“Aku mau nangis. Aku pengen ketemu kamu” ucap istri saya setiap hari selama tiga bulan lamanya. Saat itu Agustus tahun 2008. Saya mendapatkan beasiswa tunggal ke Australia untuk S2. Beasiswa itu tidak menanggung biaya hidup keluarga. Saya harus berangkat ke Australia sendirian sambil memikirkan cara bagaimana memboyong istri saya ke sana.
Yang namanya masalah dan cobaan, kalau datang memang tidak pakai permisi dan gak pakai tanggung-tanggung. Bayangkan saja, saya baru menikah setahun dan harus meninggalkan istri sendirian di Semarang. Uang beasiswa yang mepet itu juga belum turun-turun. Saat saya harus berangkat ke Australia saya harus berhutang ke Bank sebesar 80 juta. Umur 22 tahun dan saya harus berhutang sebesar itu.
Sampai di Australia, saya masih harus memikirkan cara memboyong istri. Harga tiket pesawat saja mahal. Apalagi harus memikirkan kehidupan per bulan selanjutnya di sana. Saya dengar beasiswa teman sebelah tidak seperti itu. Beasiswanya selalu cair tepat waktu dan biaya hidup keluarga ditanggung. Apakah saya yang terlalu bodoh sehingga dapat beasiswa telat dan pas-pasan begini. Pikir saya saat itu. Padahal seharusnya saya bersyukur karena dapat beasiswa ke LN adalah impian saya. Tapi namanya manusia: jika ada kenikmatan dan kesakitan hadir bersamaan maka kita akan lebih fokus ke kesakitannya. Demikian juga saya saat itu.
Setiap hari saya bertelepon dengan istri. Hanya bisa sebentar, karena pulsa juga mahal. Saat itu belum ada telp WA. Pulsa yang mahal itu juga masih saya beli dengan uang hutang. Tiap hari uang hasil hutang semakin menipis, uang beasiswa tidak kunjung cair. Istri saya tiap hari menangis karena kangen. Saya juga tiap hari menangis karena terhimpit ekonomi. Takut uang hutangan habis dan beasiswa belum cair. Takut tidak bisa membelikan tiket pesawat istri. Takut tidak bisa menghidupi dia setelah itu. Ancamannya adalah 2 tahun LDR.
Setiap hari saya mencari kerja tambahan di Australia, tapi kurang beruntung. Saya mendaftar di toko servis printer, tidak diterima. Mau kerja di coffee shop, ternyata butuh sertifikat TAFE (sertifikat keahlian). Semakin terkatung-katung. Untung masih ada teman lama yang mau menampung saya di sana, gratis. Iya gratis. Tapi kan ya gak bisa lama-lama, masa mau numpang selamanya.
Satu bulan berlalu, tangis istri semakin menjadi. Kok belum ada harapan nyusul. Saya semakin rajin mencari kerja tambahan. Akhir saya dapat kerjaan cleaning service di supermarket. Kerjaan ini lumayan, tapi kurang mencukupi. Saya hanya cleaning service pengganti temen saya yang males kerja (jadi honor dia diambil dia dan saya dikasih sebagian). Jamnya juga sedikit, seminggu hanya 8 jam kerja. Padahal saya bisa kerja maksimal 20 Jam kerja. Belum cukup untuk membeli tiket istri ke Australia.
Tangis istri semakin menjadi di bulan kedua dan kami hampir putus harapan.
Tapi Tuhan memiliki caranya sendiri untuk menghibur hambanya. Istri saya telpon dan mengabari bahwa mobil butut yang kami punya di Indonesia laku lumayan. Mobil butut banget yang sempat saya pikir tidak ada harganya dan tidak mungkin ada yang beli. Tapi ternyata laku pas seharga tiket dan biaya pengurusan paspor/visa.
Istri saya langsung packing dan mengurus visa ke Australia. Kami bertelepon bersorak sorai dan kemudian menangis lagi di ujung pembicaraan. Saya berkata “ya walaupun kamu bisa ke sini, aku belum tahu mau ngasih kamu makan apa dan kita mau tinggal di mana”. Beasiswa tetap telat. Kerjaan juga masih minim. Tempat tinggal juga masih ikut teman.
Istri saya berkata “Aku nggak peduli. Sepedih-pedihnya tidak makan. Masih lebih pedih tinggal berjauhan kayak gini. Seperti neraka di dunia.” Tampaknya, istri saya sudah tidak kuat nangis setiap hari. Jadi mungkin baginya, lapar di negeri orang jauh lebih baik daripada nangis terus-terusan di negeri sendiri.
Singkat cerita, istri menyusul saya di Desember tahun 2008. Saya menjemputnya di bandara Brisbane saat itu dan memeluk dia tanpa rasa malu di tempat publik. Kebahagiaan bertemu dengan orang yang dirindukan, memang nikmat yang luar biasa yang bisa diberikan pada kita manusia.
Bagaimana dengan masalah ekonomi? Tempat tinggal selama di sana? Bagaimana dengan penyesuaian tinggal di sana? Apakah setelah sampai di sana istri saya dan saya tidak pernah bertengkar? Atau malah jadi sering bertengkar? Ya mungkin dibahas lain kali aja kalau tulisan ini rame. Kalau gak rame ya segini aja hehehe.
Btw. Itulah alasan mengapa saya sampai sekarang saya sering menkampanyekan anti LDR. Ya karena sempat jadi korban tekanan batin LDR yang menurut saya amit-amit, jangan sampai ada yang merasakan. Lebay sih. Tapi saya emang trauma LDR. Jadi maafin saya kalau sering bilang “daripada LDR, elu elu pada putus aja” See you next time guys.
XOXO. HP

Tinggalkan Balasan ke nona Batalkan balasan