Saya baru saja mendapatkan sebuah DM yang sangat unik melalui Instagram saya. DM itu ditulis oleh salah satu followers saya yang menanyakan “Pak, kenapa Bapak belajar standup padahal Bapak kan sudah punya pekerjaan?” Saya sempat kaget mendapatkan pertanyaan ini karena ternyata saya membutuhkan waktu yang agak lama untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Malah saya sempat berpikir, oh iya juga ya, saya kan udah punya kerjaan, berarti saya kurang kerjaan donk dengan ikut komunitas standup. Karena jawabannya tidak sesederhana itu, maka saya tuangkan dalam tulisan ini.
Saya dari dulu suka dengan standup comedy. Sejak SUCI pertama tayang di Kompas TV, saya selalu mengikuti perkembangannya dan selalu menjadi penonton setia. Tapi suka menonton dan keinginan untuk mencoba memang beda hakikatnya. Pada SUCI tahun ke empat, saya tergerak untuk mencoba audisi tapi saya mengurungkan niat karena saya tidak menguasai ilmu standup sama sekali. Saya kemudian berniat untuk mengikuti komunitas standup lokal untuk belajar teknik, tapi niat saya urungkan karena terlalu malu. Pikir saya waktu itu, anggota komunitas adalah anak-anak kuliahan, dan saya kan sudah menjadi dosen. Kalau saya tidak lucu dan tampak bodoh, tentu saya akan menjadi bulan-bulanan mereka. Akhirnya keinginan untuk ikut komunitas tertunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Seperti biasa, selalu ada alasan untuk menunda hal yang baik.
Suatu hari saya merasa kelelahan secara jiwa dan raga karena saat itu tahun pertama saya mengambil kuliah S3. Hampir setiap minggu saya menyetir pulang pergi Semarang-Solo untuk kuliah sambil kerja. Saat itu masih belum ada tol sehingga perjalanan memakan waktu 3 jam untuk sekali perjalanan: itu artinya 6 jam PP hanya untuk perjalanan. Ada hari di mana saya sangat suntuk di Solo dan memutuskan untuk menonton open mic lokal di Solo sebagai hiburan saja. Setelah melihat beberapa komika tampil, saya malah tergerak memberanikan diri untuk tampil, dan mencoba memamerkan semua joke tongkrongan yang saya miliki. Saya berani mencoba, karena biasanya joke-joke itu pecah saat saya lempar di kelas. Dan ternyata. Saya ngebom. Alias tidak lucu. Memang benar, standup itu tidak mudah guys. Setiap menit, kita diminta memecah 4 tawa penonton, setara dengan mission impossible saat itu.
Gara-gara kejadian di Solo itu saya jadi trauma untuk mencoba open mic lagi. Sampai akhirnya ada mahasiswa bimbingan skripsi saya yang ngajak saya mampir kafe di Semarang. Katanya di sana adalah basecamp Standup Comedy Kota Semarang (SUCKS). Saya akhirnya memberanikan mampir dan mencoba sekali lagi tampil open mic. Pengalaman di Semarang berbeda. Entah karena tampil di kota sendiri atau mungkin karena ada beberapa mahasiswa saya yang siap tertawa untuk nilai, saya jadi agak pede. Dan walaupun tidak pecah-pecah amat, penampilan saya sedikit memancing tawa penonton. Sejak saat itu saya rutin seminggu sekali open mic di komunitas Semarang (kecuali kalau pas ada acara lain atau pas males hehehe). Sekarang saya sudah 6 tahun menjadi anggota komunitas SUCKS.
Apa manfaatnya belajar standup comedy?
Dari cerita sejarah tadi, memang saya belum menjawab apa alasan dan motivasi saya untuk belajar standup comedy. Tapi menurut saya penting untuk menggambarkan latar belakang mengapa saya bisa tergabung di komunitas. Selanjutnya, inilah beberapa alasan mengapa saya belajar standup comedy:
- Saya ingin menaklukkan rasa takut saya sendiri. Saya selalu merasa lucu di depan kelas atau di depan kawan-kawan sendiri, tapi sudah bertahun-tahun saya menghindari tampil di panggung standup. Saya harus memaksa diri saya untuk menghadapi itu. Push my own limit.
- Saya tersadar bahwa mahasiswa saya tertawa di kelas demi nilai. Istri saya tertawa di rumah demi keutuhan rumah tangga. Kawan-kawan saya tertawa karena sungkan. Kalau saya tidak belajar standup, saya tidak akan pernah tahu saya ini lucu beneran atau tidak.
- Menurut riset, orang yang humoris akan lebih sukses dalam karir dan relationship. Kalaupun tidak lucu di panggung, paling tidak kita-kita yang belajar standup akan naik selera humornya.
- Ternyata teknik standup itu kompleks. Ternyata lucu itu berbasis sains. Maka, belajar standup menjadi tantangan intelektual bagi saya.
- Saya yakin teknik standup ini akan membantu saya untuk membuat kelas saya menjadi lebih menarik, percakapan saya jadi menarik, seminar saya semakin laku, konten saya semakin viral dan kepribadian saya semakin berkembang. Ternyata, semuanya terbukti. Teknik standup terpakai di hampir semua aspek kehidupan saya.
- Seorang standup comedian memiliki tanggung jawab moral untuk mengkritik kondisi sosial. Ini fungsi standup yang jarang orang tahu karena dikiranya standup komedi itu yang penting lucu aja. Padahal, tugas moral sosial ini ada di pakem standup comedy. Saya sangat tertarik dengan fungsi kritik ini karena saya sendiri adalah seorang ilmuwan sosial.
- Di Amerika, para standup comedian memiliki status yang terhormat. Mereka menjadi produser, penulis, sutradara, CEO, pemilik agensi, bintang iklan, dsb. Di Indonesia, gejala itu sudah mulai tampak. Saya juga pengen donk, sukses kayak mereka 🙂
Di luar tujuh poin itu tentu masih banyak manfaat standup comedy. Tapi paling tidak dengan tujuh poin itu saya bisa menjawab pertanyaan unik di DM saya. Bagi teman-teman yang ingin mencoba tampil dan belajar standup comedy silakan hubungi komunitas standup di lingkungan kalian. Selamat mencoba.

Tinggalkan Balasan ke Aditya Nurulhuda Batalkan balasan