Training Komunikasi Efektif PLN UIT Jatim

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk berbagi dalam sebuah seminar teknis di PLN UIT Jatim, Malang. Acara ini diikuti oleh para engineer, supervisor, dan manajer operasional, orang-orang yang sehari-hari bekerja menjaga kestabilan sistem kelistrikan nasional. Mereka bekerja di garis depan yang menuntut ketepatan teknis sekaligus keteguhan mental, di tengah tekanan kerja tinggi dan standar keselamatan yang tidak bisa ditawar.

Suasana pelatihan pagi itu terasa penuh semangat. Di ruang yang dipenuhi warna seragam PLN dan aroma kopi hangat, saya memulai sesi dengan satu kalimat sederhana yang langsung membuat peserta mengangguk pelan:

“Kita semua bekerja di lingkungan 3 High: High Safety, High Pressure, dan High Performance.

Kalimat itu bukan sekadar jargon, tetapi kenyataan sehari-hari mereka. Di dunia kelistrikan tegangan tinggi, kecepatan komunikasi bisa menjadi penentu keselamatan. Kesalahan satu kata, atau keterlambatan satu menit, dapat berdampak pada sistem yang mengalirkan listrik bagi jutaan orang.

Assumption Kills: Bahaya dari “Saya Kira Sudah Tahu”

Salah satu sesi yang paling banyak memicu diskusi adalah tentang bahaya asumsi dalam komunikasi.
Saya menuliskan di layar besar: “Assumption Kills.”

Lalu saya bertanya, “Berapa banyak dari kita yang pernah salah paham hanya karena mengira orang lain sudah tahu?”
Beberapa peserta tersenyum malu. Ada yang mengangkat tangan, ada pula yang berbisik, “Sering banget, Pak.”

Saya menjelaskan bahwa di dunia operasional, asumsi adalah musuh senyap. Kita sering berpikir orang lain tahu apa yang kita maksud, padahal belum tentu. Kita berasumsi situasi aman, padahal ada risiko tersembunyi. Karena itu, klarifikasi dan konfirmasi menjadi bagian dari budaya komunikasi PLN yang sehat dan profesional.

Waspada Noise dalam Komunikasi

Dalam sesi berikutnya, kami membahas tentang berbagai bentuk “noise” atau gangguan komunikasi. Saya menampilkan beberapa contoh kasus nyata:

  • Saat proyektor mati tiba-tiba di tengah presentasi — itu noise fisik.
  • Saat seseorang sulit bicara karena sariawan dan pesannya tidak jelas — noise fisiologis.
  • Ketika perbedaan nilai atau keyakinan membuat instruksi ditolak — noise ideologis atau budaya.

Diskusi mengalir lancar. Beberapa peserta berbagi pengalaman lapangan: komunikasi yang terganggu karena sinyal radio yang lemah, atau laporan yang salah ditafsir karena tekanan cuaca ekstrem.
Dari situ, kita belajar bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, tetapi mengelola konteks, emosi, dan medium dengan hati-hati.

Teknik SBAR: Bahasa Struktural untuk Dunia Teknis

Untuk mengatasi kompleksitas informasi di lapangan, saya memperkenalkan teknik SBAR—sebuah format komunikasi yang awalnya dikembangkan di dunia medis, kini diadaptasi oleh PLN untuk mempercepat dan mengefisienkan pelaporan teknis.

SBAR terdiri dari empat langkah:

  1. Situation – Jelaskan apa yang terjadi, di mana, dan kapan.
  2. Background – Tambahkan konteks, riwayat, dan kondisi pendukung.
  3. Assessment – Sampaikan analisis atau diagnosis awal.
  4. Recommendation – Ajukan langkah atau keputusan yang disarankan.

Kami melakukan simulasi singkat:
Seorang peserta memerankan Team Leader Jaringan, melapor kepada Manager UPT melalui telepon. Ia melatih cara menyampaikan laporan dalam waktu 90 detik—ringkas, padat, dan bermakna.
Suara tegasnya menggema di ruangan:

“Pukul 15.12, Tower 87–88, reclose gagal dua kali. Cuaca petir. Risiko K3 meningkat. Usul isolasi sementara dan patroli cepat. Mohon keputusan dalam 15 menit.”

Tepuk tangan spontan mengiringi simulasi itu. Para peserta menyadari betapa struktur komunikasi yang baik dapat memangkas waktu dan mengurangi kebingungan.

Prinsip 5C dan Closed Loop Communication

Setelah latihan SBAR, kami beralih ke Prinsip 5C—lima ciri komunikasi efektif:
Clear, Concise, Complete, Correct, dan Courteous.

Saya menjelaskan bahwa seorang profesional sejati bukan hanya cepat dalam memberi perintah, tetapi juga sopan dalam nada, presisi dalam kata, dan rapi dalam pencatatan.

Kemudian kami mempraktikkan Closed Loop Communication, teknik tiga langkah yang memastikan pesan benar-benar diterima dengan utuh:

  1. Pengarah memberi instruksi jelas.
  2. Pelaksana mengulangi untuk konfirmasi.
  3. Pengarah menegaskan atau mengoreksi sebelum eksekusi.

Di dunia operasi kelistrikan, “Saya kira sudah” tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah, “Saya ulangi, siap laksanakan.”

Kesimpulan: Komunikasi sebagai Benteng Keselamatan

Sesi diakhiri dengan refleksi singkat. Saya mengajak peserta berdiri dan menjawab beberapa pertanyaan ringan—tentang musik, film, dan planet. Suasana jadi cair, penuh tawa. Tapi di balik permainan sederhana itu, ada pesan penting:

“Kalau dalam suasana santai saja kita bisa salah dengar atau salah paham, bagaimana kalau sedang dalam tekanan kerja tinggi?”

Pelatihan ini bukan sekadar tentang berbicara dengan benar, tetapi tentang membangun budaya komunikasi yang menyelamatkan.
Di PLN UIT Jatim, komunikasi bukan formalitas — ia adalah benteng pertama keselamatan dan kinerja.

Salam Komunikasi Kepemimpinan
Dr. Hendi Pratama

Tinggalkan komentar