Pada akhir Juni 2025, saya mendapat kesempatan untuk mengisi pelatihan “Strategic Speaking for Negotiation” bagi para pegawai Jasa Raharja Jawa Tengah.
Peserta berasal dari berbagai bagian yang sehari-hari berhadapan langsung dengan masyarakat—mulai dari pelayanan klaim, koordinasi lapangan, hingga komunikasi antarinstansi.
Sesi ini terasa istimewa karena seluruh peserta datang dengan semangat ingin memperbaiki cara mereka berkomunikasi, bukan sekadar agar terdengar sopan, tetapi agar lebih strategis dan berdampak.
Prinsip Grice: Fondasi Komunikasi Efektif
Saya memulai pelatihan dengan membahas teori klasik dari filsuf bahasa H. P. Grice (1975)—Cooperative Principle.
Empat maksim Grice menjadi dasar pembicaraan kami:
- Quality – Katakan hanya hal yang benar.
- Quantity – Beri informasi secukupnya, tidak kurang atau berlebihan.
- Manner – Sampaikan dengan jelas dan teratur.
- Relevance – Pastikan setiap kalimat relevan dengan tujuan percakapan.
Peserta mengaitkan prinsip-prinsip ini dengan rutinitas kerja mereka: menjawab pertanyaan masyarakat, menegosiasikan jadwal klaim, atau melaporkan kasus ke atasan.
Kami menyadari bahwa komunikasi di lembaga publik memerlukan keseimbangan antara ketepatan data dan empati manusia.
Mengenali Stakeholder dan Jenis Noise
Sesi berikutnya membahas “Stakeholders Komunikasi.”
Saya mengajak peserta melihat bahwa komunikasi tidak selalu terjadi dengan publik semata.
Kita berkomunikasi dengan diri sendiri, dengan rekan kerja, dengan orang baru, dan dengan masyarakat luas—masing-masing menuntut pendekatan berbeda.
Kami lalu berlatih mengenali berbagai bentuk noise atau gangguan komunikasi:
fisik, psikologis, fisiologis, budaya, ideologis, dan teknologi.
Melalui diskusi ringan, peserta menebak jenis noise dari situasi tertentu—seperti proyektor mati saat presentasi atau salah paham karena perbedaan nilai keagamaan.
Tawa sering muncul, tetapi di baliknya ada kesadaran baru: banyak masalah bukan karena niat buruk, melainkan karena sinyal yang tidak bersih.
DISC dan Gaya Komunikasi Pribadi
Di bagian tengah sesi, kami menggunakan model DISC untuk membaca gaya komunikasi masing-masing peserta.
Ada yang berkarakter Dominant, cepat dan tegas; ada yang Influential, hangat dan persuasif; ada yang Steady, pendengar baik; dan ada yang Conscientious, teliti dan logis.
Peserta kemudian menebak “warna” rekan di sebelahnya tanpa bertanya langsung.
Aktivitas sederhana ini ternyata memicu banyak tawa dan percakapan reflektif—karena banyak yang baru menyadari mengapa beberapa rekan terasa “terlalu cepat” atau “terlalu hati-hati” dalam komunikasi sehari-hari.
Pelajaran utamanya: strategi berbicara yang efektif dimulai dari mengenali diri sendiri dan lawan bicara.

Active Listening dan Radio WII FM
Saya menekankan bahwa berbicara strategis tidak bisa dilepaskan dari mendengarkan aktif.
Kami berlatih mendengarkan dengan mata, telinga, dan empati penuh: mengangguk, memparafrase, memvalidasi emosi lawan bicara, dan menyingkirkan agenda pribadi.
Untuk mengingat prinsip ini, saya memperkenalkan metafora sederhana: Radio WII FM – “What’s In It For Me?”
Pesan hanya akan diterima bila disiarkan pada frekuensi yang relevan dengan kepentingan pendengar.
Inilah inti dari komunikasi publik yang persuasif: bukan sekadar menyampaikan, tetapi membuat orang lain merasa terlibat.
Prinsip dan Simulasi Negosiasi
Masuk ke sesi utama, kami membahas lima prinsip negosiasi efektif:
- Objective Clarity Principle – Jangan berasumsi, pastikan tujuan jelas.
- Reciprocity Principle – Memberi untuk menerima.
- Rarity Principle – Gunakan urgensi dan kelangkaan secara etis.
- Discount Principle – Tawarkan keuntungan yang nyata.
- Benefit Principle – Tekankan manfaat, bukan sekadar fitur.
Peserta kemudian menjalani simulasi yang relevan dengan dunia kerja mereka:
meyakinkan masyarakat agar membayar tepat waktu, menenangkan klaim yang frustrasi, dan menghadapi situasi komunikasi sulit.
Simulasi berlangsung hidup—setiap peserta mempraktikkan peran dengan gaya yang berbeda, dan suasana ruang pelatihan pun terasa seperti arena latihan diplomasi.
Ketika Win-Win Tidak Dimungkinkan
Kami juga membahas situasi “tricky”—saat kondisi tidak ideal untuk hasil win-win.
Misalnya, ketika waktu sangat sempit, sumber daya terbatas, atau nilai dasar pihak lain bertolak belakang.
Dalam situasi seperti itu, kami belajar strategi cadangan: BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement), brinkmanship, hingga walk-away decision.
Peserta menyadari bahwa bersikap tegas bukan berarti tidak sopan, dan bahwa kadang-kadang keputusan terbaik adalah tidak melanjutkan negosiasi sama sekali.
Refleksi dan Penutup
Menjelang akhir sesi, kami menutup dengan latihan “Push Your Limit”—sebuah ajakan untuk keluar dari zona nyaman komunikasi.
Saya selalu percaya bahwa kemampuan berbicara strategis bukan bakat, tetapi hasil latihan sadar.
Para peserta Jasa Raharja Jateng membuktikannya hari itu: mereka datang dengan rasa ingin tahu, dan pulang dengan kemampuan baru untuk berbicara dengan lebih taktis, tenang, dan penuh kendali.
Jika Anda atau institusi Anda membutuhkan pelatihan komunikasi strategis untuk negosiasi dan pelayanan publik,
silakan hubungi kami di www.edutrans.id.
Kami siap membantu organisasi Anda mengubah percakapan sehari-hari menjadi alat profesional yang membangun kepercayaan dan hasil.
Dr. Hendi Pratama
Leadership Communication Educator & Founder EDUTRANS.ID


Tinggalkan komentar