa kubayangkan bagaimana pria lain akan memandangku. Mereka pasti akan meremehkanku dan kecewa padaku. Tidak bisa kubayangkan jika keesokan harinya aku harus berkumpul bersama mereka di dekat bangku Bench Press. Kemudian mereka terdiam dan mengacuhkanku. Terlalu malu untuk mengakui keberadaanku. Aku tidak mau jadi simbol kegagalan bagi mereka.
Aku lanjutkan perjuangan ini. Peluhku mengucur. Sebagian dari tubuhku sudah kebas dan sebagian yang lain merasakan nyeri-nyeri parsial. Menit ke lima puluh, gerakan pendinginan sudah mulai dicontohkan oleh instruktur. Sepuluh menit lagi aku akan menyelesaikan perang ini dengan terhormat. Dan ………….. akhirnya kelas Pilates itu selesai.
Perjuangan ini sampai pada ujungnya. Dan aku bersyukur, aku tidak membiarkan diriku menjadi seorang pengecut. Aku keluar menjadi pemenang. Aku keluar dari studio gym dengan kepala mendongak. Beberapa member pria menatapku dengan hormat. Sejumlah kecil dari mereka bahkan mengacungkan jempol walaupun acungannya tidak tinggi-tinggi amat. Yang unik, ada satu pria di dekat lat pull yang memberikan gerakan tepuk tangan tanpa suara. Sungguh penghormatan yang luar biasa.
Perjuangan ini tidak sia-sia. Aku telah menyelesaikan misiku. Tapi ini bukan misi yang terakhir. Aku akan menaklukkan battle yang selanjutnya. Karena demikianlah sifat dari hidup, dari satu pertempuran menuju pertempuran yang lain.
Aku mendekati resepsionis dengan lantang, “Kalau boleh tahu, apakah besok ada kelas Pound Fit?” Aku tidak ingat dengan jawabannya. Tapi aku menangkap kesan dari matanya, bahwa dia sedang mempertanyakan kewarasanku. (HP/22-04-2025)


Tinggalkan komentar