Teknik Mengajar Gen-Z menggunakan AI: Training di Universitas Ciputra Makassar

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kehormatan untuk diundang berbicara di Universitas Ciputra Makassar, salah satu kampus bisnis terbaik di kawasan timur Indonesia.
Kunjungan ini terasa istimewa bukan hanya karena fasilitas dan atmosfer profesional kampusnya, tetapi juga karena semangat dosen-dosennya yang ingin memahami cara mengajar generasi baru di era kecerdasan buatan.

Sesi saya bertajuk “University Teaching Practices in the Era of Gen-Z & AI”, membahas bagaimana dosen masa kini dapat beradaptasi terhadap mahasiswa yang ultra-logis, kritis, dan serba digital.


Menghadapi Generasi Logis dan “Strawberry”

Saya memulai sesi dengan pertanyaan ringan namun reflektif:

“Siapa yang mencetak Generasi Z dan Alpha menjadi generasi ‘strawberry’?”

Pertanyaan itu memancing senyum dan diskusi hangat. Banyak peserta tertawa, tapi sebagian mengangguk pelan—menyadari bahwa tantangan ini tidak hanya datang dari mahasiswa, tetapi juga dari cara kita mendidik.

Saya menjelaskan bahwa Gen-Z bukan generasi yang lemah, melainkan generasi dengan logika kuat dan ekspektasi tinggi terhadap keaslian.
Mereka terbiasa menantang dosen dengan pertanyaan kritis seperti “Kenapa saya harus mempelajari ini?” atau “Kalau AI bisa menjawab lebih cepat, mengapa kuliah masih penting?”
Mereka tidak menolak ilmu, tetapi menuntut relevansi dan kejelasan makna.


Mengajar dengan Energi dan Empati

Salah satu bagian paling hidup dalam sesi ini adalah aktivitas team building.
Saya mengajak para dosen untuk berinteraksi melalui permainan sederhana—melengkapi peribahasa dengan versi kreatif mereka sendiri.
Hasilnya lucu, segar, dan memecah suasana formal. Namun di balik tawa, ada makna penting:

Dosen juga perlu memancarkan energi positif dan empati konstan, agar mahasiswa merasa didampingi, bukan diadili.

Saya menegaskan bahwa emosional presence adalah bagian penting dari pedagogi modern. Mahasiswa tidak hanya mengingat isi kuliah, tetapi juga energi yang kita bawa ke dalam kelas.


AI di Dunia Kampus: Kawan atau Lawan?

Setelah sesi pemanasan yang penuh tawa, kami beralih ke topik yang lebih serius—Artificial Intelligence.
Saya menantang para dosen untuk menjawab tiga pertanyaan reflektif:

  1. Apakah AI bisa salah?
  2. Bagaimana cara kita mengetahui bahwa output AI itu keliru?
  3. Sejauh mana AI boleh digunakan dalam tugas mahasiswa?

Diskusi pun berkembang. Ada yang khawatir, ada yang antusias.
Saya menyimpulkan bahwa AI tidak menggantikan dosen, tetapi menuntut dosen untuk berevolusi.
Mengajar di era ini bukan lagi tentang menjadi sumber pengetahuan tunggal, melainkan menjadi kurator, fasilitator, dan evaluator berpikir kritis.


Desain Pembelajaran yang Relevan

Kami kemudian meninjau prinsip klasik Chickering & Gamson (1987) tentang Seven Principles for Good University Teaching—mulai dari encouraging cooperation hingga respecting diverse learning styles.
Saya menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip itu kini bisa dipadukan dengan pendekatan modern seperti constructive alignment dan PBL (Project-Based Learning) yang melibatkan AI.

Para peserta kemudian saya ajak merancang tugas PBL sederhana dengan format berbasis taksonomi Bloom dan keterampilan abad-21.
Hasilnya beragam: ada yang mengusulkan proyek AI-assisted marketing plan, ada yang membuat simulasi AI-based entrepreneurship case study.
Diskusi ini membuktikan bahwa inovasi pendidikan selalu mungkin—asal dosennya mau bereksperimen.


Refleksi dan Penutup

Mengisi sesi di Universitas Ciputra Makassar menjadi pengalaman yang menginspirasi bagi saya pribadi.
Sebagai kampus bisnis unggulan, Ciputra Makassar membuktikan bahwa kualitas pendidikan bukan hanya tentang gedung megah atau teknologi canggih, tetapi tentang mindset pengajar yang terbuka terhadap perubahan.

Para dosen di sana menunjukkan satu sikap yang jarang saya temui: kerendahan hati untuk terus belajar.
Mereka sadar bahwa mengajar Gen-Z bukan soal mengontrol, tetapi beradaptasi dan membimbing dengan cerdas.

Jika kampus Anda ingin mengadakan pelatihan serupa tentang pengajaran di era Gen-Z dan AI,
silakan hubungi kami di www.edutrans.id.
Kami siap membantu dosen dan institusi Anda membangun sistem pembelajaran yang relevan, humanis, dan berorientasi masa depan.


Dr. Hendi Pratama
Leadership Communication Educator & Founder EDUTRANS.ID

Tinggalkan komentar