Yak benar, anda tidak salah baca. Saya pertama kali melihat uang utuh terkumpul di rekening saya sebesar 100 juta adalah ketika saya berumur 24 tahun. Dan memang bukan dari bisnis, tapi dengan cara lain yang tidak pernah saya duga-duga sebelumnya.
Alasan saya menulis artikel ini adalah menampik hipotesis bahwa berbisnis adalah satu-satunya cara untuk mengumpulkan uang secara efektif. Ada cara yang lain juga dan mungkin cara itu tidak terlalu populer atau bahkan tidak diduga-duga.
Saat itu tahun 2008, saya diterima beasiswa S2 ke Australia dan status saya saat itu sudah menikah. Karena sudah menikah, maka saya bawa istri saya ke Australia. Saya berangkat duluan, istri saya menyusul 3 bulan kemudian. Selanjutnya kami mulai struggling karena uang beasiswa mepet dan kami belum mendapatkan pekerjaan. Beasiswa saya hanya cukup untuk menghidupi satu orang dan cairnya juga sering telat-telat.
Beberapa bulan berlalu dan akhirnya saya keterima kerja. Kerjaannya yaitu sebagai cleaning service di kampus saya sendiri. Berangkat kerja jam 12 malam dan pulang dari kerja jam 4 pagi. Rasanya sudah seperti hansip yang jaga malam. Melihat saya kuliah dan kerja malam seperti itu, istri saya tidak tega. Akhirnya dia bilang mau ikut kerja juga.
Saya sempat bilang, udah kerjanya nanti aja kalau ada lowongan yang lebih waras jam kerjanya. Istri saya bersikeras untuk ikut kerja. Akhirnya saya bilang ke bos saya, untuk mendaftarkan satu pekerja lagi. Yaitu istri saya. Kemudian kami berdua menjalani hidup yang tidak teratur. Melek di malam hari sampai pagi, dan siang kami agak kurang normal. Plus, saya masih harus kuliah kadang pagi dan kadang siang.
Istri saya masih coba-coba untuk cari lowongan yang jam kerjanya normal. Alhamdulillah, dia mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan restoran, mulai kerja pukul 6 pagi dan pulang kerja pukul 12 siang. Wah normal nih jam kerjanya. Saya turut berbahagia. Akhirnya istri saya bisa melepaskan pekerjaan cleaning service yang jamnya error itu.
Tapi istri saya berubah pikiran. Dia merasa bisa menjalani dua-duanya. Jadi jam 12 malam sampai jam 4 pagi dia kerja bareng saya di cleaning service, dan jam 6 pagi lanjut ke restoran sampai jam 12 siang. Saya sebenarnya kasihan, tapi dia meyakinkan saya bahwa dia bisa. Dan kami jalani kehidupan seperti itu selama berbulan-bulan berikutnya.
Setiap malam alarm kami berbunyi pukul 11.30 malam. Dan kami masih sangat mengantuk dan kecapekan, tapi kami terpaksa harus bergegas karena harus sampai di tempat kerja pukul 12.00 tengah malam. Hal itu terjadi setiap hari. Pada pagi harinya kami pulang pukul 4 pagi, kemudian istri saya tidur sebentar 1 jam 15 menit dan kemudian saya mengantarkan dia ke restoran jam 6 pagi. Kemudian saya persiapan kuliah atau kadang tidur lagi di pagi hari. Parah emang, hidup kami sudah seperti zombie.
Istri saya pernah mengigau jam 5 pagi, mungkin karena capek banget dan ngantuk banget. Dia bilang dia udah gak mau kerja lagi, capek dan pengen segera berakhir perjuangan ini. Dia bilang pengen pulang ke Indonesia. Igauan itu mungkin curhatannya yang tidak pernah terucap. Saat terbangun, dia sudah tidak ingat apa yang dia ucapkan. Tapi hati saya berkata, apa yang dia igaukan itu serius.
Kenapa kami mau hidup seperti zombie seperti itu? Ya karena di Australia kami dibayar per jam untuk pekerjaan kami. Kami mendapatkan sekitar 150 Ribu sampai 180 Ribu per jam kerja. Saya kerja 20 jam per minggu dan istri saya kerja 50 jam per minggu. Gila-gilaan. Jumlah jam kerja istri saya itu termasuk tidak normal karena jam kerja orang Australia saja normalnya 40 jam per minggu. Saya tidak boleh kerja lebih dari 20 jam karena status saya sebagai mahasiswa. Kalau nekat, bisa dideportasi.
Jadi singkat cerita, dalam waktu 5 bulan saja kami sudah punya tabungan lebih dari 100 juta rupiah. Kami hanya kerja, kerja, kerja saja. Pengeluaran juga tidak banyak. Kami jarang makan di luar. Jalan-jalan juga paling ke taman. Beli baju jarang, beli furniture tidak pernah. Jadi cara saya mendapatkan 100 juta pertama saya adalah dengan 1. kerja keras bagai kuda, 2. mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dan 3. memiliki pasangan yang saling menguatkan.
Tentu cara saya ini bukan cara satu-satunya untuk mendapatkan 100 juta berikutnya. Setelah saya pulang ke Indonesia, saya membuka kursusan IELTS dan TOEFL di sebuah ruko di Semarang. Itu juga bisa menghasilkan 100 juta berikutnya. Kemudian saya bekerja menjadi dosen dan bekerja di beberapa posisi jabatan struktural, mendapatkan hibah penelitian, SPPD luar negeri dll juga menghasilkan 100 juta berikutnya. Saat ini saya menjadi konten kreator, mendapatkan undangan pembicara dan beberapa endorse, juga menghasilnya 100 juta berikutnya. Artinya, 100 juta itu bisa datang dari mana saja, tapi kebetulan 100 juta pertama saya bukan dari bisnis.
Jadi untuk para pembaca blog saya, ingat ini “ketika satu pintu tertutup, maka ….. buat pintu sendiri aja hehehehe”. Sampai bertemu di tulisan saya selanjutnya. Jangan lupa subscribe blog ini.
XOXO. Mr. Hendi.

Tinggalkan Balasan ke Ivan R Batalkan balasan