Beberapa waktu lalu, saya mendapat kehormatan untuk diundang oleh PT. Bussan Auto Finance (BAF) di Jakarta.
Perusahaan ini dikenal dengan sistem pelatihannya yang solid dan terstruktur, memiliki banyak trainer internal yang bertugas mengembangkan karyawan di seluruh Indonesia.
Namun kali ini, peran saya sedikit berbeda: bukan untuk melatih karyawan baru, melainkan untuk melatih para pelatih itu sendiri — para internal trainer yang selama ini menjadi tulang punggung pengembangan sumber daya manusia di BAF.
Judul sesi kami adalah “Turning Obligation into Passion: Acquiring the Joy of Teaching.”
Tema ini lahir dari pemahaman sederhana bahwa mengajar dan melatih tidak selalu berangkat dari gairah.
Banyak trainer yang awalnya menjalankan tugas ini karena penunjukan, kebutuhan organisasi, atau bahkan sekadar rotasi jabatan.
Namun, saya percaya — dengan pendekatan yang tepat, setiap kewajiban bisa berubah menjadi sumber energi dan kebahagiaan.
Mengawali Sesi: Dari Kewajiban Menuju Kesadaran
Pagi itu suasana ruangan pelatihan terasa hangat dan penuh tawa.
Kami memulai dengan kegiatan sederhana — bernyanyi, bergerak, dan saling sapa dengan ekspresi yang lepas dari rutinitas.
Saya selalu percaya bahwa pelatihan yang baik dimulai dari tubuh yang rileks dan hati yang terbuka.
Ketika suasana sudah cair, saya menantang para peserta dengan satu kalimat pembuka yang langsung mengundang tawa sekaligus refleksi:
“Siapa bilang trainer tidak butuh dilatih?”
Beberapa peserta mengangguk pelan. Sebagian lainnya tersenyum, mungkin merasa kalimat itu menohok tapi benar.
Saya melanjutkan, “Bahkan pelatih sepak bola terbaik di dunia pun punya pelatih. Begitu juga dengan kita. Karena siapa pun yang berhenti belajar, berhenti berkembang.”
Dari titik itu, pelatihan mulai bergulir dengan suasana yang hidup, interaktif, dan penuh pertukaran ide.
Para trainer yang terbiasa memberi arahan kini justru menjadi peserta yang haus untuk belajar kembali.
Ikigai: Menemukan Makna dalam Profesi Pelatihan
Sesi berikutnya membahas konsep Ikigai — filosofi Jepang tentang menemukan makna hidup di pertemuan antara apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang memberi nilai bagi orang lain.
Saya mengajak peserta merenungkan: Mengapa Anda menjadi trainer?
Apakah karena perintah atasan, karena ingin membantu orang lain, atau karena ingin melihat perubahan nyata di sekitar Anda?
Kami mendiskusikan satu per satu pelajaran utama tentang passion:
- Passion tidak secara otomatis membuat seseorang ahli. Semangat tanpa disiplin hanyalah percikan sesaat.
- Passion membuat seseorang bertahan berlatih, bahkan saat orang lain mulai lelah.
- Lebih baik tidak terlalu passion tapi profesional, daripada sebaliknya.
- Gabungan passion dan profesionalitas menghasilkan energi yang paling eksplosif dan produktif.
Banyak peserta tersenyum saat mendengar poin terakhir. Salah satu dari mereka berkata,
“Kadang kami merasa jenuh karena materi pelatihan sama terus, tapi ternyata yang perlu diperbarui bukan materinya — melainkan diri kami sendiri.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan terdiam sejenak. Dan saya mengiyakan dengan lembut:
“Benar. Trainer sejati bukan yang punya banyak slide, tapi yang punya banyak cara untuk menyalakan semangat orang lain.”
Guru Tidak Bisa Membuat Pandai
Sesi kemudian beralih pada hakikat peran seorang trainer.
Saya menampilkan satu kalimat yang menjadi inti pelatihan hari itu:
“Guru atau trainer tidak bisa membuat orang pandai. Kita hanya bisa memfasilitasi prosesnya.”
Kami membahas bagaimana belajar bukan proses memindahkan ilmu, tetapi menciptakan pengalaman.
Trainer bukan pengisi wadah kosong, melainkan pemantik rasa ingin tahu.
Saya mengajak mereka meninjau ulang Taksonomi Bloom, mulai dari level terendah — mengingat, memahami, menerapkan — hingga ke level tertinggi — menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Kami membahas bahwa tugas trainer bukan hanya memberi “jawaban benar”, tapi membimbing peserta untuk menemukan pertanyaan yang lebih baik.
Dalam satu aktivitas, saya meminta peserta menulis satu hal yang mereka sukai dari trainee-nya, bukan kekurangannya.
Awalnya mereka bingung, tapi kemudian satu per satu menulis hal-hal sederhana: rajin, sopan, cepat belajar, penuh semangat.
Saya tersenyum dan berkata,
“Kalau kita mulai pelatihan dengan mencari kelebihan, maka feedback kita akan berubah dari evaluasi menjadi dorongan.”
Konsistensi Energi dan Keseimbangan Diri
Setiap trainer pasti tahu bahwa energi adalah bagian dari performa.
Namun saya menegaskan bahwa energi yang konsisten tidak harus berarti selalu bersemangat.
Yang penting adalah keaslian: trainer yang jujur dengan dirinya sendiri, tahu kapan berbicara dengan kuat, kapan menenangkan suasana, dan kapan mendengarkan dengan tulus.
Kami berdiskusi tentang cara menjaga stamina mental dan emosional agar tetap produktif dalam jangka panjang — dari pengaturan napas, rutinitas refleksi, hingga keseimbangan hidup di luar pekerjaan.
Saya menekankan bahwa trainer yang baik tidak hanya berfokus pada peserta, tapi juga pada kesehatannya sendiri.
Seperti kata pepatah, “You can’t pour from an empty cup.”
Real Assessment: Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Skor
Dalam sesi terakhir, kami membahas topik yang sering terabaikan — Real Assessment.
Bagaimana kita tahu bahwa pelatihan berhasil? Apakah cukup dengan lembar evaluasi atau survei kepuasan?
Saya mengajak mereka melihat lebih dalam:
“Pelatihan yang baik tidak diukur dari seberapa cepat orang paham, tapi dari seberapa lama mereka berubah.”
Kami membahas cara sederhana menilai hasil belajar melalui observasi perilaku, tindak lanjut di tempat kerja, dan percakapan reflektif.
Trainer yang cermat tahu bahwa keberhasilan bukan soal presentasi yang sempurna, tapi progres nyata pada peserta.
Refleksi dan Penutup: Trainer Juga Butuh Dilatih
Menjelang sore, saya menutup sesi dengan satu kalimat yang mewakili seluruh semangat hari itu:
“Trainer yang hebat bukan yang paling tahu, tapi yang paling terus belajar.”
Pelatihan di PT. BAF Jakarta ini menjadi pengingat bagi saya bahwa profesi trainer adalah profesi pembelajar abadi.
Di tengah tekanan target dan rutinitas, mereka tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas manusia lain — dan itu pekerjaan yang sangat mulia.
Saya meninggalkan ruangan dengan rasa hormat yang dalam kepada mereka: para pelatih yang melatih bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan hati dan keteladanan.
Mereka membuktikan bahwa kewajiban bisa berubah menjadi passion, ketika dilakukan dengan kesadaran dan cinta pada proses belajar itu sendiri.
Jika perusahaan Anda memiliki tim trainer internal dan ingin meningkatkan kemampuan mereka — dari delivery, coaching skills, hingga komunikasi interpersonal —
kami di EDUTRANS.ID siap membantu melalui program “Train the Trainer” yang intensif, reflektif, dan berorientasi transformasi.
Karena setiap trainer yang hebat perlu dilatih ulang — bukan karena mereka kurang tahu, tetapi karena mereka pantas terus tumbuh.
Dr. Hendi Pratama
Leadership Communication Educator & Founder EDUTRANS.ID


Tinggalkan komentar