Tanggal 7 September 2025 menjadi salah satu hari yang berkesan bagi saya. Saya berkesempatan mengisi seminar “STEM and Society 5.0” di Universitas Brawijaya, Malang—sebuah kampus yang selalu menjadi simbol intelektualitas muda dan semangat perubahan.
Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai jurusan, bukan hanya sains dan teknik, tetapi juga sosial dan humaniora. Tema kami sederhana tapi mendalam: bagaimana Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) bisa berkontribusi pada masyarakat di era Society 5.0—sebuah dunia di mana manusia dan teknologi hidup berdampingan untuk menciptakan solusi kemanusiaan.
Dari STEM ke Society 5.0: Logika di Atas Mistis
Saya memulai sesi dengan sebuah ajakan yang agak menggoda:
“Kalau kalian ingin menjadi bagian dari masa depan, berhentilah berpikir mistis—mulailah berpikir logis.”
Pernyataan ini langsung memancing tawa, tapi juga memunculkan keheningan reflektif. Saya menjelaskan bahwa berpikir logis bukan berarti menolak keyakinan, melainkan menyusun argumen dengan bukti, data, dan struktur berpikir yang sistematis.
Seorang ilmuwan STEM sejati bukan hanya pintar menghitung, tetapi juga mampu membedakan mana fakta, opini, dan hoaks.
Di tengah derasnya arus informasi digital, keingintahuan ilmiah menjadi benteng terakhir agar manusia tidak mudah termakan narasi tanpa dasar.
Itulah sebabnya, masyarakat 5.0 membutuhkan warga yang rasional, bukan hanya pengguna teknologi.
Melatih Cara Berpikir Ilmiah Lewat Kasus Nyata
Salah satu bagian paling menarik dari sesi ini adalah ketika saya mengajak peserta berpikir seperti ilmuwan melalui studi kasus sederhana:
“Mengapa ada pasien yang meninggal setiap malam Jumat di rumah sakit ini?”
Pertanyaan itu bukan misteri mistis, melainkan tantangan analisis logis.
Bersama peserta, kami membedah kemungkinan penyebabnya dengan metode Root Cause Analysis (RCA) menggunakan diagram fishbone.
Dari situ muncul berbagai hipotesis—mulai dari pola kerja shift malam, peralatan medis, hingga sistem ventilasi ruangan.
Latihan ini membuktikan satu hal: ilmuwan sejati tidak cepat percaya pada fenomena aneh; mereka mencari sebab dengan data, bukan dengan duga-duga.

Menjadi Ilmuwan di Dunia yang Digerakkan Influencer
Setelah latihan berpikir kritis, saya mengajak peserta merenungkan realitas baru di dunia digital:
Apakah semua influencer adalah ahli?
Apakah semua yang dikatakan influencer pasti benar?
Apakah video satu menit bisa menggantikan kuliah delapan semester?
Pertanyaan ini memantik perdebatan kecil di auditorium. Banyak mahasiswa mengakui bahwa perhatian publik kini lebih mudah dimenangkan oleh kecepatan dan hiburan ketimbang kedalaman pengetahuan.
Namun saya menegaskan bahwa kecepatan tidak boleh menggantikan kredibilitas.
Seorang ilmuwan abad ke-21 tidak cukup hanya pintar di laboratorium; ia juga harus tahu cara berkomunikasi, membuat konten edukasi, dan memahami algoritma media.
Dengan begitu, pengetahuan tidak berhenti di jurnal, tapi mengalir ke masyarakat.
Ilmuwan yang Tahan Gelombang dan Relevan di Era Digital
Di bagian akhir sesi, saya menantang peserta untuk menjadi ilmuwan yang berani tampil di ruang publik.
Seorang ilmuwan STEM masa kini harus memiliki mental baja, karena sering kali yang dihadapi bukan kritik akademik, melainkan gelombang keacuhan.
Namun, seperti yang saya sampaikan,
“Kalau ilmuwan diam, maka ruang publik akan diisi oleh orang yang lebih berisik tapi kurang berdasar.”
Menjadi komunikator sains yang baik bukan berarti menjadi selebritas, melainkan menjadi jembatan antara ilmu dan masyarakat.
Generasi muda harus siap bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga mengarahkan teknologi agar tetap berpihak pada kemanusiaan.
Refleksi dan Harapan
Sore itu, ruangan seminar Universitas Brawijaya penuh energi dan optimisme.
Saya melihat mata-mata muda yang haus belajar, bukan sekadar untuk nilai akademik, tetapi untuk memahami peran mereka di tengah perubahan zaman.
Bagi saya pribadi, mengajar di kampus ini selalu terasa seperti menyiram benih logika di tanah yang subur.
Jika universitas lain ingin menyelenggarakan pelatihan dengan tema serupa—mengasah kemampuan berpikir kritis, komunikasi ilmiah, dan literasi digital di era Society 5.0—
silakan hubungi kami di www.edutrans.id.
Kami siap membantu mencetak generasi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berpengaruh dan berintegritas.
Dr. Hendi Pratama
Leadership Communication Educator & Founder EDUTRANS.ID


Tinggalkan komentar