Belajar Kepemimpinan ASEAN di JCELEC: JELP 2025 dan Seni Membangun Jaringan Lintas Budaya

Agustus 2025 menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Saya mendapat kehormatan menjadi salah satu pembicara dalam program JELP (Justice and Law Enforcement Leadership Program) di Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCELEC).
Program ini diikuti oleh para pimpinan kepolisian dari berbagai negara ASEAN, bersama sejumlah pelatih senior dari Australia, yang semuanya berkumpul di JCELEC Headquarter untuk mempelajari kepemimpinan tingkat lanjut dan kerja sama lintas budaya di bidang penegakan hukum.


Kepemimpinan yang Melewati Batas Negara

Atmosfer JCELEC pagi itu berbeda—serius, disiplin, tetapi penuh rasa saling menghargai.
Para perwira tinggi dari Thailand, Kamboja, Singapura, Australia, Malaysia, Timor Timur hingga Indonesia duduk berdampingan, berbagi pengalaman dan perspektif tentang bagaimana budaya memengaruhi cara kita memimpin dan berkomunikasi.
Saya membawakan sesi berjudul “Networking Strategies Across Cultures in ASEAN”, dengan fokus pada kemampuan membangun kepercayaan, menavigasi perbedaan komunikasi, dan menciptakan jejaring profesional lintas negara.

Sejak awal, saya menekankan bahwa keberhasilan kepemimpinan regional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kecerdasan lintas budaya (cultural intelligence).


Memahami Pola Komunikasi ASEAN

Kami memulai dengan membedah teori klasik Edward Hall tentang high-context communication — gaya komunikasi yang tidak selalu langsung, tetapi sangat bergantung pada relasi, gestur, dan suasana.
Sebagian besar negara ASEAN, termasuk Indonesia, Filipina, dan Thailand, masuk dalam kategori high-context, high power distance, dan low individualism.
Artinya, komunikasi di kawasan ini cenderung halus, berlapis, dan menjaga keharmonisan.

Kami juga mendiskusikan temuan Geert Hofstede dan Brown & Levinson tentang politeness theory, serta konsep Wierzbicka & Goddard mengenai cultural scripts—bagaimana norma sosial membentuk harapan dalam percakapan.
Bagi para peserta, memahami teori-teori ini bukan sekadar latihan akademik, melainkan alat nyata untuk meningkatkan efektivitas kolaborasi antarnegara.


Norma Budaya di Lapangan

Sesi kemudian berlanjut ke studi perbandingan gaya komunikasi polisi ASEAN.
Saya menceritakan contoh:

  • Perwira Thailand yang menghindari konfrontasi langsung karena nilai kreng jai.
  • Perwira Filipina yang membangun kedekatan melalui humor dan sapaan akrab.
  • Perwira Indonesia yang gemar menjaga “muka” (face-saving) dalam negosiasi.

Para peserta tertawa kecil saat menyadari betapa sering perbedaan kecil ini menyebabkan salah paham dalam koordinasi operasional.
Namun di balik tawa itu, mereka menemukan pelajaran penting: strategi komunikasi yang berhasil di satu negara belum tentu efektif di negara lain.


Kerangka DISC, OCEAN, dan PDR dalam Jaringan Profesional

Untuk memperkuat pemahaman diri, kami berlatih dengan kerangka DISC — menebak gaya komunikasi dominan dan sekunder rekan di sebelah tanpa bertanya langsung.
Beberapa peserta dari Vietnam ternyata bertipe Conscientious, sangat analitis, sementara beberapa dari Malaysia lebih Influential dan ekspresif.
Latihan ini menjadi jembatan yang menyenangkan untuk menumbuhkan empati lintas budaya.

Kami juga membahas model OCEAN Personality dan PDR Framework (Power, Distance, Rank of Imposition) — bagaimana memahami posisi kekuasaan, jarak sosial, dan tingkat permintaan dalam komunikasi profesional.
Dari situ, peserta belajar bahwa konteks menentukan nada, tempo, dan pilihan kata dalam setiap interaksi antarnegara.


Kunci Keberhasilan: Cultural Humility

Menjelang akhir sesi, kami merangkum satu pesan besar:

“Tidak ada satu cara komunikasi yang berlaku untuk semua budaya. Yang paling penting adalah cultural humility — kerendahan hati untuk menyesuaikan diri.”

Para perwira senior dari Australia dan ASEAN berbagi kisah kerja sama lintas batas—mulai dari koordinasi investigasi hingga operasi gabungan.
Semua sepakat bahwa kepercayaan lahir dari kesediaan untuk memahami, bukan menguasai.


Refleksi dan Penutup

Bagi saya pribadi, menjadi bagian dari JELP 2025 di JCELEC merupakan pengalaman luar biasa.
Melihat para pemimpin penegak hukum dari berbagai negara duduk bersama, berdiskusi dengan hormat, dan belajar dari satu sama lain adalah bukti nyata bahwa ASEAN tidak hanya wilayah geografis, tetapi juga komunitas nilai.

Saya pulang dengan keyakinan baru: bahwa komunikasi lintas budaya bukan sekadar topik seminar, melainkan fondasi perdamaian dan kolaborasi regional.

Jika institusi Anda ingin mengembangkan pelatihan kepemimpinan dan komunikasi lintas budaya dengan pendekatan yang aplikatif, berakar pada riset, dan berorientasi pada diplomasi profesional,
silakan hubungi kami di www.edutrans.id.
Kami siap membantu menumbuhkan pemimpin yang berpengaruh, adaptif, dan berjiwa global.


Dr. Hendi Pratama
Leadership Communication Educator & Founder EDUTRANS.ID

Tinggalkan komentar