Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengisi pelatihan intensif seharian penuh di perusahaan farmasi Darya Varia. Berbeda dari pelatihan korporat pada umumnya, sesi ini dirancang sangat personal dan interaktif, karena hanya diikuti oleh delapan orang peserta—semua berasal dari divisi Business Development dan Corporate Relations.
Dengan jumlah kecil ini, setiap peserta bisa berlatih, disimulasikan, dan mendapat umpan balik langsung dari saya. Tidak ada tempat untuk “sembunyi” di antara kerumunan. Semua orang benar-benar belajar dengan total engagement.
Dari Seminar ke Intensive Training
Saya membuka sesi dengan pertanyaan sederhana:
“Apa bedanya seminar dengan intensive training?”
Beberapa peserta menjawab cepat: durasi, metode, dan interaksi.
Saya tersenyum. “Benar. Tapi lebih dari itu — di seminar kita mendengarkan. Di intensive training, kita berubah.”
Pelatihan ini memang dirancang untuk membangun kebiasaan komunikasi yang efektif, bukan hanya menambah pengetahuan. Dalam satu hari, kami membedah enam aspek utama dari komunikasi profesional: kesan pertama, pemahaman audiens, kelincahan emosional, gaya komunikasi lintas budaya, persuasi dan negosiasi, serta teknik penyampaian konten yang berpengaruh.
Bagian 1 – Kesan Pertama yang Meyakinkan
Sesi pertama membahas bagaimana memperkenalkan diri dengan kejelasan, kendali tempo, dan relevansi identitas.
Peserta berlatih memperkenalkan diri seperti profesional kelas dunia: menyebut nama dengan artikulasi jelas, menyampaikan peran dan tujuan dengan percaya diri, dan menutup dengan gestur terbuka yang menggambarkan kerendahan hati sekaligus kapabilitas.
Kami merekam latihan-latihan pendek agar peserta bisa meninjau ekspresi wajah, durasi senyum, hingga gerak tangan. Sebagian tampak gugup di awal, tapi di penghujung sesi, gaya bicara mereka mulai stabil dan hangat. Inilah keunggulan pelatihan semi privat: setiap orang terlihat, setiap detail diperhatikan.
Bagian 2 – Mengenali Gaya Komunikasi Orang Lain
Sesi kedua mengajak peserta menggunakan kerangka DISC dan OCEAN personality untuk memahami gaya komunikasi lawan bicara.
Melalui permainan peran, mereka mencoba menebak “warna dominan” koleganya: siapa yang dominan dan cepat mengambil keputusan (D), siapa yang stabil dan sabar (S), siapa yang berorientasi hubungan (I), dan siapa yang analitis (C).
Hasilnya menarik—ternyata sebagian besar peserta berkarakter “influential,” tapi justru itu yang menantang: dua influencer dalam satu ruang kadang sulit mendengar satu sama lain.
Bagian 3 – Emotional Agility dalam Komunikasi
Di sesi siang, kami beralih ke topik Emotional Agility—kemampuan membaca dan memproyeksikan emosi dengan cerdas.
Peserta dibagi menjadi empat kelompok dan memainkan simulasi komunikasi sulit: salah paham antar divisi, klien defensif, atau atasan yang menunda keputusan. Fokusnya bukan sekadar berbicara, tetapi mendengarkan dengan empati, memperbaiki nada suara, dan mengatur ekspresi wajah.
Keterampilan ini sering luput dalam dunia korporat, padahal di sinilah letak seni persuasi yang sesungguhnya.
Bagian 4 – Gaya Komunikasi Lintas Budaya dan Hierarki
Karena peserta berasal dari tim yang sering berinteraksi dengan klien multinasional, kami membahas PDR Framework (Power, Distance, Rank of Imposition).
Kami melatih bagaimana menyesuaikan gaya komunikasi berdasarkan tingkat kekuasaan, jarak sosial, dan beban permintaan.
Dari latihan ini, peserta menyadari bahwa “cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.”
Kami juga menyinggung variasi budaya: apakah lawan bicara berasal dari sistem yang komunal atau individualistik, hierarkis atau egaliter, time-sensitive atau relationship-based.
Semakin seseorang memahami konteks budaya, semakin besar peluang komunikasinya diterima dengan hangat.
Bagian 5 – Persuasi dan Negosiasi
Bagian kelima adalah salah satu favorit peserta. Kami mempraktikkan prinsip persuasi menurut Robert Cialdini, mulai dari reciprocity hingga social proof.
Peserta memainkan simulasi negosiasi bisnis yang menegangkan, tapi tetap dalam suasana edukatif dan menyenangkan.
Mereka belajar bahwa negosiasi bukan tentang siapa yang menang, tapi siapa yang memahami kebutuhan lebih cepat.
Bagian 6 – Seni Presentasi yang Menginspirasi
Sesi penutup berfokus pada teknik penyampaian konten dan penguasaan audiens.
Kami membahas Three Circles of Knowledge—bagaimana seorang presenter harus menguasai pengetahuan inti, pengetahuan tambahan, dan wawasan umum untuk membangun kredibilitas.
Lalu, latihan langsung dilakukan: peserta bergantian menyampaikan mini-presentation berdurasi 5 menit, lengkap dengan gesture, intonasi, storytelling, bahkan humor.
Salah satu peserta menutup dengan humor ringan tentang “judul lagu dangdut yang salah terjemah ke Inggris”—ruangan pun pecah oleh tawa. Humor, dalam konteks profesional, memang bisa menjadi jembatan empati yang elegan.
Refleksi dan Penutup
Sore hari, kami menutup sesi dengan diskusi reflektif.
Bagi saya pribadi, pelatihan ini istimewa karena atmosfernya sangat intens, hangat, dan fokus.
Setiap peserta menunjukkan kemajuan signifikan hanya dalam satu hari—dari cara berdiri, mengatur napas, hingga mengelola kata.
Itulah kekuatan pelatihan semi privat: hasilnya nyata karena interaksi terjadi dalam kedekatan.
Jika perusahaan Anda membutuhkan pelatihan komunikasi dan presentasi yang bersifat intensif, eksklusif, dan langsung aplikatif,
silakan hubungi kami di EDUTRANS.ID.
Kami merancang setiap program dengan prinsip yang sama: praktik nyata, umpan balik personal, dan transformasi profesional.
Dr. Hendi Pratama
Leadership Communication Educator & Founder EDUTRANS.ID


Tinggalkan komentar