Semua masalah itu sesungguhnya sangat ringan, jika terjadi pada orang lain. Oh, tetangga kita ternyata barusan di PHK. Kelihatannya berat sih, tapi kita yakin mereka dapat melaluinya. Wadow, teman kita ternyata selama ini punya pacar yang abusive. Semoga segera sadar dan segera ditinggalkan, ucap kita dalam hati sambil menyeruput kopi.
Tapi saudara-saudara, semua masalah mendadak jadi berat jika itu menimpa kita. Tidak usah jauh-jauh menyebut PHK dan pacar yang abusive, kita ambil contoh aja kesandung karpet di atas panggung. Saya pernah menjadi MC di acara kampus, tiba-tiba kesandung karpet di atas panggung. Karena tidak siap, badan saya kemudian oleng dan gubrak saya jatuh tertelungkup di atas panggung. Ratusan mata memandang. Saya merasa menjadi orang yang paling sial di dunia. Masalah itu berat sekali untuk saya. Mungkin saya sudah puluhan kali melihat model catwalk jatuh terpeleset di runway, rasanya lucu-lucu aja. Beberapa kali malah saya terpingkal-pingkal melihat mereka. Saat hal itu terjadi pada saya, ternyata rasanya seperti tertimpa batu 100 Kg di punggung saya. Itu perasaan saya saja. Jatuh di panggung tidak benar-benar mengancam hidup saya, hanya mengancam muka aja, tapi kok rasanya berat banget.
Besarnya masalah tergantung persepsi kita
Kelihatan jelas bahwa ada gap persepsi ukuran masalah: saat masalah itu menimpa orang lain dan menimpa kita sendiri. Saat suatu masalah menimpa orang lain mungkin masalah itu berbobot 4. Saat masalah yang sama menimpa diri kita nilainya akan menjadi 10. Hal ini jarang kita sadari. Dampak suatu masalah hanya akan terasa berat jika menimpa diri kita.
Misalnya saat kita bergosip tentang kondisi orang lain, baik itu berita benar atau salah, kita merasa itu ringan-ringan saja. Ketika ada orang yang kita gosipin mengeluh tentang gosip itu, kita ya merasa kasian; tapi ya secara umum kita merasa fine-fine aja. Misal kita punya teman cewek dan umurnya awal 20 tahun-an, kok udah bisa beli tas branded dan mobil mewah. Padahal kita tahu orang tuanya bukan dari golongan berada. Kita bergosip, “jangan-jangan dia jual ….. (isi sendiri)”. Saat temen kita itu resah karena gosip itu, kita mungkin berpikir “ya salah sendiri tampil mencolok, kan kita cuman berspekulasi”.
Rasanya tentu berbeda jika kita yang digosipin. Walaupun sebenarnya gosip itu ringan-ringan saja. Tapi rasanya berat sekali menghadapi gosip itu. Saya dulu saat awal-awal menikah memang mengalami kesulitan finansial dan tinggal di kos-kosan bersama istri. Tapi Alhamdulillah, pada bulan ke-7 pernikahan, saya mulai dapat proyek mengajar Bahasa Inggris di perusahaan-perusahaan. Pekerjaan saya 70% di kos menyiapkan bahan ajar, dan 30%-nya ngajar. Honornya pun lumayan, tapi sekilas saya tampak sering nganggur di kos. Plus, saya mulai meng-hire teman-teman saya. Bapak kos saya melihat saya mulai beli motor baru dan sering belanja di Supermarket. Tiba-tiba gosip tersebar bahwa saya melihara Tuyul. Tentu saja hal ini sangat menyinggung, tuyulnya. Enggak donk … maksudnya menyinggung saya. Padahal gosip ini ya tidak seberat kalau kita dituduh punya Sugar Daddy kan ya. Tapi rasanya kok berat banget. Sampai saya harus menerangkan ke Bapak Kos, Ibu Kos dan Teman-Teman kos bahwa saya dapat proyek ngajar di perusahaan-perusahaan. Ealah, ngapain juga saya sibuk ngejelasin gitu yak. I didn’t owe anyone explanation lho.
Penyebab masalah kita tampak lebih berat
Dalam dunia psikologi, fenomena ini berasal dari konsep yang disebut sebagai Endowment Effect. Teori ini menyebutkan bahwa nilai suatu benda akan meningkat menjadi berkali-kali lipat apabila benda itu terkait dengan diri kita. Sebenarnya gak cuman terkait benda sih, tapi terkait dengan hal apapun yang menjadi milik kita.
Ilustrasinya gini. Jika ada yang bertanya, siapakah ibu terbaik di dunia? Maka jawabannya adalah Ibu kita sendiri. Ini merupakan jawaban yang sangat tidak objektif. Coba ada lomba ibu terbaik di dunia, lombakan saja kemampuan masak, kemampuan menenangkan anak yang gundah, dll. Kira-kira, ibu kita masuk nomor berapa? Boro-boro nomor satu. Dengan jumlah penduduk bumi yang lebih dari 7 Milyar ini, kita sudah beruntung jika Ibu kita bisa masuk Ibu terbaik nomor sejuta.
Ya oke-oke. Contoh di atas berlebihan. Kita kasih contoh yang lebih riil. Kalian pernah nggak jual motor bekas kalian? Kalian mulai cek-cek nih harga motor pribadi kalian di web-web mokas. Terus kalian membatin “waduh masa murah banget sih harga pasarannya?”. Padahal pasarannya ya segitu. Tapi kalian kemudian mengeluh, “motor ini ada nostalgianya, motor ini yang menemani saya saat susah, motor ini dibeliin almarhum bokap”. Lah, pembeli mokas mah tidak peduli memori anda. Dia lebih peduli kondisi motor anda dan apakah pajaknya masih panjang atau enggak. Maaf lho ya, bukannya saya tidak bersimpati atas kenangan anda dan motor anda. Kalau kalian jadi pembeli kan kalian juga gak bakal give a sh*t to the nostalgia of the seller. Hehehehehe.
Hal yang sama juga berlaku dengan penderitaan dan masalah. Saat penderitaan dan masalah menimpa orang lain, kita tidak terlalu merasa invest pada masalah itu. Sedangkan kalau masalah itu menimpa kita, maka investasi kita pada masalah itu menjadi berlipat ganda.
Cara mengatasi persepsi yang berlebihan
Ketika masalah menghampiri kita, kita jadi tidak fair. Kita mempersepsikan masalah itu sangat besar dan terlalu besar. Oleh karena itu kita harus mulai melakukan penyesuaian agar kita tidak menjadi overthinking dan overstress.
Kiat yang pertama yaitu dengan membuat nilai rata-rata terhadap masalah itu. Tadi saya memberikan contoh di awal artikel ini bahwa jika suatu masalah menimpa orang lain, nilainya paling 4 dan jika menimpa kita jadi 10. Maka, kita rata-rata nilai itu. Jika 10+4=14 maka kita bagi dua jadi 7. Walaupun kita merasa masalah itu bobotnya 10, maka sebenarnya masalah itu maksimal 7.
Kiat kedua, yaitu jangan langsung bereaksi saat masalah itu terjadi. Coba endapkan dulu dan pikirkan dulu. Tunggu sampai efek emosionalnya mereda. Coba kunjungi lagi masalah itu saat kita sudah mulai “dingin”.
Kiat yang ketiga, masalah apapun sebenarnya sangat tergantung pada posisi dan persepsi. Saya tadi sudah mencontohkan tentang jual beli motor bekas. Di persepsi kitab sebagai penjual kita ingin harga motor kita setinggi-tingginya. Hal sebaliknya berlaku untuk pembeli. Apakah pembeli jahat sama kita? Ya enggak. Posisi mereka aja yang berbeda dengan kita.
Kiat yang keempat, yaitu dengan meningkatkan pengetahuan dan referensi. Artikel ini dibuat melalui pembacaan beberapa jurnal dan buku tentang Endowment Effect. Terbukti bahwa belajar dan membaca masih menjadi alternatif terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup kita.
Jadi gimana?
Saya cuman mau mengingatkan bahwa masalah kita kadang tidak sebesar yang kita kira. Kita cuman perlu mengetahui beberapa sudut pandang sebelum bertindak terlalu dramatis atas masalah kita.
Salam, HP.

Tinggalkan komentar